Kamis, 03 Desember 2015

Menurut ALKITAB BABI ITU HARAM ???


Alkitab Perjanjian Lama Melarang Memakan Daging Babi
 
 
Suatau hari, pada saat saya surfing internet, dan tanpa sengaja saya melihat video cuplikan yang mempertontonkan sesuatu yang sangat mengerikan. Ketika seiris daging babi mentah disiram dengan cocacola, cacing-cacing menggeliat keluar dari daging tersebut. Bulu kuduk saya berdiri dan langsung terasa mual diperut saya. Terlebih ketika saya membayangkan seandainya cacing-cacing itu masuk ke dalam perut saya. Terasa mau muntah, sehingga saya segera berpindah ke situs lain.

Sejak saat itu saya bertekad menjelaskan tentang perintah Tuhan mengenai mengkonsumsi daging babi. Ada banyak pertanyaan muncul di pikiran saya sehubungan dengan daging babi. Rasa ingin tahu itu mendorong saya menyelidiki perintah Tuhan sehubungan dengan daging babi.

Banyak orang Kristen tidak tahu bahwa Alkitab, yaitu di kitab Perjanjian Lama, menyatakan bahwa daging babi itu haram. Mereka menyangka hanya di dalam Alquran saja babi itu diharamkan. Sangat mungkin ketidaktahuan ini disebabkan karena banyak orang Kristen tidak pernah membaca kitab Imamat.

Karena di kitab Imamat dinyatakan bahwa daging babi itu haram, maka orang Yahudi sampai hari ini masih tidak memakan daging babi. Mereka sangat ketat mengawasi makanan yang dikonsumsi umat mereka, bahkan mereka mengawasi makanan yang dibawa oleh turis. Seorang teman bercerita, karena ia tidak bisa makan tanpa sambal, maka ketika ke Israel ia tetap membawa sambal, dan ketika sedang makan, ia mengeluarkan sambal dari tas jinjingnya, dan kepergok oleh petugas restoran. Petugas tersebut bertanya, apakah sambal yang dibawanya adalah makanan halal, dan apakah ada mengadung unsur babi ?

Tercatat dalam sejarah dan terlihat di berbagai kelompok masyarakat serta terbukti dalam fakta bahwa suku bangsa primitif sangat suka mengkonsumsi daging babi. Banyak suku bangsa di bumi yang menjadikan babi alat ritual penyembahan mereka. Bahkan ada suku yang suka mengkonsumsi darah babi yang segar.

Mereka tidak mengerti bahwa daging babi, apalagi darahnya yang masih segar, sesungguhnya adalah makanan yang sangat berbahaya. Ada banyak kuman bahkan virus di dalam darah babi yang belum dimasak. Dan yang sangat mengerikan ialah telur cacing pita. Jika telur itu sampai menetas di dalam perut kita, maka itu akan menjadi malapetaka hebat bagi hidup kita.

Kemudian ada yang berkila, jika masalahnya hanyalah kesehatan dan kebersihan, bagaimana jika dimasak dengan cara yang benar hingga betul-betul aman untuk dikonsumsi? Di zaman modern ini, alat memasak sudah sedemikian canggih, bahkan ada yang dengan sistem pressed-cooker sehingga tidak mungkin ada cacing, kuman atau virus yang tersisa.

Kelihatannya pada saat Allah mengharamkan daging babi, itu bukan sekedar kebersihan dan kesehatan. Ada unsur ibadah di dalam pelarangan mengkonsumsi makanan tertentu. Untuk itu setiap orang yang ingin mengikuti perintah Allah secara sempurna, harus berusaha mencari tahu alasan di balik pelarangan mengkonsumsi daging tertentu.

Berikut ini kutipan bagian dari Hukum Taurat
Kitab Imamat 11:1

11:1 Lalu TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun, kata-Nya kepada mereka: 11:2″Katakanlah kepada orang Israel, begini: Inilah binatang-binatang yang boleh kamu makan dari segala binatang berkaki empat yang ada di atas bumi: 11:3 setiap binatang yang berkuku belah, yaitu yang kukunya bersela panjang, dan yang memamah biak boleh kamu makan. 11:4Tetapi inilah yang tidak boleh kamu makan dari yang memamah biak atau dari yang berkuku belah: unta, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah; haram itu bagimu.11:5 Juga pelanduk, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah; haram itu bagimu. 11:6 Juga kelinci, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah, haram itu bagimu. 11:7 Demikian juga babi v hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. 11:8 Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh; haram semuanya itu bagimu. 11:9 Inilah yang boleh kamu makan dari segala yang hidup di dalam air: segala yang bersirip dan bersisik di dalam air, di dalam lautan, dan di dalam sungai, itulah semuanya yang boleh kamu makan. 11:10 Tetapi segala yang tidak bersirip atau bersisik di dalam lautan dan di dalam sungai, dari segala yang berkeriapan di dalam air dan dari segala makhluk hidup yang ada di dalam air, semuanya itu kejijikan x bagimu. 11:11 Sesungguhnya haruslah semuanya itu kejijikan bagimu; dagingnya janganlah kamu makan, dan bangkainya haruslah kamu jijikkan.11:12 Segala yang tidak bersirip dan tidak bersisik di dalam air, adalah kejijikan bagimu. 11:13Inilah yang harus kamu jijikkan dari burung-burung, janganlah dimakan, karena semuanya itu adalah kejijikan: burung rajawali, ering janggut dan elang laut; 11:14 elang merah dan elang hitam menurut jenisnya; 11:15 setiap burung gagak menurut jenisnya; 11:16 burung unta, burung hantu, camar dan elang sikap menurut jenisnya; 11:17 burung pungguk, burung dendang air dan burung hantu besar; 11:18 burung hantu putih, burung undan, burung ering; 11:19burung ranggung, bangau menurut jenisnya, meragai dan kelelawar. 11:20 Segala binatang yang merayap dan bersayap dan berjalan dengan keempat kakinya adalah kejijikan bagimu. 11:21 Tetapi inilah yang boleh kamu makan dari segala binatang yang merayap dan bersayap dan yang berjalan dengan keempat kakinya, yaitu yang mempunyai paha di sebelah atas kakinya untuk melompat di atas tanah. 11:22 Inilah yang boleh kamu makan dari antaranya: belalang-belalang h menurut jenisnya, yaitu belalang-belalang gambar menurut jenisnya, belalang-belalang kunyit menurut jenisnya, dan belalang-belalang padi menurut jenisnya. 11:23 Selainnya segala binatang yang merayap dan bersayap dan yang berkaki empat adalah kejijikan bagimu. 11:24 Semua yang berikut akan menajiskan i kamu–setiap orang yang kena kepada bangkainya, menjadi najis sampai matahari terbenam, 11:25 dan setiap orang yang ada membawa dari bangkainya haruslah mencuci pakaiannya, dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam , 11:26 yakni segala binatang yang berkuku belah, tetapi tidak bersela panjang, dan yang tidak memamah biak; haram semuanya itu bagimu dan setiap orang yang kena kepadanya, menjadi najis. 11:27 Demikian juga segala yang berjalan dengan telapak kakinya di antara segala binatang yang berjalan dengan keempat kakinya, semuanya itu haram bagimu; setiap orang yang kena kepada bangkainya, menjadi najis sampai matahari terbenam. 11:28 Dan siapa yang membawa bangkainya, haruslah mencuci pakaiannya dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam. Haram semuanya itu bagimu. 11:29 Inilah yang haram bagimu di antara segala binatang yang merayap dan berkeriapan di atas bumi: tikus buta, tikus, dan katak menurut jenisnya 11:30 dan landak, biawak, dan bengkarung, siput dan bunglon. 11:31 Itulah semuanya yang haram bagimu di antara segala binatang yang mengeriap. Setiap orang yang kena kepada binatang-binatang itu sesudah binatang-binatang itu mati, menjadi najis sampai matahari terbenam. 11:32 Dan segala sesuatu menjadi najis, kalau seekor yang mati dari binatang-binatang itu jatuh ke atasnya: perkakas kayu apa saja atau pakaian atau kulit atau karung, setiap barang yang dipergunakan untuk sesuatu apapun, haruslah dimasukkan ke dalam air dan menjadi najis sampai matahari terbenam, kemudian menjadi tahir pula. 11:33 Kalau seekor dari binatang-binatang itu jatuh ke dalam sesuatu belanga tanah, maka segala yang ada di dalamnya menjadi najis dan belanga itu harus kamu pecahkan. 11:34 Dalam hal itu segala makanan yang boleh dimakan, kalau kena air dari belanga itu, menjadi najis, dan segala minuman yang boleh diminum dalam belanga seperti itu, menjadi najis. 11:35 Kalau bangkai seekor dari binatang-binatang itu jatuh ke atas sesuatu benda, itu menjadi najis; pembakaran roti dan anglo haruslah diremukkan, karena semuanya itu najis dan haruslah najis juga bagimu; 11:36 tetapi mata air atau sumur yang memuat air, tetap tahir, sedangkan siapa yang kena kepada bangkai binatang-binatang itu menjadi najis. 11:37 Apabila bangkai seekor dari binatang-binatang itu jatuh ke atas benih apapun yang akan ditaburkan, maka benih itu tetap tahir. 11:38Tetapi apabila benih itu telah dibubuhi air, lalu ke atasnya jatuh bangkai seekor dari binatang-binatang itu, maka najislah benih itu bagimu. 11:39 Apabila mati salah seekor binatang yang menjadi makanan bagimu, maka siapa yang kena kepada bangkainya menjadi najis sampai matahari terbenam. 11:40 Dan siapa yang makan dari bangkainya itu, haruslah mencuci pakaiannya, dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam; demikian juga siapa yang membawa bangkainya haruslah mencuci pakaiannya, dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam. 11:41 Segala binatang yang merayap dan berkeriapan di atas bumi, adalah kejijikan, janganlah dimakan. 11:42 Segala yang merayap dengan perutnya dan segala yang berjalan dengan keempat kakinya, atau segala yang berkaki banyak, semua yang termasuk binatang yang merayap dan berkeriapan di atas bumi, janganlah kamu makan, karena semuanya itu adalah kejijikan. 11:43 Janganlah kamu membuat dirimu jijik oleh setiap binatang yang merayap dan berkeriapan dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan semuanya itu, sehingga kamu menjadi najis karenanya. 11:44 Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus, dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan setiap binatang yang mengeriap dan merayap di atas bumi. 11:45 Sebab Akulah TUHAN yang telah menuntun kamu keluar dari tanah Mesir, supaya menjadi Allahmu; jadilah kudus, sebab Aku ini kudus. 11:46 Itulah hukum tentang binatang berkaki empat, burung-burung dan segala makhluk hidup yang bergerak di dalam air dan segala makhluk yang mengeriap di atas bumi, 11:47yakni untuk membedakan antara yang najis dengan yang tahir, antara binatang yang boleh dimakan dengan binatang yang tidak boleh dimakan. “

Ibadah Orang Yahudi Sudah Kadaluarsa
Sampai hari ini orang Yahudi yang memakai topi kecil di kepala mereka tidak memakan daging babi dan berbagai daging binatang yang tersebutkan di dalam kitab Imamat. Namun mereka tidak tahu alasan mengapa Allah menetapkan daging binatang tersebut haram untuk dikonsumsi. Mereka hanya mengikuti dengan tanpa berpikir untuk mencari maknanya.

Mereka juga melakukan sembahyang tiga kali sehari dengan cara sujud. Mereka tidak mengerti bahwa sembahyang demikian adalah ibadah lahiriah. Mereka memiliki kiblat dalam sujud yaitu mengarah ke Yerusalem, sesuai dengan doa raja Salomo (Sulaiman). Orang Yahudi tidak tahu bahwa menghadap ke Yerusalem itu karena Allah telah berjanji untuk mengirim Juruselamat, dan Juruselamat itu akan memulai pelayananNya dari Yerusalem.

Orang Yahudi melakukan ibadah lahiriah, jasmaniah, secara ritual simbolik. Penekanan ibadah mereka ialah secara lahiriah. Hasilnya tentu mereka tidak tahu makna di balik semua tata-ibadah mereka. Kalau dikatakan bahwa mereka beribadah secara lahiriah tanpa pengertian, maka mereka akan marah, tetapi itu sungguh-sungguh betul.

Tentu bukan hanya orang Yahudi yang melakukan ibadah secara tanpa pengertian. Ada banyak umat agama dari berbagai agama yang melakukan ibadah tanpa memakai akal budi. Mereka bahkan tidak waspada, dan tidak pernah berpikir, kalau-kalau agamanya bukan dari Sang Pencipta, mungkinkah nabi mereka sebenarnya tidak mendapat wahyu dari Sang Pencipta ?

Seandainya seseorang sangat tekun menjalankan ibadah agamanya, dan kemudian ternyata agamanya bukan diinspirasikan oleh Sang Pencipta melainkan musuh dari Sang Pencipta yang melakukan tipu muslihat, bukankah ia akan celaka.

Misalnya orang Yahudi. Mereka adalah penerima wahyu. Tidak bisa disangkal bahwa Musa adalah penerima Taurat berserta seluruh aturan tata-ibadah. Tetapi karena mereka tidak mengerti makna ibadah lahiriah mereka yang sesungguhnya merupakan gambaran (simbolik) sedangkan hakekatnya ada di dalam kitab Injil, maka ibadah lahiriah mereka yang sebenarnya sudah kadaluarsa tetap mereka jalankan. Seharusnya mereka mengikuti Injil yang mengajarkan ibadah hakekat rohaniah, yaitu ibadah dengan hati.

Orang Yahudi terjebak dalam hasutan iblis untuk menolak Sang Hakekat yang datang menggenapkan seluruh ibadah simbolik yang mereka jalankan ribuan tahun. Orang Yahudi tidak menyalakan akal budi mereka dan berpikir bahwa iblis memiliki kepentingan atas peribadatan manusia. Iblis bisa berpura-pura menjadi Allah dan mengangkat seseorang menjadi nabi bahkan menghadirkan kitab suci untuk menyesatkan manusia. Orang-orang Yahudi tidak pernah berpikir bahwa iblis sanggup menciptakan suatu agama untuk menarik manusia.

Tetapi manusia yang berhikmat selalu mencari kebenaran, banyak berpikir dan banyak menilai. Manusia berhikmat berusaha mencari tahu agama yang datang dari Allah dan yang dari iblis. Kiranya pembaca diberi hikmat untuk hal yang sangat penting ini.

Alasan Penciptaan Manusia
Allah selain menciptakan alam semesta, juga menciptakan dua mahluk yang bisa berpikir dan berhati nurani serta berkehendak bebas, yaitu malaikat dan manusia. Dua mahluk ini bisa melakukan hal yang positif maupun negatif baik terhadap sesamanya dan juga terhadap Penciptanya. Lalu mengapakah Allah mau menciptakan mahluk yang bisa bersikap negatif terhadapNya?

Jika mahluk yang Allah ciptakan hanya bisa bersikap positif kepada Allah, maka mahluk itu akan bagaikan robot yang telah diprogramkan untuk hanya menyembah pembuatnya. Penyembahan demikian tentu tidak ada artinya. Tetapi jika mahluk itu bisa menyembah atau menghujat, dan akhirnya mahluk itu memilih menyembah, maka penyembahan itu akan terasa sangat nikmat. Itulah alasan utama Allah menciptakan manusia dan malaikat yang bisa menyembahNya maupun menentangNya.

Manusia Jatuh Ke Dalam Dosa
Malaikat terlebih dulu menentang Allah. Selanjutnya mereka disebut Setan, yang artinya musuh. Kemudian Adam dan Hawa, pasangan manusia pertama, diperdaya dan jatuh ikut menentang Allah. Tentu baik malaikat maupun manusia patut dihukumkan. Allah menciptakan Neraka untuk menghukum Setan, bukan untuk menghukum manusia. Tetapi manusia yang lebih mendengarkan Setan pantas pergi ke tempat yang disediakan untuk Setan.

Manusia yang telah memakan buah terlarang akan mati, sesudahnya jiwa dan rohnya akan pergi ke tempat Setan karena manusia lebih percaya kepada Setan.

Penyelamatan Dari Allah
Tetapi karena manusia tertipu oleh Iblis (sebutan lain untuk Setan yang artinya pendusta), dan telah menyesal, maka Allah menjanjikan penyelamatan. Namun manusia yang telah berdosa tidak mungkin diampuni begitu saja. Sesuai dengan sifat Allah yang maha suci, Ia tidak terhampiri oleh dosa. Dan sesuai dengan sifatNya yang maha adil, dosa harus dijatuhi hukuman atau dosa hanya dapat diselesaikan dengan penghukuman. Dan sesuai dengan sifatnya yang maha kasih, Allah berinisiatif mengusahakan jalan penyelamatan, atau menanggung hukuman atas manusia.

Jalan satu-satunya yang sesuai dengan seluruh sifat Allah ialah DiriNya sendiri datang mengenakan tubuh manusia menerima penghukuman. Ia tidak mungkin menyuruh malaikat menjadi Juruselamat bagi manusia karena itu bertentangan dengan sifat adilNya dan sifat kasihNya. Allah memutuskan DiriNya sendiri yang akan menjadi Juruselamat.

Sebelum kedatanganNya sebagai Juruselamat, dan penjatuhan hukuman kepada Sang Juruselamat, dosa Adam dan Hawa bisa diselesaikan, yaitu dengan mengaku salah dan menyesal (bertobat), dan percaya kepada janji Allah untuk mengutus Juruselamat yang akan dihukumkan menggantikan mereka. Mereka jatuh ke dalam dosa karena tidak percaya kepada Allah melainkan lebih percaya kepada iblis. Jika mereka ingin sesudah mati pergi kepada Allah di Sorga, mereka harus percaya Allah bahwa Ia akan mengirim Juruselamat untuk dihukumkan menggantikan mereka.

Perintah Ibadah Simbolik
Keselamatan itu datang dari iman kepada Allah Pencipta langit dan bumi. Dan sebagai bukti mereka beriman, mereka harus membangun sebuah mezbah, dan menyembelih seekor binatang sebagai korban dosa. Manusia jatuh kedalam dosa, Sang Juruselamat akan menjadi penanggung dosa, dan sebelum Sang Juruselamat tiba, seekor binatang korban (domba) dipakai sebagai simbolnya. Binatang itu disebut korban karena ia adalah korban kesalahan manusia. Itulah ibadah simbolik yang pertama dan sederhana, yaitu menyembelih domba di atas mezbah sebagai korban dosa. Ibadah simbolik ini telah dilakukan sejak Adam, Nuh, Abraham, dan Musa. Bisakah pembaca melihat hubungan dari ibadah penyembelihan binatang korban ini dengan janji kedatangan Juruselamat yang dikorbankan di kayu salib?

Allah membawa orang Yahudi keluar dari Mesir untuk membentuk sebuah bangsa yang diberi tugas untuk menjaga ibadah simbolik hingga yang disimbolkan tiba, sambil memberitakannya kepada segala bangsa. Ketika tiba di gunung Sinai, Allah turunkan hukum Taurat kepada Musa. Isi hukum itu mengajarkan ibadah simbolik yang lebih sempurna melalui tata-ibadah di Kemah Suci, dan kemudian oleh Salomo dibuat Bait Suci. Allah ingin mengajarkan bahwa Ia adalah Allah yang kudus, yang tak terhampiri dosa sekecil apapun. Bahwa dosa harus dijatuhi penghukuman karena Allah itu Adil, dan hukuman itu akan ditanggung Allah sendiri (Sang Juruselamat) karena Allah itu kasih.

Dalam rangka mengajarkan tentang kekudusan hati, Allah memakai kekudusan tubuh sebagai alat peraga. Dan karena masih dalam bentuk ibadah simbolik, maka kekudusan badan/jasmani dijadikan alat pendidik. Oleh sebab itu mereka tidak boleh menyentuh bangkai, dan harus ada pengaturan makanan yang halal dan haram.

Jadi pengaturan makanan yang halal dan haram itu untuk mengajarkan kekudusan dan sekaligus untuk menghindarkan mereka dari berbagai penyakit yang bisa timbul dari makanan. Bahkan penyakit kusta, karena manusia belum tahu obatnya dan sangat menular, dijadikan simbol kutuk. Orang yang terjangkit penyakit kusta harus disingkirkan dari masyarakat.

Pengajaran Perjanjian Baru Tentang Makanan
Ketika Yohanes (Yahya) menunjuk kepada Yesus, “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa isi dunia”, maka berakhirlah ibadah simbolik Perjanjian Lama karena yang disimbolkan telah tiba, dan telah dihantarkan oleh Yohanes (Mat. 11:13, Luk. 16:16). Saat itu Sang Domba Allah belum dikorbankan, tetapi dalam rangka menuju ke situ. Oleh sebab itu Yesus berkata kepada perempuan Samaria, “saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembahan-penyembahan benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembahan-penyembahan demikian”. (Yoh 4:23). Maksud Yesus ialah saat menyembah dengan hati, bukan dengan badan, sedang tiba.

Dalam mempersiapkan penyembahan dengan hati, Yesus Kristus mengajarkan banyak hal, seperti membiarkan murid-muridNya tidak puasa, karena puasa adalah bagian dari ibadah simbolik jasmaniah. Ia juga membiarkan murid-muridNya makan dengan tanpa mencuci tangan. Ketika dikritik orang Yahudi tentang makanan, Ia menjawab mereka bahwa makanan itu masuk ke perut dan nanti akan dikeluarkan di toilet. Makanan tidak menajiskan hati karena makanan tidak masuk ke dalam hati. Makanan hanya masuk ke dalam perut dan paling-paling membuat sakit secara jasmani. Dan Yesus menyatakan tidak ada makanan yang haram lagi (Markus 7:18-19). Larangan memakan makanan haram adalah paket ibadah simbolik jasmaniah. Jadi, ketika simbol utama, yaitu Sang Juruselamat yang disimbolkan dengan domba (binatang korban) tiba dan mengorbankan diriNya di kayu salib, maka seluruh paket ibadah simbolik tergenapi. Hukum Taurat telah tergenapi, bukan dibatalkan, sekali lagi digenapi. Ellen White telah membuat kesalahan karena menerima wahyu liar dari iblis sehingga menggiring sebagai orang Kristen kembali ke zaman ibadah setengah simbolik.

Ketika Yesus Kristus disalibkan, dosa seisi dunia, dari Adam hingga manusia terakhir ditimpakan ke atasNya sebagai korban dosa. Manusia Perjanjian Lama, seperti Adam, Henokh, Nuh, Abraham, Musa yang percaya kepada Juruselamat yang akan datang, dosa mereka terselesaikan. Yesus Kristus, Sang Juruselamat yang adalah pribadi Allah sendiri yang menghampakan diri menjadi manusia, telah menyatakan kasihNya untuk menanggung hukuman dosa umat manusia. Kita yang hidup sesudah penyalibanNya, jika mengaku diri sebagai orang berdosa dan menyesal atas dosa kita, serta mengaminkan bahwa Ia adalah Juruselamat kita yang telah menggantikan kita dihukumkan, juga akan bersama mereka memperoleh keselamatan dan masuk Sorga.

Dari Adam hingga manusia yang terakhir, tidak ada seorang pun yang masuk Sorga karena amal atau perbuatan. Semua orang yang masuk Sorga adalah karena iman kepada Sang Juruselamat yang dihukumkan untuk menanggung dosa dunia. Yang hidup sebelum penyalibanNya beriman kepada Juruselamat YANG AKAN DATANG. Sedangkan yang hidup sesudah penyalibanNya beriman kepada Juruselamat YANG SUDAH DATANG.

Ibadah sesudah kedatangan Sang Juruselamat bukan lagi dalam bentuk simbolik dan lahiriah, melainkan secara hakekat dan rohaniah. Bukan menyembah dengan badan melainkan dengan hati, oleh sebab itu tidak perlu berkiblat ke suatu lokasi melainkan mengkiblatkan hati kepada Allah di Sorga. Karena menyembah dengan hati, maka tidak perlu ada waktu ibadah, karena setiap saat dengan hati yang menjunjung tinggi dan menghormati Allah adalah penyembahan yang tiada henti. Oleh sebab itu tidak diperlukan juga lokasi tertentu untuk beribadah karena ibadah dengan hati terjadi dimana saja dan kapan saja. Orang Kristen yang benar tidak membutuhkan rumah ibadah karena ibadahnya dengan hati dan terjadi setiap saat di lokasi mana saja. Hari Minggu pagi misalnya, itu bukan acara ibadah, itu adalah acara kumpul berjemaat. Menyebut acara berjemaat seperti kebaktian hari Minggu pagi dan Rabu malam atau yang lain sebagai acara ibadah itu kesalahan karena terpengaruh konsep ibadah simbolik lahiriah. Dan tidak ada unsur makanan yang membuat hati kita tidak kudus karena makanan tidak masuk ke dalam hati melainkan ke dalam perut. Yang penting dimasak dengan sungguh agar segala kuman, virus, dan cacing betul-betul mati.

Apakah Anda telah beribadah di dalam roh dan kebenaran, atau telah beribadah dengan hati? Jika Anda beribadah dengan badan dan dalam betuk ritual simbolik, Anda tidak mungkin masuk Sorga. Dengarkan perkataan Yesus kepada orang Yahudi: “Maka Aku berkata kepadamu : Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. (Mat.5:20). Apakah hidup keagamaan ahli Taurat dan orang Farisi? Yaitu menyembah secara simbolik, lahiriah, dan tidak mengaminkan bahwa Yesus Kristus, Sang Juruselamat, telah menanggung dosa mereka. Renungkanlah.

Jadi, menurut Alkitab Perjanjian Lama, babi itu haram. Babi diharamkan itu sehubungan dengan ibadah simbolik lahirah. Ketika Juruselamat yang disimbolkan itu tiba, maka ibadah simbolik telah selesai, dan kini telah memasuki ibadah hakekat rohaniah dengan hati. Dalam ibadah hakekat rohaniah, tidak ada unsur makanan yang bisa membawa pengaruh pada hati. Rasul Paulus hanya memerintahkan untuk hanya memakan makanan yang berguna dan jangan memakan makanan yang membuat ketagihan.

Kemudian ada orang muncul, dan berkata bahwa ia mendapat wahyu, dan ilham, dan juga menyatakan bahwa dirinya adalah nabi, serta mengharuskan pengikutnya mengakuinya nabi. Ia kemudian mengambil sebagian pengajaran Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Tentu akhirnya menghasilkan pengajaran yang bersifat simbolik tanpa makna.

Pertanyaan kita ialah, benarkan ia nabi, dan mendapat wahyu dari Allah? Atau benarkah Allah memberi wahyu kepadanya, bagaimana jika ada oknum lain yang menyamar sebagai Allah yang berikan wahyu kepadanya ?

Jika ada seorang yang bernama Budi turun dari gunung dan berkata bahwa ia mendapat wahyu dan meminta semua kerabatnya mengakui bahwa ia adalah nabi. Kemudian seluruh kerabatnya dan bahkan seluruh kampungnya mengakuinya nabi. Yang tidak mau mengakuinya mereka bunuh. Dan akhirnya semakin meluas sehingga separuh dunia ini mengakuinya nabi. Padahal Allah sama sekali tidak menurunkan wahyu kepadanya. Betapa banyak orang tertipu bukan? Renungkanlah!

Kiranya melalui uraian singkat ini pembaca bisa terangsang untuk menyelidiki dan membandingkan pengajaran yang sedang pembaca imani dengan pengajaran yang kami sampaikan. Harapan kami pembaca bisa mendapatkan kepastian masuk Sorga karena itulah yang terutama bagi manusia.

I Korintus 6:12 -13

Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.

Makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan: tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah. Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh.
 
Sumber download di Babi Itu Haram

Bahasa Roh atau Bahasa Lidah (Tongue Speaking) ?



Apakah Bahasa Lidah Itu?

Bahasa lidah bukanlah bahasa surgawi, bukan bahasa malaikat, bukan perkataan yang diucapkan dalam keadaan tak sadarkan diri, bukan perkataan yang hanya dapat dimengerti oleh orang-orang yang terpelajar saja, atau bahasa yang tidak berarti apa-apa, seperti yang dipercayai oleh beberapa orang.

Gary W. Summers mengutip kata-kata yang ditulis oleh James Rado dan Gerome Ragni dalam buku berjudul “Good Morning, Starshine, 1969 Oliver hit, yang berbunyi: “Gliddy glup gloopy nibby nabby noopy la la la lo lo. Sabba sibby sabba nooby abba nabba le le lo lo. Tooby ooby walla nooby abba nabba, early morning singing song (pagi buta menembangkan lagu).” Menurut Gary, kata-kata ini tidak lebih daripada suku kata yang tidak berarti apa-apa dan bukan bahasa yang nyata dan dapat dimengerti.1

Dalam bahasa Inggris kata-kata di atas disebut dengan istilah “gibberish” yang berarti “perkataan yang cepat dan tidak jelas”; “bahasa yang tidak masuk akal”; “kata-kata yang tidak mengandung arti”; “perkataan yang mengalir lancar dan bodoh.2 Bahasa lidah adalah bahasa manusia yang memiliki makna dan dimengerti.


Webster’s New International Dictionary mendefenisikan bahasa sebagai “tubuh kata-kata dan metode penggabungan kata-kata yang dipakai dan dimengerti oleh suatu kelompok masyarakat.”3 Berarti bahasa adalah sarana untuk berkomunikasi antar manusia.

Paulus mengatakan bahwa “Ada banyak — entah berapa banyak — macam bahasa di dunia; sekalipun demikian tidak ada satu pun di antaranya yang mempunyai bunyi yang tidak berarti”
(1 Korintus 14:10).

Dalam bahasa Ibrani bahasa adalah “leshonah” yang paling sering diterjemahkan “lidah”, yang ditujukan pada salah satu anggota tubuh yang menghasilkan perkataan (Hakim-hakim 7:5; 2 Samuel 23:2) atau juga “bahasa” (Ester 1:22; 3:12; Yeremia 5:15; Yehezkiel 3:5,6). Kata Ibrani, leshonah ini diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani, “glossa” (bdg. Yesaya 28:11 dan 1 Korintus 14:21). Glossa juga berarti “lidah”, salah satu anggota tubuh (Markus 7:33,35), “lidah-lidah seperti nyala api” (Kisah Rasul 2:3), atau “bahasa” (Kisah Rasul 2:4,11; 10:46; 19:6).

Kalau kita lihat dalam Kisah Rasul 2:4-11, para rasul berbicara dalam berbagai-berbagai bahasa secara ajaib. Di dalam ayat 6, orang-orang yang hadir pada hari Pentakosta itu masing-masing mendengar para rasul berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Bahasa yang terdapat dalam Kisah Rasul 2:4, 11, jelas adalah bahasa pribumi para penganut agama Yahudi yang datang untuk merayakan hari raya Pentakosta di Yerusalem.4

Lester Kamp mendefenisikan karunia berbahasa lidah sebagai “kemampuan untuk berkata-kata dalam bahasa yang dapat dimengerti orang, tetapi sebelumnya tidak diketahui oleh orang yang berbicara itu.”5 Ini berarti seorang yang mempunyai karunia berbahasa lidah dapat mengerti dan mengucapkan bahasa orang lain (asing) dengan sempurna dan dapat dimengerti oleh si pemilik bahasa tanpa mempelajarinya terlebih dulu secara alami.

New English Bible menterjemahkan bahasa roh sebagai “ecstatic language” (bahasa yang mengherankan). Kata “ecstatic” berasal dari bahasa Yunani,” ekstasis”, yang dalam Alkitab diterjemahkan secara kontras “mencengangkan”, “mengherankan” (Markus 5:42; 8:8; Lukas 5:26; Kisah rasul 3:10) dan “tidak sadarkan diri” (Kisah Rasul 10:10; 11:5; 22:7). Tetapi meskipun demikian, kita tidak dapat menyimpulkan bahwa bahasa roh adalah sebuah bahasa yang diucapkan dalam keadaan tidak sadarkan diri.

Maka dapat kita katakan bahwa bahasa lidah adalah bahasa yang mengandung makna yang dapat dimengerti dan diucapkan secara spontan oleh seseorang dengan sempurna tanpa mempelajari bahasa itu sebelumnya. Dengan kata lain proses kemampuan berbahasa lidah itu bersifat supernatural atau ajaib. Mengapa? Karena “Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya” (1 Korintus 12:11).

Bagaimanakah Orang-orang Kristen Abad Pertama Menerima Karunia Berbahasa Lidah ?

Dalam kitab Kisah Rasul hanya ada dua peristiwa bagaimana orang Kristen abad pertama mendapatkan karunia berbahasa lidah.

1. Roh Kudus memberikan karunia berbahasa lidah secara langsung.

Pemberian karunia berbahasa lidah secara langsung hanya kepada Para Rasul, termasuk Rasul Paulus (Kisah Rasul 2:4; 1 Korintus 14:18), Kornelius & seisi rumahnya (Kisah Rasul 10:44-47). Selain dari dua peristiwa ini, tidak ada peristiwa lain yang dinyatakan oleh Alkitab tentang bagaimana orang-orang Kristen abad pertama menerima secara langsung dari Roh Kudus karunia berbahasa lidah.

2. Roh Kudus memberikan karunia berbahasa lidah melalui penumpangan tangan para rasul.

Dalam Kisah Rasul 19:1-6 menceritakan tentang rasul Paulus bertemu dengan beberapa orang murid Yohanes, yang kemudian ditobatkan oleh Paulus menjadi orang Kristen dan sekaligus menumpangkan tangannya ke atas mereka sehingga dapat berkata-kata dalam bahasa lidah.

Jadi hanya dua cara bagaimana orang-orang Kristen abad pertama mendapatkan karunia berbahasa lidah, yaitu secara langsung dan melalui penumpangan tangan para rasul. Begitulah Roh Kudus memberikan karunia berbahasa lidah kepada mereka.



Apakah Tujuan Bahasa Lidah ?

Ketika seorang Kristen menerima karunia berbahasa lidah maka karunia itu berada dalam kuasanya, dan dia bisa saja menggunakanya dengan motif yang salah (1 Korintus 14:23) atau sebaliknya, menggunakan sesuai dengan kehendak Tuhan. Bahasa lidah tidak dipakai untuk menunjukkan kebolehan seseorang dalam berbahasa asing yang tidak dipelajari sebelumnya. Tetapi Alkitab menyatakan dengan jelas apa tujuan dari bahasa lidah.

1. Untuk mengkomunikasikan wahyu Allah, pengetahuan, nubuat dan pengajaran Tuhan (1 Korintus 14:6).

Salah satu fungsi dari bahasa lidah adalah untuk menyatakan firman Allah kepada pendengar yang mengerti bahasa yang dipakai oleh orang yang memiliki karunia berbahasa lidah. Allah tidak pernah bermaksud memberikan karunia ini kepada orang yang dikehendakiNya untuk dipakai sebagai kesempatan memenuhi kepentingan pribadi atau menyatakan kehendak diri si penerima karunia itu sendiri, tetapi untuk menyampaikan seluruh maksud Allah kepada semua umat manusia (Kisah Rasul 20:27; 1 Petrus 4:11).

2. Untuk membangun kerohanian jemaat (1 Korintus 14:5,12, 26).

Maksud Allah memberi karunia bahasa lidah, seperti karunia-karunia lainnya juga adalah untuk membangun kerohanian setiap individu anggota jemaat. Mike Cope mengatakan bahwa “ dalam 1 Korintus 14:4, Paulus tidak mengizinkan seorang berbicara dalam bahasa lidah di gereja untuk membangun dirinya sendiri. Sebaliknya rasul Paulus mengizinkan penggunaan bahasa lidah bila ada yang dapat menterjemahkannya (1 Korintus 14:28)”7, karena apa yang dikatakan itu akan membangun jemaat, termasuk dirinya sendiri. Karunia berbahasa lidah harus dipergunakan untuk kepentingan bersama (1 Korintus 12:7).



3. Sebagai tanda untuk orang-orang yang tidak percaya (1 Korintus 14:22).

Karunia bahasa lidah adalah suatu praktek yang ajaib. Kita bisa melihat contoh dalam Kisah Rasul 2, orang-orang dari suku bangsa yang berbeda (Kisah Rasul 2:9-11) keheranan mendengarkan para rasul berbicara dalam bahasa mereka masing-masing – itulah bahasa lidah atau bahasa roh (Kisah Rasul 2:4,6,12). Kata “tercengang-cengang” dalam ayat 6 menujukkan reaksi dari para pendengar yang telah mendengarkan dan menyaksikan para rasul, orang Galilea berbicara dalam berbagai bahasa yang tidak pernah mereka pelajari sebelumnya (Kisah Rasul 2:8, 9). Paulus mengutip nubuatan kitab Yesaya 28:11 dalam 1 Korintus 14:21, bahwa Dalam hukum Taurat ada tertulis: “Oleh orang-orang yang mempunyai bahasa lain dan oleh mulut orang-orang asing Aku akan berbicara kepada bangsa ini, namun demikian mereka tidak akan mendengarkan Aku, firman Tuhan.” Ayat ini menyatakan tentang beberapa orang Yahudi yang mendengar pemberitaan Injil tetapi tidak mau mentaatinya (Roma 3:2,3), sehingga pemberitaan dengan bahasa lidah hanya sebagai suatu tanda ajaib saja bagi mereka. Kata “orang yang tidak percaya” dalam 1 Korintus 14:22 ditujukan kepada semua orang, baik Yahudi maupun non-Yahudi. Ini berarti juga bahwa orang-orang non-Yahudi yang mendengar pemberitaan Injil dalam bahasa lidah tetapi tidak mentaatinya, maka hal itu hanya menjadi suatu tanda (ajaib) saja.

4. Untuk meneguhkan pemberitaan firman Allah (Markus 16:20; Roma 15:19).

Karunia-karunia rohani, termasuk karunia bahasa lidah diberikan kepada para rasul dan orang-orang Kristen lainnya pada abad pertama adalah untuk meneguhkan bahwa berita yang mereka sampaikan adalah benar-benar dari Allah. Meskipun beberapa orang tidak percaya, itu tetap firman Allah. Bagi orang-orang yang mendengar, menerima dan mentaati firman itu, menjadi landasan yang teguh bagi keselamatan mereka (Kisah Rasul 2:13, 36,37).

Dalam 1 Korintus 14, Paulus memberikan pengertian yang jelas tentang bagaimana menggunakan karunia bahasa lidah yang benar. Menurut Gary W. Summers latar belakang mengapa Paulus menjelaskan hal ini dalam 1 Korintus 12:1-3, karena ada masalah yang terjadi, dimana beberapa orang Kristen di Korintus mengakui bahwa mereka dipengaruhi oleh Roh Kudus dan mengatakan “Terkutuklah Yesus.” Kalau memang pernyataan ini adalah kesimpulan yang masuk akal mereka ucapkan, maka nasehat Paulus untuk memberi pengertian adalah benar. Tetapi bagaimana mereka dapat mengatakan hal yang demikian melalui inspirasi Roh Kudus ? Jelas tidak dapat. Apakah mereka berpura-pura berbicara seperti dipengaruhi oleh Roh ? Barangkali Roh Kudus tidak memberikan mereka wahyu dalam perhimpunan, sehingga dengan sikap mementingkan diri sendiri, mereka berpura-pura berbicara seperti Roh Kudus sedang memberi mereka perkataan.

Mengapa mereka berpikir bisa melakukan itu? Ayat 2 menyatakan bahwa beberapa orang Korintus sebelum menjadi Kristen telah terbiasa berbicara dalam keadaan tidak sadarkan diri sebagai bagian dari praktek penyembahan berhala mereka. Mereka telah “dikuasai oleh berbagai-bagai nafsu” (2 Timotius 3:6). Mereka telah dipimpin oleh kata hati mereka sendiri dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ini menunjukkan beberapa orang Korintus mencoba untuk menghidupkan kembali praktek ucapan-ucapan yang mengherankan (barangkali kata-kata yang tidak berarti atau tidak masuk akal) seperti saat mereka melakukan penyembahan kepada berhala mereka dulu. Jadi dalam usaha mereka untuk menggunakan karunia berbahasa lidah, mereka membiarkan diri dipimpin oleh kata hati yang bersifat psikologis yang pernah mereka alami sebagai penyembah-penyembah berhala.8

Paulus melalui ilham Roh memberikan pengertian sekaligus nasehat kepada orang Kristen di Korintus bagaimana menggunakan karunia berbahasa lidah yang benar.

Pertama, bahasa lidah dapat dipakai jikalau ada yang menterjemahkannya (1 Korintus 14:5,9,11,23,27-28). Karunia-karunia rohani, termasuk bahasa lidah yang diberikan oleh Roh Kudus harus digunakan dengan cara yang “sopan dan teratur” (1 Korintus 14: 40) untuk membangun kerohanian setiap anggota jemaat. Tetapi orang-orang Kristen di Korintus, masing –masing ingin menggunakan bahasa lidah (atau karunia-karunia rohani yang lainnya) pada waktu yang bersamaan, sehingga situasi peribadatan menjadi kacau (1 Korintus 14:22,26).

Padahal “Allah tidak menghendaki kekacauan” (1 Korintus 14:40). Situasi seperti ini tidak akan membangun kerohanian anggota jemaat yang tidak mengerti apa yang disampaikan oleh seorang yang memiliki karunia berbahasa lidah, sebaliknya mereka akan mencela (1 Korintus 14:23). Kedua, Bahasa lidah dapat dipakai bila semua audiens mengerti apa yang dikatakan oleh orang yang memiliki karunia berbahasa lidah (1 Korintus 14:23). Tetapi apa yang dipraktekkan oleh aliran Pentakosta dan Karismatik adalah sebaliknya, dimana menurut Gary W. Summers, “banyak di antara mereka tidak peduli apakah yang mereka katakan itu berarti atau tidak, pokoknya mereka yakin bahwa Allah sedang berbicara melalui mereka. Jika tidak seorang pun mengerti apa yang mereka katakan, itu tidak menjadi soal. Mereka pikir itu adalah bahasa pribadi mereka sendiri, sekaligus jika hal itu terjadi, maka mereka percaya sebagai bukti mereka telah dibaptiskan dalam Roh Kudus. Praktek ini hanya berdasarkan emosi dan bukan berdasarkan Kitab Suci.Ini adalah hal yang menyedihkan karena mereka tidak mengerti firman Tuhan dengan benar.



Ketiga, orang yang memiliki karunia berbahasa lidah harus berdiam diri jikalau tidak ada yang menterjemahkan apa yang hendak dikatakannya (1 Korintus 14:28). Situasi perhimpuan untuk menyembah Tuhan harus dilakukan “dalam roh dan kebenaran” (Yohanes 4:24; bdg. 1 Korintus 14: 15). Ini berarti aktivitas rohani “ harus berlangsung dengan sopan dan teratur” (1 Korintus 14: 40).

Jika seorang memiliki karunia berbahasa lidah berbicara dan tidak ada yang menterjemahkan, maka akibatnya bukan saja kekacauan yang terjadi, tetapi juga orang yang mendengarnya tidak akan mengerti apa arti perkataannya, meskipun itu firman Allah, sehingga si pendengar tidak dapat “mengaminkan” (menyetujui) ucapan si pembicara (1 Korintus 14:9,16). Itu “sama halnya dengan alat-alat yang tidak berjiwa, tetapi yang berbunyi, seperti seruling dan kecapi — bagaimanakah orang dapat mengetahui lagu apakah yang dimainkan seruling atau kecapi, kalau keduanya tidak mengeluarkan bunyi yang berbeda? Atau, jika nafiri tidak mengeluarkan bunyi yang terang, siapakah yang menyiapkan diri untuk berperang?”, kata Paulus ( 1 Korintus 14:7-8).

Ke-empat, orang yang memiliki karunia berbahasa lidah hanya boleh berbicara kepada dirinya sendiri dan kepada Allah jikalau tidak ada penterjemah (1 Korintus 14:28).

Mike Cope menjelaskan, “1 Korintus 14:28 tidak mengatakan bahwa seorang yang berbicara dalam bahasa roh (lidah) berbicara dalam bahasa yang tidak dimengerti kepada dirinya sendiri dan kepada Allah ketika tidak ada penterjemahnya. Kelihatannya, konteks ini berarti bahwa seorang itu berkomunikasi dengan dirinya sendiri dan dengan Allah di dalam bahasa yang dapat dia mengerti.”10



Kapankah Bahasa Lidah Berhenti?
Beberapa orang, khususnya aliran Karismatik dan Pentakosta percaya bahwa sampai saat ini karunia berbahasa lidah masih terus diberikan oleh Roh Kudus secara langsung kepada orang yang dikehendakiNya. Tetapi apakah pendapat ini benar? Sebaiknya kita dengan pikiran terbuka menyelidiki bagaimana Alkitab berbicara tentang jangka waktu berlakunya karunia bahasa lidah.

Dalam 1 Korintus 13:8, Paulus mengatakan bahwa “bahasa roh akan berhenti” Kapan ?

1. “Jika yang sempurna tiba” (1 Korintus 13:10).

Beberapa orang menafsirkan kata ini ditujukan kepada Yesus, seorang yang sempurna dan yang akan datang. Pendapat salah inilah yang menuntun mereka untuk percaya bahwa karunia bahasa lidah masih ada, dan itu akan berhenti ketika Yesus yang sempurna itu datang. Tentu tidak ada orang yang menyangkal bahwa Yesus sempurna (Ibrani 5:9). Tetapi konteks ini sama sekali tidak membicarakan hal itu. Kata “yang sempurna” di ayat ini dalam bahasa Yunani (bahasa asli Alkitab Perjanjian Baru) adalah “teleiov” yang artinya “lengkap”, “sempurna”, “dewasa”. Pengertian secara luas kata ini adalah “telah mencapai tahap akhir atau perkembangan penuh.” Ini berarti telah mencapai kesempurnaan dalam Yesus (Kolose 1:28), telah menjadi dewasa (Efesus 4:13; Ibrani 5:14).11

Selanjutnya dalam 1 Korintus 13:11-12, Paulus memberikan ilustrasi (gambaran) tentang keadaan jemaat saat itu yang belum dewasa secara rohani, sehingga sangat diperlukan karunia-karunia rohani untuk membantu jemaat bertumbuh dewasa. Jadi setelah mereka menerima apa yang mereka butuhkan untuk mencapai kedewasaan maka “yang tidak sempurna (karunia-karunia rohani) itu akan lenyap” (1 Korintus 14:10).

Vine’s Complete Expository Dictionary memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai kata “yang sempurna” (teleion) yang berarti “lengkap”, “sempurna”, yang ditujukan pada “penyataan kehendak dan cara-cara Allah yang sempurna di dalam Kitab Suci yang lengkap.”12

Jadi setelah firman Allah diteguhkan dengan karunia-karunia rohani (Markus 16:20), yang kemudian terhimpun dalam bentuk kitab tertulis seperti yang dikehendaki Allah melalui tulisan tangan orang-orang yang diilhami oleh Roh Kudus (2 Timotius 3: 16; 2 Petrus 1:20, 21), maka saat itulah berakhir karunia-karunia rohani (baca 1 Korintus 12:8-10), termasuk karunia bahasa lidah. Firman Allah sanggup memberi pertumbuhan rohani ( 1 Petrus 2:2; 2 Petrus 3:18) yang akan membawa kepada kesempurnaan dalam Kristus ( 2 Timotius 3: 17 “diperlengkapi” lebih tepat diterjemahkan “sempurna” –”perfect” dalam King James) melalui proses belajar rutin, objektif dan dengan pikiran yang terbuka (2 Timotius 2:15; 1 Petrus 4:11; Wahyu 22: 18-19). Dengan adanya firman tertulis maka tidak diperlukan lagi karunia-karunia rohani (yang hanya bekerja saat gereja masih dalam keadaan infansi).

2. Sejak rasul-rasul Tuhan dan orang-orang yang mendapatkan tumpangan tangan mati.

Seperti yang sudah kita bicarakan sebelumnya bahwa Alkitab mencatat hanya ada dua peristiwa dimana orang Kristen abad pertama menerima karunia berbahasa lidah secara langsung, yakni rasul-rasul pada Hari Raya Pentakosta (Kisah Rasul 2) dan Kornelius serta seisih rumahnya (Kisah Rasul 10). Sedangkan peristiwa lainnya dengan penumpangan tangan rasul-rasul, contohnya beberapa murid Yohanes yang ditobatkan menjadi Kristen oleh Paulus di Efesus (Kisah Rasul 19).

Alkitab menyatakan bahwa hanya para rasul yang dapat menumpangkan tangan ke atas orang Kristen lainnya untuk mendapatkan karunia berbahasa lidah. Selain dari pada mereka, Alkitab tidak menyatakannya. Melalui aksi penumpangan tangan rasul-rasul-lah Roh Kudus memberikan karunia berbahasa lidah kepada orang yang dikehendakiNYa.

Sejak rasul-rasul sudah mati semuanya, termasuk Rasul Yohanes yang dipercayai terakhir mati, kira-kira tahun 90-an Masehi, maka sudah pasti tidak ada lagi yang menjadi pelaksana penumpangan tangan ke atas orang Kristen untuk mendapatkan karunia berbahasa lidah, demikian juga dengan orang-orang Kristen yang telah menerima karunia itu semuanya sudah mati. Jadi sangat masuk akal bahwa karunia bahasa lidah sudah berhenti. Kalau ada, itu palsu !

Kesimpulan

Bahasa lidah adalah salah satu dari beberapa karuni rohani yang tercatat dalam 1 Korintus 12: 8-10. Bahasa lidah adalah bahasa yang dapat dimengerti, baik orang yang mengucapkan maupun orang yang mendengarkannya.

Bahasa lidah itu ajaib, karena orang yang tidak pernah mempelajari sebelumnya dapat mengucapkannya dengan sempurna sehingga si pemilik bahasa mengerti dengan jelas ketika mendengarkannya dan sekaligus mengherankan baginya.

Bahasa lidah dipergunakan untuk meneguhkan pemberitaan firman Allah. Bahasa lidah hanya berlangsung pada abad pertama ketika gereja masih dalam tahap infansi.

Bahasa lidah berakhir ketika wahyu Allah telah terhimpun dalam bentuk Kitab Suci dan setelah para rasul dan orang-orang Kristen yang mendapat penumpangan mati.

SEKALI SELAMAT TETAP SELAMAT TIDAK ALKITABIAH, Once Saved Always Safe

Once Saved Always Safe, Sekali Selamat Tetap Selamat Tidak Alkitabiah

SUBJUNCTIVE MOOD
Conditional Sentences atau Kalimat BERPOTENSI

“Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya”, Ibrani 10:35.

PERTAMA, kesalahan kalvinisme adalah menafsirkan ayat tersebut sebagai “nasehat omong kosong” dimana menurut nalar “Pemeiharaan Orang2 Kudus”nya Kalvinis, orang2 yang telah lahir baru/ percaya TIDAK MUNGKIN MELEPASKAN kepercayaan, pokoknya “SEKALI SELAMAT TETAP SAJA SELAMAT”

KEDUA, Istilah “melepaskan kepercayaan” ditafsirkan oleh mereka sebagai orang yang “pura-pura percaya” alias tidak percaya.

KETIGA, sekalipun orang-orang percaya melepaskan kepercayaan mereka, Tuhan menganggap bahwa mereka tidak sungguh-sungguh melepaskan kepercayaan, sehingga sekalipun mereka melepaskan kepercayaan mereka tetap saja mereka selamat karena “SEKALI SELAMAT TETAP SAJA SELAMAT”

BENARKAH NALAR SEPERTI INI?

Saya akan menunjukkan melalui ayat tersebut bahwa penafsiran pak John Calvin dan para pengikut2nya tidak ALKITABIAH

Bentuk kata “melepaskan”Αποβαλητε adalah 2nd aorist active subjunctive 2nd person plural dari ἀποβάλλω

1. Bentuk Subjunctive adalah conditional sentences atau kalimat yang mengandung POTENSI atau kalimat KEMUNGKINAN.

2. Bentuk 2nd person plural merujuk pada “kamu/kalian” orang-orang percaya/ orang-orang yang sungguh percaya BUKAN orang-orang yang PURA-PURA PERCAYA

3. Bentuk 2nd AORIST merujuk pada kalimat “finished action” yang mana waktu kejadiannya sangat relative atau “the time of action is a relative matter.” Artinya benar-benar “melepaskan” bukan “pura-pura” melepaskan.

4. Bentuk kalimat Active adalah bentuk kalimat yang obyeknya sebagai obyek penderita.
Contoh: Kamu (Subyek) melepaskan (active) kepercayaan (obyek penderita)
sedangkan kalimat passive adalah kalimat yang subyeknya sebagai obyek penderita.
Contoh: Kamu (Subyek penderita) dilepaskan (passive) kepercayaan (Obyek)
Karena berbentuk active maka orang-orang percaya tidak mungkin KEHILANGAN KESELAMATAN (passive) tetapi orang-orang percaya dapat MELEPASKAN KEPERCAYAAN (active)

Kesimpulan ALKITABIAH:
1. Bahwa Orang-orang yang sungguh-sungguh PERCAYA ada kemungkinan untuk sungguh-sungguh melepaskan KEPERCAYAAN

2. Kalimat Subjunctive mood adalah tipe kalimat kemungkinan yang TIDAK merujuk pada “pura-pura” percaya dan “pura-pura” melepaskan kepercayaan

3. MAKA teori “SEKALI SELAMAT TETAP SAJA SELAMAT” adalah teori yang bertentangan dengan ayat ini, karena orang-orang percaya ada kemungkinan untuk melepaskan kepercayaan mereka.

4. Kalimat tersebut di atas adalah nasihat supaya orang-orang percaya TETAP berpegang teguh pada iman percaya supaya TETAP SELAMAT, karena ada kemungkinan orang-orang percaya dapat melepaskan kepercayaan (SUBJUNCTIVE MOOD).

5. Orang-orang percaya TIDAK MUNGKIN KEHILANGAN KESELAMATAN (keselamatan tidak bisa dicuri, direbut, dll) Tetapi jika orang-orang percaya melepaskan kepercayaan mereka dengan kemauan sendiri dan tanpa paksaan maka LEPASLAH KESELAMATAN mereka.
 

INGAT, INGAT, INGAT!
Eling, Eling, Eling!
INGA, INGA, INGA!
Don’t Forget, Don’t Forget, Don’t Forget!
bentuk kalimatnya active “melepaskan” bukan kalimat passive “dilepaskan.”
“melepaskan” hampir sama artinya dengan “menghilangkan” bukan “KEHILANGAN”

TUHAN MELARANG KESAKSIAN KESEMBUHAN (Eksposisi Matius 8: 1-4)

Dewasa ini banyak orang Kristen gemar bersaksi atas kesembuhan yang mereka alami, bahkan ada persekutuan-persekutuan doa, serta gereja-gereja tertentu yang mendorong orang untuk bersaksi untuk hal-hal jasmani-lahiriah, sehingga ruang kesaksian dalam persekutuan doa atau gereja demikian memiliki tempat yang istimewa dalam kebaktian mereka. Namun banyak dari mereka yang gemar bersaksi tidak pernah mencari tahu kebenaran di dalam Alkitab, sehingga mereka tidak menyadari bahwa tindakan mereka tersebut sebenarnya dilarang Tuhan. Mereka yang giat bersaksi atas kesembuhan jasmani adalah orang Kristen yang giat untuk Tuhan tanpa pengertian yang benar, sehingga mereka mendirikan kebenaran mereka sendiri, Lihat Roma 10: 1-3.

Dalam Matius 8: 1-4 menceritakan mengenai seseorang yang datang kepada Tuhan Yesus dengan penuh iman, bahwa Tuhan Yesus dapat menyembuhkannya dari penyakit Kusta. Atas keyakinannya pada Tuhan tersebut, Tuhan Yesus menyembuhkannya dari penyakit Kusta. Sesudah menyembuhkan orang tersebut, Tuhan Yesus melarangnya untuk bersaksi atas kesembuhan kepada siapapun, “Lalu Yesus berkata kepadanya: “Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka” (Matius 8: 4).

Dalam Matius 8: 2 orang yang sakit Kusta yang datang kepada Yesus adalah seseorang yang sangat yakin bahwa Yesus sanggup menyembuhkan, jika Yesus ingin menyembuhkannya. “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku” itulah kalimat yang keluar dari mulut orang yang sakit kusta ketika memohon belas kasihan dari Tuhan Yesus, walaupun ia sangat ingin disembuhkan namun ia datang kepada Yesus dengan keyakinan jika Yesus mau maka ia sembuh dan sebaliknya jika Yesus tidak mau maka ia tidak sembuh, sebuah sikap hati yang berbeda dengan para pesaksi saat ini. Para persaksi kesembuhan saat ini justru memberi kesan pada para pendengar bahwa kalau sakit berdoa, pasti Tuhan Yesus sembuhkan. Ternyata tidak semua permohonan kesembuhan dari Tuhan, Tuhan jawab dengan kesembuhan seperti yang dialami Rasul Paulus dalam 2 Korintus 12: 7-9 dimana permohonannya pada Tuhan tidak dijawab sesuai dengan keinginannya.

Orang kristen yang sakit seringkali jadi bulan-bulanan Iblis, saat penyakitnya tidak sembuh maka iblis melalui para pendoa yang tidak mengenal kebenaran menawarkan berbagai cara seperti berdoa dikuburan, memperbaiki kuburan, siram rampe, bakar lilin atau meneteskan darah ayam pada tempat tertentu untuk disembuhkan. Mungkin saja orang tersebut sembuh sesudah adakan ritual demikian, namun tidak benar-benar total sembuh karena sewaktu-waktu penyakit tersebut datang kembali menyerang dan biasanya hal tersebut terjadi berulang-ulang sampai si penderita meninggal dunia. Walaupun banyak yang meninggal namun masih banyak juga orang Kristen yang terkecoh dengan cara Iblis yang disusupkan melalui para pendoa yang tidak cinta kebenaran. Kita harus sadar bahwa tidak semua doa kita dijawab sesuai dengan keinginan kita. Sikap orang yang sakit kusta dalam Matius 8: 2 membuktikan bahwa ia sangat yakin Tuhan sanggup sembuhkannya jika Tuhan mau namun jika tidak maka ia tidak sembuh, sikap yang demikianlah yang harus dimiliki orang sakit, yang berharap kesembuhan dari Tuhan. Sehingga jika tidak disembuhkanpun ia tidak akan kecewa pada Tuhan.


Dalam Matius 8: 3 Tuhan Yesus menjawab permohonan orang yang sakit kusta tersebut dengan menyembuhkannya sesuai dengan keyakinannya jika Tuhan Yesus mau maka ia sembuh dan Tuhan mau ia sembuh dan ia pun sembuh. Tuhan menyembuhkan orang yang sakit kusta tersebut atas dasar keyakinannya bahwa apapun yang terjadi sesudah permohonannya merupakan keinginan Tuhan, ia sembuh atau tidak sembuh semua berdasarkan keinginan Tuhan, ia percaya pada kedaulatan Tuhan. Seringkali orang yang sakit kecewa dengan Tuhan sebab walaupun sudah berdoa penyakitnya tidak disembuhkan, ia kecewa bahkan ada yang akhirnya meninggalkan Tuhan. Orang Kristen yang kecewa dengan Tuhan karena doanya tidak dijawab sesuai dengan keinginannya adalah orang kristen yang tidak mengerti kebenaran dan yang tidak percaya pada kedaulatan Allah, dan doa orang Kristen yang demikian seringkali tidak dijawab Tuhan sebab doanya hanya untuk memuaskan keinginannya bukan keinginan Tuhan (Yakobus 4: 3). Tuhan Yesus menjawab permohonan orang yang sakit kusta tersebut oleh sebab orang tersebut percaya pada kedaulatanNya, percaya bahwa segala sesuatu ada dalam kendali Tuhan, dan membuktikan bahwa orang tersebut percaya bahwa Yesus adalah Allah. Itu sebabnya bila ada yang sakit, saya sering doakan bila Tuhan mau maka sembuh dan berharap Tuhan sembuhkan namun bila Tuhan tidak sembuhkan pun saya jelaskan bahwa itu pun berdasarkan maunya Tuhan, Tuhan kita adalah Tuhan yang berdaulat. Jadi lucu kalau ada pendeta atau pendoa yang selalu membesar-besarkan diri atau klaim bahwa siapapun yang minta didoakan padanya pasti sembuh dari penyakit. Ingat, jika Tuhan mau, bukan maunya kita.


Matius 8: 4 adalah bagian yang sangat menarik, sebab bagian ini adalah bagian sangat bertentangan dengan kelakuan beberapa pemimpin peresekutuan atau pendeta yang suka mendorong orang-orang yang mengalami kesembuhan karena doa atau pelayannya untuk bersaksi atas kesembuahannya. Tuhan Yesus melarang orang yang disembuhkan dari penyakit kusta olehNya memberi kesaksian kesembuhannya pada siapapun, “Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapa pun,….” Larangan Tuhan Yesus tersebut ada dasar tujuan kedatanganNya. Tujuan utama Tuhan Yesus datang bukan untuk menyembuhkan penyakit jasmani melainkan penyakit rohani yaitu dosa, sehingga yang Tuhan inginkan bukan kesaksian kesembuhan jasmani melainkan kesaksian kesembuhan rohani yaitu kesaksian keselamatan atau lahir baru. Kesaksian kesembuhan jasmani hanya akan mendorong orang-orang datang pada Yesus untuk memenuhi tuntutan jasmani-lahiriah bukan untuk hal rohani.


Orang yang mengaku dirinya hamba Tuhan yang suka bersaksi atas kesembuhan atau yang suka mendorong orang bersaksi atas kesembuhan adalah orang yang tidak mengerti kebenaran, yang hanya akan menjerumuskan iman orang lain kepada pengertian yang salah akan firman Tuhan. Tuhan melarang untuk kesaksian kesembuhan karena Tuhan tidak ingin orang mengikut Dia oleh sebab hal-hal yang bersifat duniawi. Justru melalui kesaksian-kesaksian kesembuhan banyak orang Kristen menjadi pengikut Yesus yang tidak jelas atau tidak mengerti kebenaran. Iman mereka bukan dibangun atas dasar Firman Kristus (Roma 10: 17) melainkan atas dasar pengalaman, perasaan dan kesaksian-kesaksian yang tidak menfokuskan keinginan orang untuk belajar kebenaran (Yohanes 8: 31-32).

Rabu, 02 Desember 2015

PENJELASAN ALKITAB MENGENAI MENDOAKAN DAN BERDOA PADA ORANG YANG SUDAH MATI

Mendoakan dan berdoa pada orang mati merupakan sebuah tradisi yang berkembangan dibeberapa suku bangsa, ada yang berdoa kepada arwah-arwah leluhur untuk meminta kesejahteraan, hasil panen yang melimpah, kesehatan dan lain-lainnya. Praktek berdoa atau mendoakan orang mati juga masuk ke dalam lingkungan gereja, sebagian besar orang Kristen yang masih terikat dengan tradisi leluhur menerima praktek ini sebagai sebuah kebenaran iman. Ada sebuah tradisi yang berkembang dalam masyarakat Kristen tertentu untuk pergi kekuburan para leluhur demi mendoakan dan berdoa pada orang mati, bahkan ada yang menyatakan permohonan pada Roh leluhur untuk mendapatkan kesehatan dan kesuksesan.


Kata Alkitab Tentang Orang Mati

Dalam Ibrani 9: 27 menuliskan demikian, “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi.” Sesudah mati, manusia langsung dihakimi untuk menentukan dimana keberadaannya. Apabila ia seorang yang sudah lahir baru maka tempatnya di Surga sedangkan bila ia bukan orang lahir baru tempatnya di Neraka. Alkitab tidak mengajarkan mengenai tempat persinggahan dunia orang mati atau tempat orang mati yang belum siap masuk Surga, sehingga perlu dibantu dengan doa-doa orang hidup untuk masuk Surga.

Tuhan Yesus memberikan jaminan pada orang-orang percaya padaNya suatu tempat, mereka yang mati di dalam Tuhan diberikan tempat tinggal di Surga. Orang mati di dalam Kristus langsung masuk berada di Surga seperti yang dikatakan dalam 2 Korintus 5: 1, “Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di Sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.” Adalah iman yang salah mengimani bahwa ada tempat persingahan penyucian untuk orang yang belum siap masuk Surga, sehingga mendoa dan berdoa untuk mereka.


Kepastian masuk Surga didapatkan bukan sesudah mati melain selagi hidup jaminan kepastian itu sudah bisa didapat. Orang-orang yang sudah pasti masuk Surga adalah orang-orang yang sudah lahir baru, yang sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat serta menyerahkan hidupnya menjadi milik Kristus (Roma 5: 8-10, Yohanes 3: 36). Bijaksananya bukanlah mendoakan orang yang sudah mati untuk masuk Surga melainkan menyampaikan Injil yang benar agar selagi hidup mereka sudah mendapat kepastian masuk Surga.



Kata Alkitab Tentang Arwah Orang Mati


Dalam Ayub 7: 9-10 dikatakan bahwa, “sebagaimana awan lenyap dan melayang hilang, demikian juga orang yang turun ke dalam dunia orang mati tidak akan muncul kembali ke rumahnya, dan tidak dikenal lagi oleh tempat tinggalnya.” Dari bagian firman Tuhan ini, kita mendapat penjelasan bahwa tidak ada arwah yang gentayang kembali ke rumahnya. Arwah orang yang sudah mati, sudah dipastikan tempatnya sesudah kematiannya dan tidak diberikan kesempatan lagi untuk kembali ke rumahnya, bahkan orang yang mati tempat kediamannya pun tidak mengenalnya. Iblis sering mempertunjukkan tipu muslihat untuk menipu iman manusia dengan merasuki anggota keluarga tertentu dengan menyerupai orang sudah mati dan meminta permintaan yang aneh-aneh pada anggota keluarga yang masih hidup bahkan mengacam dengan ancaman tertentu bila anggota keluarga yang hidup tidak mengabulkan permintaannya, dan untuk meyakinkan anggota keluarga yang masih hidup iblis menyebutkan hal-hal unik yang pernah dilakukan orang yang mati tersebut selagi hidup, sehingga anggota keluarga yang mendengarkannya percaya dan melakukan apapun permintaannya.


Dari pertunjukkan tipu muslihat Iblis inilah banyak orang mempercayai bahwa ada arwah getayang, yang sewaktu-waktu dapat datang meminta permintaan tertentu, ataupun dapat memberikan sakit penyakit dan malapetaka tertentu dari anggota keluarga yang tidak menuruti permintaannya. Pertunjukkan yang satu ini memang sangat sukses dilakukan Iblis untuk menipu manusia, sehingga banyak juga pendoa-pendoa Kristen terjerumus ke dalam permainan palsu iblis dengan kelicikannya yang menyesatkan ini. Sadarlah bahwa Iblis tidak pernah mati dari dunia diciptakan sehingga ia tahu segala sesuatu yang telah dilakukan manusia selagi masih hidup dan iblis dapat menyerupai wujud apapun, sehingga bukanlah hal yang sulit bagi Iblis untuk menyerupai orang yang sudah mati. Ingatlah bahwa Alkitab sudah mengatakan bahwa orang mati arwahnya tidak gentayang.


Kata Alkitab Tentang Mereka Yang Berdoa pada Orang Mati

Janganlah kamu berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal; janganlah kamu mencari mereka dan dengan demikian menjadi najis karena mereka;

Akulah TUHAN, Allahmu. Imamat 19: 31


seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati. Sebab setiap orang yang melakukan hal-hal ini adalah kekejian bagi TUHAN, dan oleh karena kekejian-kekejian inilah TUHAN, Allahmu, menghalau mereka dari hadapanmu. Ulangan 18: 11-12

Alkitab mengajarkan bahwa orang yang berdoa pada arwah orang mati adalah tindakan yang tidak dikehendaki Tuhan dan merupakan kekejian bagi Tuhan. Manasye pernah melakukan tindakan ini, dan Alkitab mengatakan bahwa tindakannya tersebut adalah kekejian bagi Tuhan ( 2 Tawarikh 33: 6). Orang Kristen yang masih berdoa dan memohon keselamatan pada arwah-arwah orang mati adalah Kristen yang masih terlibat dengan perdukunan, dan biasanya orang Kristen yang demikian sering mendatangi para peramal yang menyamar sebagai pendoa untuk bertanya pada arwah-arwah orang mati demi meminta petunjuk dari arwah orang yang sudah mati. Ingatlah hai kawan tindakan berdoa pada arwah orang mati adalah kekejian bagi Tuhan, apabila saat ini Anda masih terikat dengan kebiasaan ini, segeralah bertobat dan terimalah Injil yang benar agar Anda terlepas dari ikatan perjanjian dengan setan. Untuk terlepas dari ikatan perjanjian dengan Setan, Anda perlu lahir baru. Orang yang sungguh-sungguh lahir baru tidak dapat dikalahkan oleh kuasa apapun ( 1 Yohanes 4: 4).

Dalam Pengkotbah 9: 5 mengatakan, “Karena orang-orang yang hidup tahu bahwa mereka akan mati, tetapi orang yang mati tak tahu apa-apa, tak ada upah lagi bagi mereka, bahkan kenangan kepada mereka sudah lenyap.” Dalam bagian ini menjelaskan pada kita bahwa orang yang mati tak tahu apa-apa, bagaimanakah yang tidak tahu apa-apa memberikan petunjuk? Sebenarnya orang meminta petunjuk arwah orang mati bukanlah menerima petunjuk dari arwah orang mati melainkan Setan yang menyerupai orang yang sudah mati. Jangan memberikan petunjuk dalam Ayub 7: 9-10 dikatakan bahwa orang mati tidak mengenal tempat tinggalnya lagi demikian sebaliknya.


Saul pernah melakukan tindakan keji ini karena Tuhan tidak memberikan jawaban atas permohonannya ( 1 Samuel 28: 6), Saul meminta untuk memanggil arwah orang mati walaupun sang pemanggil arwah telah memperingatkan Saul atas tindakannya ( 1 Samuel 28: 7-10). Saul tetap meminta untuk memanggil arwah Samuel, dikatakan bahwa arwah Samuel datang dan berbicara namun sebenarnya itu bukan Samuel karena Samuel sesungguhnya telah ada bersama Allah. Mungkinkah itu Arwah Samuel jika Allah sendiri tidak menjawab permohonan Saul? Jelas itu bukan arwah Samuel.

Kebanyakan orang Kristen yang masih melakukan doa pada orang mati atau mengunjungi kuburan orang mati untuk berdoa adalah Kristen yang belum lahir baru dan belum mengerti kebenaran, karena tidak pernah mendapatkan pengajaran yang benar dari gerejanya atau hamba-hamba Tuhan yang melayani mereka.

 

Sikap Orang Kristen Terhadap Orang Mati

Jemaat Kristus adalah tempat bersekutu orang-orang lahir baru yang masih hidup didunia ini,persekutuan ini adalah persekutuan yang kelihatan (Matius 18: 18-20). Tidak benar ajaran yang mengajarkan bahwa jemaat Kristus juga terikat persekutuan dengan orang yang sudah mati, orang yang sudah mati langsung dihakimi (Ibrani 9: 27), ia bukan lagi bagian dari jemaat. Walaupun orang mati bukan dari jemaat, namun orang-orang yang mati dalam kebenaran terlebih mereka yang memperjuangkan iman yang benar patut diberikan penghormatan untuk mengenang atas apa yang sudah mereka lakukan. Mengenang atas apa yang sudah mereka lakukan dan mengingat segala sesuatu yang telah mereka lakukan selagi hidup adalah hal yang baik. Pada masa lalu untuk mengenang dan mengingatkan atas apa yang sudah dilakukan oleh orang mati, mereka dikuburkan di dalam Gua, bahkan Abraham membeli sebuah Gua untuk mengubur istrinya dan dikemudian hari, ia pun dikubur di situ (Kejadian 25: 7-11). Kita sekarangpun mengenang dan mengingat jasa dengan orang yang sudah mati dengan mengubur ditempat yang layak dan membangun monument sebagai tempat peringatan untuk jasa orang yang sudah mati.


Jadi Alkitab sudah menjelaskan pada kita, bahwa mendoakan dan berdoa pada orang yang sudah mati adalah tindakan iman yang salah, bahkan tindakan yang demikian bukan hanya sia-sia melainkan menimbulkan kekejian bagi Tuhan. Oleh sebab itu marilah kawan, kita buang segala macam bentuk penyimpangan yang sesuai dengan kebenaran firman Tuhan dan hidup dalam kebenaran yang sejati bersama Tuhan Yesus Kristus.

Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia: jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini; semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia. Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi (Kolose 2: 20-23).