Minggu, 28 Februari 2016

Iman Pemberian Allah atau Respon Manusia?

        Orang Kristen yang percaya Alkitab mempercayai apa yang Paulus katakan dan ajarkan, bahwa “keselamatan” adalah “oleh iman kepada Kristus Yesus” (2 Tim. 3:15). Kebenaran ini bukan hanya satu dua kali diserukan, tetapi berulang kali diajarkan dan ditekankan oleh penulis-penulis yang terinspirasi. Jadi, iman adalah komponen yang sangat penting dalam keselamatan, yaitu menjadi syarat keselamatan. Oleh karena pentingnya iman dalam keselamatan, sangatlah penting bagi orang percaya untuk memahami secara persis tentang iman itu sendiri.


      Dalam artikel pendek ini, isu yang dibahas adalah mengenai asal usul iman. Apakah iman berasal dari Allah sebagai suatu pemberian, ataukah iman adalah respons manusia, suatu tanggung jawab individu? Isu ini adalah sesuatu yang memisahkan antara Kalvinis dan non-Kalvinis.



      Kalvinisme mengusung konsep bahwa keselamatan seseorang sebenarnya ditentukan oleh Allah dalam kekekalan melalui dekrit rahasia. Penentuan Allah atas keselamatan seseorang ini bersifat tidak bersyarat (unconditional election). Jadi, dalam Kalvinisme, seseorang yang dipilih untuk diselamatkan, akan dilahirbarukan (tanpa dapat ditolak, irresistible grace), dan kemudian pasti akan menjadi percaya, atau dengan kata lain dibuat menjadi percaya. Dengan demikian, posisi Kalvinis secara alami adalah bahwa iman, atau percayanya seseorang, itu sebenarnya tergantung kepada Allah. Kalau Allah memilih seseorang, maka Allah akan melahirbarukannya, dan ia akan percaya. Percaya atau iman adalah salah satu dari mata rantai tindakan Allah pada diri orang pilihan. Oleh karena itu, Kalvinis mengatakan bahwa iman adalah karunia atau pemberian Allah.



     G. J. Baan adalah tipikal Kalvinis ketika ia menulis: “Iman ini dikerjakan oleh Roh Kudus, yang adalah Pekerja dan Penanam iman. Melalui Panggilan dan kelahiran kembali, Roh Kudus telah menanamkan iman di dalam hati.”1 Perhatikan kata “menanamkan” yang dipakai. Dalam skema Kalvinis, manusia sama sekali pasif, tidak bertanggung jawab untuk ada atau tidak adanya iman di dalam dirinya. Roh Kuduslah yang “menanam,” yang mengerjakan melalui “panggilan” dan “kelahiran kembali.”


   Sebaliknya, non-Kalvinis melihat bahwa iman adalah tanggung jawab dan respons manusia terhadap Injil keselamatan. Iman adalah sikap percaya dan menerima karya keselamatan yang lengkap diselesaikan oleh Yesus Kristus. Ada banyak ayat Alkitab yang mengajarkan hal ini, yang akan dipaparkan nanti, tetapi artikel ini ingin mengemukakan bahwa sebenarnya non-Kalvinis (yang Alkitabiah) tidak menentang konsep bahwa iman adalah karunia Allah. Ini mungkin mengejutkan, tetapi dapat ditegaskan bahwa non-Kalvinis juga bisa melihat iman sebagai karunia atau pemberian Allah! Tentu paham “karunia” atau “pemberian” di sini berbeda dengan paham Kalvinis.

     Non-Kalvinis percaya bahwa iman adalah karunia atau pemberian Allah, tetapi dalam pengertian yang tidak bertentangan dengan konsep bahwa iman adalah tanggung jawab atau respons manusia. Artinya, non-Kalvinis dapat mengakui kedua kebenaran ini: iman adalah karunia/pemberian Allah, sekaligus juga adalah tanggung jawab manusia.

    Secara lebih mendetil, bisa dikatakan bahwa iman adalah karunia Allah bagi manusia karena beberapa hal. Pertama, manusia tidak mungkin bisa beriman kepada Allah tanpa dimampukan oleh Roh Kudus. Sebagian Kalvinis mengira bahwa non-Kalvinis percaya manusia bisa percaya kepada Yesus dengan kemampuannya sendiri. Hal ini sama sekali tidak benar untuk non-Kalvinis yang Alkitabiah.2 Alkitab tegas mengatakan bahwa “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku.” Ayat ini tidak perlu dibaca dengan pengertian Kalvinistik, tetapi ayat ini menegaskan bahwa kemampuan untuk datang kepada Yesus adalah suatu karunia.3 Tanpa tindakan Allah menarik manusia, ia tidak mungkin beriman. Kedua, iman adalah karunia Allah karena Allah memberikan kesempatan kepada manusia untuk beriman. Allah bisa saja memusnahkan manusia sebelum ada kesempatan untuk beriman. Tetapi setiap orang percaya haruslah mengucap syukur bahwa Allah memberikannya waktu dan kesempatan untuk beriman. Itu adalah suatu karunia. Selain itu, iman juga bisa dikatakan karunia Tuhan karena Tuhan-lah yang menyediakan objek iman, yaitu Yesus Kristus. Jika Yesus Kristus tidak datang ke dalam dunia, tidak ada yang dapat kita imani untuk keselamatan kita. Dari ini semua, cukup jelas bahwa iman adalah karunia Allah.

     Tetapi, penjelasan tentang karunia iman di atas tidaklah bertentangan dengan konsep alkitabiah bahwa iman adalah tanggung jawab manusia. Artinya, walaupun Allah memampukan seseorang untuk beriman (melalui kerja Roh Kudus dalam hatinya), dan memberikan kesempatan dia untuk beriman, dan menunjukkan kepadanya Yesus Kristus sebagai objek iman, orang yang bersangkutan itu sendirilah yang harus beriman. Tidak mungkin juga Tuhan yang beriman untuk orang tersebut. Dan ada kemungkinan bahwa walaupun Roh Kudus sudah bekerja dalam hati seseorang untuk menarik dia kepada Yesus, orang itu tetap menolak untuk beriman. Keputusan untuk beiman atau tidak beriman tetap merupakan tanggung jawab individu. 

     Jadi, iman adalah karunia, karena Allah memampukan manusia beriman (dan hal-hal lain), tetapi iman juga tanggung jawab karena keputusan untuk beriman atau tidak tetap adalah respons individu, bukan ditentukan oleh Allah. Konsep karunia seperti ini cocok dengan konsep karunia pada umumnya. Jikalau seseorang memberikan kepada temannya suatu karunia, atau hadiah, orang itu tetap dapat merespon, menerima atau menolak hadiah tersebut. Sekalipun seseorang tidak perlu membayar, atau bekerja, tetap saja ia harus memilih untuk menerima suatu hadiah. Kalau ia tidak menerimanya, maka hadiah yang sudah disediakan baginya itu tidak akan dapat ia nikmati. Ini paralel dengan keselamatan atau iman yang adalah karunia, namun tanpa menghilangkan adanya tanggung jawab untuk menerima karunia itu.

   Jika demikian, apakah konsep non-Kalvinis ini menjadi sama dengan Kalvinis? Bukankah keduanya mengakui bahwa iman adalah karunia Allah? Tidak juga. Pertama, Kalvinis tidak mau menegaskan bahwa iman adalah tanggung jawab atau respons manusia. Dan, mereka memiliki konsep yang berbeda tentang iman sebagai “karunia Allah.” Konsep Kalvinis adalah bahwa kalau seseorang dipilih, maka ia pasti beriman. Iman dalam Kalvinisme adalah salah satu hasil pemilihan. Dengan demikian, sebenarnya posisi Kalvinis adalah bahwa iman adalah karunia yang tidak dapat ditolak, selaras dengan pengajaran mereka tentang irresistible grace. Terkadang, dalam perdebatan antara Kalvinis dengan non-Kalvinis, ada non-Kalvinis yang menentang konsep “iman adalah pemberian Allah.” Tetapi, yang ditentang sebenarnya adalah “karunia” dalam pengertian “tidak dapat ditolak.” Non-Kalvinis tidak menentang konsep iman sebagai karunia yang tetap harus diterima, tetapi bisa juga ditolak, oleh manusia.

    Jadi, non-Kalvinis percaya bahwa iman adalah tanggung jawab manusia, dan JUGA karunia Allah. Tanpa kerja Roh Kudus, kesempatan yang Allah berikan, dan objek iman Yesus Kristus, manusia berdosa tidak mungkin bisa beriman. Namun, setiap individu tetap harus bertanggung jawab untuk beriman. Ia bisa menolak tarikan Allah. Sebaliknya, Kalvinis mengajarkan iman sebagai suatu pemberian/karunia yang tidak dapat ditolak. Pembaca sekalian bisa memutuskan, apakah sesuatu cocok untuk disebut karunia jika tidak dapat ditolak, ataukah suatu karunia tetap harus diterima. Bagian berikut artikel ini akan membahas yang mana dari kedua model ini yang benar, berdasarkan ayat-ayat Alkitab, dan argumentasi lainnya.

A. Iman Adalah Karunia Allah

    Kalvinis terkadang menunjuk kepada ayat-ayat Alkitab yang mengindikasikan bahwa iman adalah suatu karunia, dan mereka berpikir bahwa hal ini membenarkan Kalvinisme. Tetapi, sebenarnya, seperti yang sudah dibahas di atas, non-Kalvinis yang alkitabiah juga percaya bahwa iman adalah karunia, jadi ayat-ayat ini tidaklah mendukung Kalvinisme. Kalvinisme baru akan terbukti benar jika ada ayat yang mengajarkan bahwa iman adalah karunia yang tidak dapat ditolak. Tetapi tidak ada ayat yang mengajarkan bahwa iman adalah karunia yang tidak dapat ditolak. Berikut adalah beberapa ayat yang terkadang disalahgunakan.

Filipi 1:29 “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia”

   Ayat ini sering dipakai untuk membuktikan bahwa “iman adalah karunia.” Tetapi sekali lagi, konsep demikian tidaklah membahayakan bagi non-Kalvinis. Sebaliknya, kita bertanya, apakah ayat ini membicarakan karunia yang tidak dapat ditolak, ataukah suatu karunia dalam pengertian normal, yaitu sesuatu yang bisa ditolak dan bisa diterima?

    Poin ayat ini sebenarnya adalah untuk menegarkan orang percaya terhadap penderitaan yang akan datang dalam perjuangan hidup Kristiani. Karunia untuk percaya diparalelkan dengan karunia untuk menderita bagi Kristus. Bagaimanakah “menderita bagi Kristus” bisa dianggap karunia? Apakah hal itu terjadi tanpa tanggung jawab manusia. Apakah seseorang ditentukan untuk menderita bagi Kristus secara sepihak oleh Tuhan, ataukah ada respons manusia yang dituntut?

  Ada banyak ayat yang menegaskan tanggung jawab manusia untuk ikut menderita dalam perjuangan Kristiani. Misalnya, Paulus berkata “Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus” (2 Tim. 2:3). Penderitaan bukanlah sesuatu tanpa tanggung jawab manusia. Ada ajakan untuk ikut menderita, ada respons manusia yang diminta oleh Tuhan.Namun demikian, menderita juga disebut karunia karena kemuliaan Tuhan janjikan menyertai penderitaan itu. Jadi, ayat ini sama sekali tidak mendukung konsep iman sebagai karunia yang tidak dapat ditolak, tetapi cocok dengan konsep iman sebagai karunia dalam pengertian non-Kalvinis, yaitu karunia yang tetap menuntut respons manusia.

Efesus 2:8 “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah”

    Kalvinis terkadang memakai ayat ini untuk mengatakan bahwa “iman” adalah pemberian Allah, dan lebih lanjut lagi, bukanlah “hasil usahamu,” sehingga bukanlah tanggung jawab manusia. Tetapi pengertian seperti ini sangatlah salah dan asing bagi ayat ini. Pertama, iman memang bukan usaha atau pekerjaan, melainkan suatu sikap menerima pemberian Allah. Jadi, iman bisa saja memang “bukan usaha” tetapi adalah “tanggung jawab” manusia. Tidak semua “tanggung jawab” adalah “usaha.”

    Kedua, Kalvinis salah menafsirkan frase “itu bukan hasil usahamu.” Mereka melihat kata “itu” mengacu kepada iman. Gill, berkomentar tentang Efesus 2:8 dengan berkata, “…dan iman ini bukanlah hasil kehendak bebas dan kuasa manusia, tetapi adalah pemberian bebas dari Allah.”4 Padahal, frase “itu bukan hasil usahamu” tidak mungkin mengacu kepada iman jika ditilik dari bahasa aslinya. Dalam bahasa Yunani, “iman” berasal dari kata pistis, suatu kata benda feminim. Sedangkan, kata “itu” dalam ayat ini adalah kata touto, suatu kata penunjuk netral. Jadi, secara grammatis, tidak mungkin suatu kata penunjuk netral mengacu kepada kata benda feminim. Sebenarnya, “itu” yang dimaksud adalah konsep keselamatan yang dibahas Paulus dalam perikop ini. “Keselamatan” bukan hasil usaha manusia, tetapi pemberian Allah. Tentu non-Kalvinis sangat setuju bahwa keselamatan adalah pemberian Allah. Justru hal ini membuat kita kembali kepada pertanyaan, bukankah suatu “pemberian” seharusnya bisa ditolak dan bisa diterima? Ayat ini sama sekali tidak mendukung iman sebagai karunia yang tidak bisa ditolak.

2 Tesalonika 3:2 “dan supaya kami terlepas dari para pengacau dan orang-orang jahat, sebab bukan semua orang beroleh iman.”

    Ayat ini sekilas tampak mengajarkan bahwa orang-orang jahat adalah orang-orang yang tidak “beroleh” iman. Jadi, mereka tidak diberikan iman (oleh Tuhan), sehingga mereka tetap orang jahat. Tetapi penafsiran seperti in tentu sangat berbahaya, karena ujung-ujungnya mempersalahkan si pemberi iman (kenapa tidak memberikan iman kepada mereka). Selain itu, penafsiran ini didasarkan kepada penerjemahan yang salah. LAI melakukan kesalahan besar dalam penerjemahan ayat ini dengan memakai kata “beroleh.”

    Pengertian sebenarnya ayat ini tercermin dalam terjemahan yang lebih baik. KJV misalnya, berbunyi, “And that we may be delivered from unreasonable and wicked men: for all men have not faith.” Jadi, “tidak semua orang memilikiiman.” Itulah sebabnya mereka jahat, karena mereka tidak memiliki iman. Ayat ini sama sekali tidak berbicara mengenai asal usul iman itu, tetapi mempersalahkan orang-orang itu sendiri, mereka jahat karena tidak beriman.

Roma 12:3 “… tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.”

      Ayat ini berbicara mengenai iman yang dikaruniakan Allah. Tetapi, ada beberapa alasan mengapa ayat ini sama sekali tidak mendukung konsep Kalvinis tentang iman sebagai karunia yang tidak dapat ditolak. Terutama adalah fakta bahwa perikop ini sama sekali bukan berbicara mengenai iman keselamatan. Perikop ini berbicara mengenai iman sebagai salah satu karunia rohani, yang diberikan kepada seseorang yang sudah percaya Yesus. Karunia rohani yang sama disinggung Paulus dalam 1 Korintus 12:9, “Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan.” Tidak mungkin ini mengacu kepada iman keselamatan, karena tidak semua orang yang selamat mendapatkan karunia ini. Karunia rohani ini mengacu kepada kemampuan yang Tuhan berikan kepada orang-orang tertentu untuk melakukan hal-hal besar bagi Tuhan berdasarkan iman. Iman dalam Roma 12:3 dan 1 Korintus12:9 berkenaan dengan iman dalam pelayanan khusus.

2 Petrus 1:1 “Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.”

     Ayat ini juga terkadang dipakai Kalvinis untuk mengajarkan bahwa iman adalah karunia atau pemberian Allah. Tetapi, sekali lagi perlu ditekankan, sistem non-Kalvinis tidaklah anti dengan konsep iman sebagai karunia, bahkan non-Kalvinis mengajarkan bahwa iman adalah karunia sekaligus tanggung jawab. Yang tidak dipercayai non-Kalvinis, adalah implikasi Kalvinisme bahwa iman adalah karunia yang tidak dapat ditolak, dan yang tidak melibatkan tanggung jawab manusia.

     Ayat ini sama sekali tidak mengatakan bahwa iman adalah karunia yang tidak dapat ditolak, itu harus dibaca oleh Kalvinis ke dalam teks. Orang percaya memperoleh iman dari Tuhan, itu benar! Apakah ini menghilangkan tanggung jawab manusia? Sama sekali tidak! Jika seseorang berkata bahwa ia memperoleh ilmu dari gurunya, apakah itu berarti ia tidak bertanggung jawab untuk belajar? Iman adalah karunia Tuhan, tetapi manusia bertanggung jawab untuk menerima karunia itu. Bagian berikut akan mempertegas hal ini.

Apakah Iman itu Usaha atau Jasa?

     Kalvinis sering mengatakan, bahwa jika iman itu bukan kasih karunia (yang tidak dapat ditolak), melainkan respons manusia, maka iman menjadi semacam jasa yang dapat dibanggakan oleh manusia. Dengan kata lain, mereka menuduh iman versi non-Kalvinis sebagai “usaha manusia” atau “jasa.” Tetapi, ini adalah logika mereka sendiri. Iman itu tidak lain dari sikap menerima. Apakah menerima suatu hadiah bisa dikatakan suatu jasa? Apakah menerima hadiah berarti ikut bekerja untuk hadiah itu? Sama sekali tidak! Untuk pembahasan lebih lanjut mengenai tuduhan Kalvinis bahwa iman (non-Kalvinis) adalah jasa/usaha, silakan llihat artikel lain di http://www.graphe-ministry.org/downloads/Perbedaan_Kalvinis_dengan_non-Kalvinis(1).pdf.

B. Iman Adalah Tanggung Jawab Manusia

Manusia diperintahkan untuk percaya!

     Ketika kepala penjara Filipi bertanya tentang apa yang harus ia lakukan untuk diselamatkan, Paulus tidak berkata, “Tidak ada apa-apa yang bisa kamu lakukan. Silakan menantikan pemberian iman, jika memang engkau orang pilihan.” Tidak, sebaliknya, Paulus berkata, “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu” (Kis. 16:31). Ada sesuatu yang harus ia lakukan, bukan dalam pengertian suatu usaha atau pekerjaan, atau jasa, tetapi ada tanggung jawab untuk beriman.

      Perintah untuk beriman kepada Yesus merupakan inti dari Injil, dan sudah dikumandangkan sejak semula. Tuhan Yesus sendiri memulai pelayananNya dengan menekankan tanggung jawab ini: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mar. 1:15). Belakangan Ia juga berkata, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” Ini adalah perintah.5 Manusia diperintahkan untuk percaya! Jelas ini menunjuk kepada suatu tanggung jawab! Jika iman adalah suatu pemberian yang tidak dapat ditolak, maka sama sekali tidak ada gunanya untuk memerintahkan hal ini. Lebih masuk akal untuk meminta Allah memberikan iman, daripada memerintahkan manusia untuk percaya!

      Posisi Kalvinis bagaikan seorang guru yang secara rahasia menyelipkan pita-pita biru ke dalam tas sebagian murid-muridnya pada saat mereka beristirahat. Lalu guru ini memberikan perintah kepada semua murid untuk memiliki pita biru, padahal tidak ada cara untuk memperoleh pita biru itu kecuali melalui “pemberian” guru tadi. Apakah tanggapan kita tentang perintah guru demikian? Tentunya ini adalah suatu perintah yang aneh. Guru itu tahu bahwa yang tidak dia berikan pita biru tidak mungkin memiliki pita biru. Lebih lagi, yang sudah dia berikan pita biru (secara rahasia) tidak perlu diperintah. Perintah ini menjadi sesuatu yang sama sekali tidak berguna, dan boleh dikategorikan sebagai suatu sandiwara.

     Demikian juga jika iman dikonsepkan sebagai suatu pemberianyang tidak dapat ditolak, maka semua perintah Tuhan agar manusia percaya dan bertobat kepadaNya menjadi tidak berguna, dan tidak lebih dari suatu sandiwara.

Ketidakpercayaan adalah pilihan manusia

Ibrani 3:12 berbunyi, “Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup.” 

     Ayat ini dengan jelas mengajarkan bahwa sikap tidak percaya adalah pilihan manusia, dan suatu pilihan yang dapat dihindari. Oleh sebab itu, penulis menghimbau audiensnya untuk jangan menjadi tidak percaya. Tetapi ini berarti audiens kitab Ibrani bisa memilih untuk percaya! Itu berarti percaya adalah tanggung jawab manusia yang bisa ia pilih.

Manusia dipuji Tuhan berdasarkan imannya

    Ada beberapa perikop yang memperlihatkan pujian Tuhan (atau sejenisnya) atas iman manusia. Matius mencatat: “Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh” (Mat. 15:28). Lukas mencatat, “Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: ‘Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!’” (Luk. 7:9). Jika memang iman adalah pemberian yang tidak dapat ditolak, untuk apa Yesus heran akan iman perwira yang dicatat dalam Lukas pasal 7? Bukankah iman itu diberikan oleh Yesus sendiri (oleh Allah) secara tidak dapat ditolak? Jika saya memberikan sebuah rumah besar kepada seseorang, lalu mengunjungi rumah orang tersebut, akankah saya heran bahwa rumahnya besar? Ini hal yang sangat konyol. Tetapi, jika iman tetap menyertakan porsi tanggung jawab manusia, maka pujian Tuhan terhadap iman ibu di Matius, atau perwira di Lukas, adalah pujian yang tulus, bukan sandiwara murahan.

Manusia dituntut tanggung jawabnya untuk percaya

     Pertanyaan mendasar adalah: jika iman bukan tanggung jawab manusia, bagaimana bisa Tuhan menuntut pertanggungan jawab manusia untuk percaya? Tetapi jelas Allah menuntut tanggung jawab dari manusia yang tidak percaya! “Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah” (Yoh. 3:18). “supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan” (2 Tes. 2:12). Markus mencatat bagaimana Tuhan Yesus mencela ketidakpercayaan sebagian muridNya, “Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya” (Mar. 16:14). Masih banyak lagi ayat lain yang memperlihatkan bagaimana Tuhan akan menuntut pertanggungan jawab dari orang yang tidak percaya!

      Dalam konsep Kalvinis, iman bukanlah tanggung jawab manusia. Tetapi bagaimana mungkin Allah menuntut manusia bertanggung jawab untuk percaya kalau begitu? Bagaimana Tuhan bisa mencela ketidakpercayaan seseorang jika orang itu tidak bisa percaya tanpa disetel untuik percaya oleh Tuhan? Lebih lanjut lagi, dalam Kalvinisme, jika seseorang tidak beriman, apakah sebabnya? Tidak lain dan tidak bukan, karena Allah tidak memberikan dia iman. Jadi, jika ditarik kepada kesimpulan logisnya, Kalvinisme secara tidak langsung membuat Allah bertanggung jawab atas ketidakberimanan seseorang. Betapa berbahayanya konsep Kalvinisme ini. 

     Coba kita ganti Yohanes 3:18 menjadi berikut: “Barangsiapa percaya kepadaNya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak memperoleh iman dalam nama Tunggal Allah.” Tentu saya yakin semua orang Kristen akan protes dengan bunyi ayat yang demikian! Tetapi dalam Kalvinisme, tidak memiliki imansama dengan tidak dikaruniakan iman oleh Tuhan. Sebaliknya, konsep non-Kalvinis adalah bahwa Allah memberikan kasih karunia, memampukan seseorang beriman, dan menarik dia, tetapi orang itu bisa menolak atau menerima kasih karunia Allah. Jadi, jika seseorang beriman, itu adalah kasih karunia Allah dan respons manusia. Jika seseorang tidak beriman, itu adalah tanggung jawab dia yang telah menolak karunia Allah. Ini adalah model yang alkitabiah.

Manusia Dituntut untuk Tetap Percaya

    Hal lain lagi yang dengan tegas menggarisbawahi tanggung jawab manusia dalam hal iman/percaya adalah fakta bahwa manusia dituntut Tuhan untuk “tetap percaya.” Jika “tetap percaya” adalah tanggung jawab manusia, maka dapat dipastikan bahwa iman/percaya itu memang sejak awalnya adalah tanggung jawab manusia.

    Banyak ayat yang menyatakan tanggung jawab manusia untuk “tetap percaya.” “Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya” (Ibr. 10:35). “Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya” (1 Kor. 15:1-2). Masih banyak lagi yang lain. Intinya adalah bahwa hal ini menegaskan iman sebagai tanggung jawab manusia.


C. Kesimpulan

     Kalvinis mengatakan bahwa iman adalah karunia atau pemberian. Ini adalah deskripsi yang kurang lengkap. Non-Kalvinis juga bisa mengatakan bahwa iman adalah karunia dan pemberian. Gambaran yang lebih tepat adalah bahwa Kalvinis mengajarkan iman sebagai karunia yang tidak dapat ditolak. Non-Kalvinis melihat iman sebagai karunia sekaligus tanggung jawab manusia. Dengan kata lain, iman bisa dilihat sebagai karunia, namun manusia tetap punya tanggung jawab untuk menerima atau menolak suatu karunia. Iman bisa disebut karunia dalam beberapa pengertian, misalnya: Allah memungkinkan manusia untuk beriman; Allah memberi manusia kesempatan untuk beriman; Allah memberikan objek iman (Yesus Kristus) kepada manusia. Pada umumnya manusia mengerti bahwa suatu karunia bisa ditolak dan bisa juga diterima.

      Ayat-ayat Alkitab yang diteliti memperlihatkan bahwa memang Allah mengaruniakan iman, tetapi tidak ada ayat yang mengatakan bahwa iman adalah kasih karunia yang tidak dapat ditolak, atau mengindikasikan hal tersebut. Sebaliknya, banyak ayat Alkitab lain yang menegaskan bahwa iman adalah tanggung jawab manusia. Sebagai kesimpulan, posisi Non-Kalvinis, bahwa iman adalah karunia (yang bisa diterima/ditolak) sekaligus tanggung jawab manusia, adalah posisi yang Alkitabiah, sedangkan posisi Kalvinis tidak Alkitabiah, tidak logis, dan pada ujungnya mempersalahkan Allah atas ketidakpercayaan manusia.


Oleh Dr. Steven E. Liauw


1G. J. Baan, TULIP (Surabaya: Penerbit Momentum, 2009), hal. 130.

2Bisa saja ada kelompok-kelompok non-Kalvinis yang percaya demikian, tetapi tidak untuk banyak kelompok non-Kalvinis.

3Kalvinis melihat “tarikan” di ayat ini sebagai irresistible grace, tetapi itu adalah eisegesis. Sebaliknya, Yohanes 12:32 berbunyi, “dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku.”

4John Gill, John Gill’s Exposition of the Entire Bible, s.v. Efesus 2:8, diakses dari program The Word.

5Kata “percaya” (pisteuo), muncul 13 kali dalam Perjanjian Baru dalam bentuk perintah (Imperative).

Mendapatkan Kepastian Masuk Sorga

      Sejak Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, semua manusia telah berada di bawah kutuk dosa dan tidak mungkin menghampiri Allah yang maha kudus. Dosa manusia harus diselesaikan agar manusia bisa menghampiri Allah dan tinggal di Sorga yang maha kudus. Dan dosa hanya dapat diselesaikan dengan satu cara saja yaitu dengan penghukuman. Untuk itu Allah segera menjanjikan Juruselamat yang akan datang untuk dihukumkan menggantikan manusia. Dalam menantikan kedatangan Juruselamat yang akan menggantikan mereka dihukumkan, Adam dan Hawa harus bertobat dan percaya kepada janji Allah untuk mengirim Juruselamat. Mereka harus melakukan ibadah simbolik yang menggambarkan proses penyelamatan yang direncanakan Allah dengan menyembelih seekor binatang korban di atas mezbah. Domba yang tak bercacat atau binatang korban untuk menyimbolkan Sang Juruselamat yang akan dihukumkan di atas kayu salib. Selanjutnya simbol ini selalu diperjelas. Nuh, sekeluar dari bahteranya hal pertama yang dilakukannya adalah mempersembahkan seekor binatang korban. Anak sulung Yahudi diselamatkan pada malam Paskah oleh darah anak domba yang disembelih.

     Semua orang yang hidup pada zaman sebelum penyaliban Yesus Kristus, jika ingin mendapatkan kepastian masuk Sorga, harus bertobat dan percaya kepada Juruselamat yang akan datang. KemudianYohanes Pembaptis menunjuk kepada Yesus Kristus dan berseru, “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29). Yesus Kristus disalibkan untuk menghapus dosa dunia, yaitu dari dosa Adam hingga dosa manusia yang terakhir. Dosa yang disebabkan oleh Adam telah dibereskan oleh Yesus Kristus (Rom.5:18-19). Oleh sebab itu bayi yang meninggal, dan yang lahir cacat mental, mereka pasti masuk Sorga. Tuhan katakan merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

     Namun setiap orang yang sehat mental, dan tidak meninggal saat bayi melainkan mencapai umur akil-balik, serta melakukan dosa, ia menjadi orang berdosa bukan karena Adam dan Hawa, melainkan karena kesadaran dirinya sendiri telah melakukan dosa. Jika ia ingin mendapatkan kepastian masuk Sorga, dosanya harus diselesaikan. Ia memerlukan Juruselamat untuk menanggung dosanya atau dirinya sendiri yang akan menanggungnya di Neraka. Kelompok Saksi Jehovah sengaja mengajarkan bahwa tidak ada Neraka agar manusia tidak perlu takut dan tidak berniat untuk menyelesaikan masalah dosanya.

   Orang-orang yang hidup sebelum penyaliban Kristus harus bertobat dan percaya kepada Juruselamat yang AKAN DATANG untuk menanggung dosa mereka. Sedangkan kita yang hidup sesudah penyaliban Kristus, juga harus bertobat dan percaya kepada Juruselamat yang SUDAH DATANG untuk menanggung dosa kita. Jadi, tidak ada satu orang pun yang bisa masuk Sorga tanpa melalui Yesus Kristus. Itulah sebabnya Yesus Kristus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh 14:6).

   Iman yang seperti apakah yang dapat memastikan seseorang masuk Sorga? Pertama adalah bertobat, artinya mengaku diri adalah orang berdosa dan menyesali dosa yang telah dilakukan. Kemudian percaya bahwa Yesus Kristus telah dihukumkan menggantikannya, dan setuju bahwa sekarang ia akan hidup menggantikan Yesus. Jadi, tiap-tiap hari ia menghayati bahwa Yesus Kristus telah menggantikannya menerima hukuman yang sepatutnya diterimanya. Yesus telah disalibkan dan telah turun ke alam maut, menggantikannya. Kemudian Dia bangkit, dan memberi garansi bahwa setiap orang yang mengaminkan bahwa Yesus telah menggantikan dirinya dihukumkan dan mengamin-kan bahwa ia akan hidup bagi Yesus maka di hadapan Allah Bapa orang tersebut tidak berdosa lagi karena ia telah mengenakan kekudusan Yesus Kristus. Yesus telah menjadi orang berdosa menggantikannya, dan ia selalu sadar bahwa ia sedang hidup menggantikan Yesus Kristus.

    Kalau ia jatuh ke dalam dosa lagi, maka sejauh ia tidak menyangkali Yesus Kristus, di hadapan Allah Bapa ia tetap orang kudus. Ia akan menghadap tahta pengadilan Kristus. Ia tidak akan dihukum oleh Allah Bapa yang akan menghukum setiap orang yang di luar Yesus Kristus di dalam Neraka. Orang yang telah di dalam Kristus akan menghadap pengadilan Kristus dan akan menerima penghukuman dari Kristus.

   Barangsiapa yang tidak berani yakin akan masuk Sorga, maka akan pasti masuk Neraka, karena sangat mungkin yang bersangkutan tidak tahu jalan ke Sorga. Tetapi setiap orang yang berani pasti masuk Sorga harus tahu alasan kepastiannya. Ia harus tahu bahwa kepastiannya bukan karena perbuatan, dan berbagai kegiatan ibadah, melainkan karena Yesus Kristus telah menggantikannya dihukumkan. Selama ia tetap di dalam iman kepada Yesus Kristus, ia tidak akan dihukumkan karena Yesus Kristus TELAH dihukumkan menggantikannya. Adam, Nuh, Abraham, Musa, semuanya telah bertobat dan percaya kepada Juruselamat yang AKAN menggantikan mereka dihukumkan. Kita yang hidup sesudah penyaliban Yesus Kristus, harus berto-bat dan percaya kepada Juruselamat yang SUDAH menggantikan kita dihukumkan.

    Jika pembaca ingin tahu lebih banyak tentang kepastian keselamatan, atau ingin agar orang-orang yang Anda kasihi diberitakan Injil yang menyelamatkan, hubungilah alamat yang tercantum di halaman pertama. Kami akan dengan senang hati menjelaskan kebenaran yang sangat penting ini kepadanya. “Karena Ia (Allah) menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat” (II Pet 3:9). Tuhan kiranya menerangi hati Anda.***


Oleh: Dr. Suhento Liauw,

Jakarta, 30 Mei 2013

Penutupan Gereja: Kesalahan Gereja atau Kelemahan Penegakan Hukum?


Posted on October 18, 2010 by Dr. Steven

   Minggu yang lalu, saya mendapatkan sebuah artikel (Mengapa Gereja Ditolak? Dalam http://www.yabina.org/layout2.htm) yang mengulas tentang mengapa banyak terjadi penutupan gereja di Indonesia belakangan ini. Artikel tersebut mulai dengan mengutip 1 Petrus 3:13-17, dan bertanya apakah gereja-gereja di Indonesia menderita karena kebenaran atau karena kesalahan gereja sendiri? Nada dari artikel itu sepertinya ingin menyimpulkan bahwa gereja-gereja di Indonesia ditolak karena kesalahan gereja itu sendiri. Lalu artikel itu memberikan enam hal yang dianggap sebagai “kesalahan” gereja dan yang patut dijadikan bahan introspeksi.

     Membaca artikel tersebut, saya merasa bahwa fokus berada pada tempat yang salah. Tentu saja gereja-gereja di mana pun, termasuk Indonesia, selalu bisa melakukan yang lebih baik lagi dalam berbagai hal, karena tidak ada gereja yang sempurna. Namun, kasus-kasus penutupan gereja akhir-akhir ini, apalagi yang disertai dengan kekerasan fisik, sama sekali tidak dapat disalahkan kepada pihak gerejanya. Kalau Indonesia adalah negara hukum, sebagaimana tertera dalam Undang-Undang Dasar negara ini, maka tidak ada pembenaran bagi penutupan gereja atau pelarangan seorang individu maupun kelompok individu dalam melaksanakan hak asasi mereka beribadah kepada Tuhan sesuai kepercayaan masing-masing.

    Lebih lanjut lagi, saya melihat bahwa artikel tersebut tidak disusun dari sudut pandang Alkitab atau rohani, melainkan pragmatisme, yaitu agar tidak “ditolak” orang-orang Islam di Indonesia. Bukan berarti tidak poin baik dalam artikel tersebut, tetapi bahkan dalam beberapa poin yang baik sekalipun, kesimpulan yang jelas justru tidak muncul. Berikut ini saya akan memberikan enam “kesalahan” atau “bahan introspeksi” yang dikemukakan oleh artikel tersebut, beserta tanggapan saya.

    Beberapa faktor dapat menjadi bahan renungan bagi gereja agar menjadikan momentum penolakan terhadap gereja itu sebagai cermin untuk introspeksi diri.

1. Ungkapan kekesalan yang kalah.
   Seorang tokoh Islam pernah berkomentar mengenai kaum radikal diagamanya yang membakar Mesjid (Ahmadyah) dan Gereja. Ia mengatakan bahwa tindakan itu didorong oleh rasa terdesak agama mayoritas atas migrasi agama minoritas di lingkungan mereka dan karena kesal dan merasa kalah maka timbullah reaksi yang acapkali radikal. Di negara-negara Barat yang mayoritas penduduknya beragama kristen, fanatisme yang sama juga bisa diidap oleh sekelompok kaum fundamentalis kristen, gerakan ‘anti Islam’ sekarang tumbuh di Barat;

    Saya jadi bingung dengan poin pertama ini. Apa sebenarnya yang perlu direnungkan, dan apa yang perlu “diperbaiki” di sini? Bisa jadi memang benar bahwa orang-orang radikal yang menyerang gereja merasa terancam dan merasa “kalah.” Lalu apakah yang harus gereja lakukan? Apakah gereja harus membiarkan mereka “menang” supaya tidak diganggu? Bagaimana kalau definisi “menang” mereka adalah jika tidak ada gereja lagi di Indonesia, seperti di Arab Saudi? Tentu tidak. Gereja perlu terus mengumandangkan kebenaran, memberitakan Injil, memenangkan orang bagi Kristus. Itu yang perlu gereja lakukan, terlepas dari tanggapan orang-orang radikal agama lain. Saya melihat bahwa masalah bangsa ini justru karena gereja tidak cukup banyak memberitakan kebenaran, tidak cukup banyak memberitakan Injil, dan memenangkan orang bagi Kristus. Kalau lebih banyak orang Indonesia bertobat dan percaya Tuhan, maka masalah korupsi, penurunan moralitas bangsa, pornografi, dll., akan semakin berkurang.

   Terlalu banyak pembahasan mengenai penutupan gereja berfokus pada masalah mayoritas dan minoritas. Padahal itu tidak ada hubungannya (seharusnya). Kalaupun seorang warga Indonesia adalah minoritas dalam hal tertentu, dia tetap memiliki hak-hak sebagai warga negara. Dan polisi seharusnya memastikan bahwa hak-haknya itu tidak dilanggar. Itulah negara hukum yang benar! Apakah Indonesia masih negara hukum, ataukah negara hukum rimba?

    Kalau seorang Kristen pindah ke suatu wilayah yang mayoritasnya Islam, dan membeli rumah di sana, maka ia adalah penduduk di sana juga. Dan terlebih lagi, ia adalah warga negara Indonesia, yang diberikan hak-hak tertentu (dan juga kewajiban) oleh negara, di mana pun ia berada di negeri Indonesia ini, dari Sabang sampai Merauke. Salah satu hak itu adalah untuk beribadah menurut kepercayaannya. Selama ia melakukanya di tanah dan rumahnya sendiri, tanpa mengganggu orang lain, dan tanpa tindakan kriminal, maka secara hukum ia punya hak penuh untuk melakukan itu.

   Dan dia berhak untuk mengundang teman, keluarga, atau siapapun yang bersedia, untuk ikut bersama dia. Bahwa fakta lapangan berkata lain justru membuktikan bahwa kesadaran dan penegakan hukum lemah di Indonesia, bukan salah orang Kristen tersebut. Jika “pihak mayoritas” tidak dapat menerima hal ini, itu menunjukkan bahwa “toleransi beragama” Indonesia yang digembar-gemborkan itu hanyalah omong kosong belaka! Toh, jika seorang beragama Islam pindah ke tempat yang mayoritas Kristen atau Hindu atau Budha, bukankah ia mengharapkan hak yang sama?

    Lebih parahnya lagi, penulis artikel tersebut menyamakan apa yang dilakukan oleh radikal Islam dengan fundamental Kristen di Barat. Pastinya penulis tersebut tidak tahu banyak tentang kaum fundamental Kristen, dan hanya terpengaruh opini umum tanpa riset terlebih dahulu. Tidak dapat disangkal bahwa ada kaum “radikal” dalam kekristenan, misalnya bidat-bidat bunuh diri, dll., tetapi ini jauh berbeda dari “gerakan fundamentalisme Kristen” di awal abad 20 yang intinya adalah menolak liberalisme. Kaum fundamental Kristen hanya punya satu tiang pengajaran: yaitu kesetiaan kepada Alkitab sebagai satu-satunya otoritas tertinggi, dan komitmen untuk melakukan semua perintah Alkitab dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kaum fundamental Kristen harus “mengasihi musuh” sebagaimana Kristus ajarkan. Sayangnya, media massa sering menyamakan bidat-bidat dan kaum-kaum radikal dengan “fundamentalisme Kristen.” Kesalahpahaman ini juga karena adanya “fundamentalis” agama lain yang suka melakukan kekerasan. Tetapi pada dasarnya berbeda sama sekali. Kaum fundamentalis adalah kaum yang kembali kepada fondasi (foundation). Kalau fondasi suatu agama kacau, maka kaum fundamentalisnya akan kacau. Kalau fondasinya adalah Alkitab, maka semakin fundamental, maka semakin mirip Alkitab.

   Hal yang tidak digali oleh artikel tersebut adalah perbedaan kebanyakan negara Barat dengan Indonesia, yaitu tingkat penegakan hukumnya. Bisa saja ada orang yang anti-Islam di Barat. Tetapi jika mereka melakukan kekerasan, maka mereka akan ditangkap dan dijatuhi hukuman. Apakah hal yang sama terjadi di Indonesia terhadap orang yang merusak gereja?


2. Kristenisasi Massal?
   Gereja banyak dituduh melakukan kristenisasi massal, benarkah? Belum lama ini di Bekasi ada gereja dimana pendetanya dikejar-kejar dan dihalalkan darahnya, soalnya pendeta itu melayani yayasan yang mengumpulkan banyak pemulung dan melakukan aksi sosial kepada mereka, tak lama kemudian dilakukan pembaptisan masal para pemulung yang didatangkan ke kolam renang dengan banyak bus;

  Saya merasa bahwa poin ini juga salah fokus atau tidak disampaikan dengan kata-kata yang benar. Jangan salah tanggap, saya sangat tidak setuju dengan cara-cara peng”kristenan” yang tidak alkitabiah, apakah dengan sogokan uang (money religion), iming-iming hal-hal jasmani, apalagi dengan paksaan. Jadi, kalau memang ada pendeta yang mencoba membuat orang-orang miskin menjadi “kristen” dengan cara memberi mereka uang (aksi sosial), maka jelas itu tidak alkitabiah, dan tidak akan pernah saya dukung.

   Namun demikian, saya tidak habis pikir mengapa artikel yang saya kritisi ini, yang ditulis oleh lembaga Kristen, justru tidak senang dengan “kristenisasi.” Kalau kristenisasi itu dilakukan secara alkitabiah, yaitu dengan cara penyampaian Injil yang benar yang menuntut pertobatan dan iman sejati kepada Yesus Kristus, maka itu adalah tugas setiap gereja Kristus. Dan kalau itu bisa terjadi secara massal, maka puji Tuhan! Penginjilan atau penobatan orang-orang berdosa, atau yang disebut “kristenisasi” (karena percaya kepada Kristus sama dengan menjadi Kristen), adalah Amanat Agung kita dan adalah salah satu alasan utama eksistensi gereja. Apakah kita harus mengubah amanat tersebut, hanya karena ada orang yang tidak senang dan mau menutup gereja karenanya?

     Lebih baik gereja yang ditutup dan harus go underground karena giat memberitakan Injil daripada gereja yang berdiri terbuka tetapi tanpa hasrat memenangkan jiwa kepada Kristus. Jika harus mengutamakan “legalitas” atau “penerimaan masyarakat,” maka Rasul-Rasul di abad pertama tidak perlu menobatkan orang-orang Yahudi secara massal (3000 orang pada hari Pentakosta) dan tidak akan pernah dianiaya. Kadang-kadang kita harus bertanya, apakah sedemikian takutnya kita akan aniaya, sehingga kita tidak mau melaksanakan tugas?

    Sayangnya, sepertinya banyak orang Kristen yang tidak memiliki konsep yang benar dalam hal ini. Beberapa tahun lalu, waktu sebuah STT di Jakarta ditutup massa, salah seorang teman Kristen saya berkomentar: “Ya, wajar saja. Habis, mereka terlalu vulgar. Masa mahasiswanya naik ke bis-bis dan menginjil sembarang orang di sana.” Kalau ini keluar dari mulut seorang non-Kristen, saya masih akan memaklumi sudut pandangnya. Tetapi saya sedih sekali kalau seorang “Kristen” merasa bahwa “menginjil di bis” adalah sesuatu yang salah. Saya sedih jika gereja-gereja berpikir bahwa mereka tidak boleh “agresif menginjil” karena takut akan dibenci. Bukankah itu yang terjadi kepada Tuhan kita dan para Rasul?

    Memang, topik “kristenisasi” ini sudah sering diangkat dan dijadikan alasan penolakan gereja oleh berbagai pihak radikal seperti FPI, dll.Tetapi kepada orang-orang Islam, saya ingin bertanya: bukankah kalian juga ingin menyiarkan agama Islam? Bukankah FPI akan sangat senang jika ada orang Kristen yang menjadi Islam? Mengislamkan orang adalah salah satu ajaran Islam. Sama seperti mengkristenkan orang adalah salah satu ajaran Kristen. Kalau begitu, marilah kita lakukan ajaran masing-masing dengan damai. Yang penting tidak ada unsur paksaan atau penipuan. Orang Islam silakan menyiarkan agamanya, dan orang Hindu, Budha, dan Kristen, juga berhak untuk menyiarkan agamanya. Lagipula, jika seseorang memberitakan Injil kepada temannya yang beragama lain, tidak ada hukum yang dia langgar. Jadi kalau penutupan gereja terjadi karena alasan “kristenisasi,” maka penegakan hukum sangatlah lemah.


3. Fanatisme Israel.
    Dalam kasus konflik Israel-Palestina, umat kristen cenderung membela Israel, bahkan banyak turis kristen berkunjung dan mendatangkan devisa untuk Israel dan menutup mata terhadap penderitaan orang Palestina di sana. Kita harus sadar bahwa nenek moyang orang Palestina sudah lebih dahulu berada di kawasan itu sebelum Abraham menyeberang dari kawasan Aram diseberang sungai Efrat ke Kanaan. Ingat juga bahwa Yesus tidak pernah mau dijadikan pembebas bangsa Israel secara fisik apalagi mendirikan kerajaan Israel, tetapi membebaskan manusia dari dosa;

     Untuk poin yang satu ini, ada hal-hal yang saya setujui. Perjuangan Kristiani bukanlah politis. Itu bukan panggilan kita, dan bukan itu alasan kedatangan Kristus yang pertama. Di sisi lain, konflik Israel-Palestina adalah konflik yang kompleks, dan tidak ada pihak yang 100% benar atau 100% salah dalam kasus ini. Mayoritas orang Muslim di Indonesia condong untuk simpati kepada pihak Palestina, terutama karena kesamaan agama. Pemberitaan media massa di Indonesia juga cenderung menonjolkan kesalahan Israel dan menutupi kesalahan negara-negara Arab.

    Orang Kristen tentu seharusnya mengasihi baik orang Israel maupun orang Palestina dengan kasih Kristus. Tetapi adanya perbedaan pendapat mengenai Israel tidak seharusnya dan tidak boleh dijadikan alasan untuk menutup gereja di Indonesia, karena ini adalah dua hal yang tidak berhubungan. Lebih lanjut lagi, yang diinginkan oleh banyak kelompok Islam radikal bukanlah “kesejahteraan Palestina,” melainkan “kehancuran Israel.”


4. Dari Katakombe ke Basilika;
    Gereja-gereja diawali dengan misi yang sederhana bahkan menderita di lorong-lorong bawah tanah (Katakombe), namun setelah terkumpul masa dan kaya maka dibangunlah gereja besar bahkan megachurch yang sering mencolok dilihat (ala Basilika, masa ini disebut masa sekularisasi gereja). Seusai kerusuhan SARA di Situbondo (1996) dan sekitarnya dimana 27 gereja dirusak/dibakar, ada gereja di jalan protokol yang dibangun lebih mewah dari puing kebakarannya, ini mendatangkan kritik Sumartana almarhum yang menyebut bahwa: “Gereja kurang peka membangun dipintu masuk kota santri itu. Bandingkan ini dengan seorang yang di jalan-masuk rumahnya ada tamu tak disenangi yang berdiri dengan ‘mekakang’!

    Gereja memang tidak perlu menonjolkan aspek fisik, namun kalau ada gereja yang dibangun besar dan megah, apakah itu suatu kesalahan? Hukum apakah yang telah dilanggar? Selama gedung dibangun di atas tanah pribadi, dengan dana pribadi, tanpa melanggar hukum, maka seharusnya tidak ada masalah. Dan daripada melihat gereja sebagai “tamu,” sebenarnya orang-orang Kristen adalah sesama warga negara yang memiliki hak-hak yang sama. Kita bukanlah “tamu” di negeri ini, kita adalah penduduk negeri ini. Herannya, fokus perhatian malah pada pembangunan kembali gereja yang “lebih mewah,” bukan pada betapa salahnya pembakaran 27 gereja pertama itu, apapun alasan yang mau dipakai. Artikel itu seolah-olah membenarkan pemikiran “saya tidak suka kamu karena rumah kamu lebih besar dari rumah saya.” Padahal, tidak jarang gereja-gereja yang kecil juga dipersulit, dan keberatan ini hanyalah suatu alasan yang dicari-cari dan yang tidak sah pula secara logika maupun hukum.

5. Denominasionalisme.
    Salah satu masalah internal gereja adalah persaingan antar gereja. Kita bisa melihat kalau ditempat berdekatan dibangun beberapa gereja dari denominasi berbeda, akibatnya rasio jumlah jemaat lokal dibanding kesediaan gedung gereja menjadi pincang. Ada kota sedang didekat Situbondo dimana penulis pernah melayani dan diajak majelis berkeliling kota dan ditunjukkan sebuah gereja besar yang kapasitasnya 2.000 kursi yang dibangun dekat pesantren, lalu penulis menanyakan ‘jemaatnya berapa ya?’ jawabnya ‘200.’ Baru-baru ini seorang majelisnya memisahkan diri dan membangun gereja saingan berkiblat ke gereja sukses di Surabaya yang dibangun diantara gereja itu dan pesantren. Gereja berdempetan bukan hal baru di ruko-ruko bahkan sering berebut jemaat dan tampat parkir!

    Masalah denominasi adalah topik yang besar dan yang tentu tidak dapat dibahas dalam tulisan ini. Biasanya muncul denominasi adalah karena perbedaan dalam poin-poin pengajaran tertentu. Karena ada kebebasan individu untuk menafsir Alkitab, maka adanya “aliran-aliran” gereja yang berlainan tidak dapat dihindari, kecuali kekristenan sudah mengadopsi sistem “fatwa” dan mulai memaksa semua orang untuk mengikuti satu aliran, gaya “penutupan Ahmadiyah.”

   Tetapi yang saya tidak habis pikir adalah bagaimanakah hal ini berhubungan dengan penutupan gereja? Seharusnya tidak boleh ada hubungannya. Bahwa ada banyak gereja dan berjenis-jenis gereja itu adalah fenomena kekristenan. Kalau negara Republik Indonesia masih menganut kebebasan beragama, maka gereja boleh didirikan di tanah pribadi milik orang Kristen, tidak peduli apakah ada 20 gereja berderet sekaligus. Itu bukan urusan pemerintah, apalagi umat agama lain. Pemerintah seharusnya melindungi hak-hak warganya dan menegakkan hukum.

6. Eksklusivisme.
    Salah satu kelemahan gereja masakini adalah umumnya memiliki jemaat yang berdomisili jauh dari lokasinya, akibatnya kalau masa kebaktian mobil-mobil berjubel dikekeliling gereja itu. Berbeda dengan itu, mesjid umumnya bersifat lokal dimana banyak jemaatnya berasal dari lingkungan yang sama sehingga cukup berjalan kaki, akibatnya perbedaan sosial pengunjung gereja dan lingkungan tidak besar, ini berbeda dengan gereja-gereja etnis tertentu yang cenderung tidak peduli dengan penduduk disekitar gerejanya.

    Kalau gereja tidak peduli dengan lingkungan, maka ya, itu adalah sesuatu yang harus dibenahi. Gereja perlu memiliki hubungan baik dengan sekitarnya, bukan terutama untuk legalitas, tetapi terutama untuk memenangkan mereka bagi Kristus. Masalah yang disebutkan di atas ini sebenarnya adalah masalah yang diciptakan oleh “penolakan terhadap gereja” itu sendiri. Mengapa orang Kristen pergi ke gereja yang jauh dari domisilinya? Ada banyak alasan. Salah satunya adalah karena sulit untuk mendirikan gereja di tiap-tiap tempat. Kalau ada 2 keluarga Kristen di suatu perumahan, orang-orang radikal akan menolak pembangunan gereja di sana, dengan alasan bahwa orang Kristen hanya 2 keluarga di situ. (Padahal, adalah hak dia untuk menggunakan rumahnya untuk kegiatan yang tidak melanggar hukum). Jadi, 2 keluarga itu harus bepergian relatif jauh untuk bergereja. Tentu ini tidak dapat dibandingkan dengan mesjid yang boleh didirikan di mana saja.

    Masalah mobil yang berjubel adalah salah satu dari sedikit poin yang baik dalam artikel tersebut. Itu harus menjadi perhatian gereja, dan solusi yang baik harus dipikirkan. Maksudnya, jangan sampai kehadiran gereja mempersulit warga sekitar. Demikian juga dengan pemakaian sound system yang terlalu keras dan mengganggu ketenangan warga. Walaupun demikian, kadang-kadang sulit untuk tidak memperhatikan kemunafikan yang terjadi, karena umat agama tertentu “boleh” memblokir jalan raya umum saat mereka beribadah dan mengganggu ketenangan umum dengan pengeras suara di pagi-pagi buta.

    Melakukan introspeksi selalu adalah hal yang baik. Tetapi setelah saya melakukan introspeksi atas beberapa hal tersebut, saya dapatkan bahwa penutupan gereja-gereja yang terjadi belakangan ini di tanah air, sama sekali bukanlah kesalahan gereja-gereja tersebut, dan saya menyayangkan pandangan yang mengindikasikan demikian, apalagi dari sebuah organisasi Kristen. Yang menjadi masalah utama adalah lemahnya penegakan hukum dan pemerintah yang gagal memastikan kebebasan beragama, gagal melindungi hak-hak warga negaranya, sekalipun yang minoritas. Pemerintah RI telah “takut” kepada kaum radikal dari kalangan “mayoritas,” dan tidak sungguh-sungguh bertindak netral.

Menjadi Pengikut Yang Melek

      Judul di atas terdengar lebih membebani pihak pencari kebenaran, bukan pada pemimpin atau gereja yang menyediakan kebenaran. Sebenarnya jika tidak ada gereja yang betul-betul menyediakan kebenaran, maka pencari kebenaran akan mengalami kesulitan untuk menemukan kebenaran. Kalau gereja tidak mendorong orang-orang yang datang untuk mengerti kebenaran dan menjadi pengikut yang melek, melainkan dengan sengaja membakar emosi mereka bahkan memanipulasi emosi hadirin maka pengunjung tidak mungkin menjadi pengikut yang melek, melainkan akan menjadi pengikut yang membabi buta. 



Sifat Sebuah Gereja Sifat 


    Sebuah gereja sesungguhnya tergantung pada motivasi gereja itu didirikan. Sedangkan motivasi sebuah gereja didirikan tentu tergantung pada filosofi sang pendiri tentang gereja. Kalau bagi sang pendiri, gereja adalah institusi untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang terhilang, dan tempat untuk mengajarkan kebenaran illahi, maka penekanan gereja tersebut akan pada Injil yang benar yang sungguh-sungguh akan menyelamatkan setiap orang yang mengimaninya, dan gereja tersebut juga akan senantiasa mengedepankan pengajaran kebenaran. 
      
     Tetapi jika motivasi dan filosofi pendiri gereja adalah untuk mendapatkan sesuatu yang bersifat materi, jasmani dan duniawi, maka Injil yang benar baginya tidak sangat penting, demikian dengan kebenaran berbagai doktrin lain. Pemimpin gereja demikian biasanya akan memacu hadirin untuk mengejar sesuatu yang bersifat jasmani, materi dan duniawi. Ia akan menggembar-gemborkan kesembuhan jasmani, bukan rohani, dalam rangka menarik orang. Ia akan menawarkan berkat materi, bahkan dengan door-prize agar semakin banyak yang tertarik. 

    Sekali pemimpin menghantar hadirin mengejar perkara jasmani dan materi, sudah pasti hasilnya adalah orang Kristen duniawi. Sang pemimpin tidak peduli pada kebenaran Injil yang diberitakannya, dan biasanya tidak ada pengajaran doktrinal. Bahkan sang pemimpin sendiri tidak sekolah theologi, melainkan hanya berbekal pada kepintarannya berbicara. Biasanya untuk menutupi kekurangannya ia membeli gelar doktor dan lain sebagainya. Khotbahnya biasanya mengenai kehidupan sehari-hari yang kalah jauh dari nasehat Mario Teguh. Agar lebih menarik orang untuk hadir mereka menyampaikan banyak kesaksian dan cerita lucu. 

    Kesaksian mereka dibuat-buat bahkan terselip banyak kebohongan. Demi meyakinkan pendengarnya ada yang berkata kalau saya bohong biarlah saya diturunkan ke Neraka. Padahal dia tahu bahwa dirinya sedang bohong. Menga-pakah tidak Tuhan turunkan ke Neraka? Tentu belum sekarang melainkan nanti pada saat Tuhan datang, dan Tuhan akan berkata, “enyahlah hai kamu sekalian pembuat kejahatan” (Mat.7:21-22). Dan tentu semua pengikutnya juga dienyahkan bersama-sama dengannya. Tetapi sifat gereja yang didirikan oleh pemimpin yang sungguh-sungguh ingin menyelamatkan jiwa, penekanannya akan pada kebenaran. 

         Dan ketika penekanannya adalah pada kebenaran maka yang diutamakan ialah pengajaran atau doktrin. Kesaksian tidak bisa menyelamatkan orang melainkan doktrin tentang Keselamatan yang alkitabiahlah yang akan menyelamat-kan orang. KKR mujizat, door-prize, doa mele-paskan kutuk, dan lain sebagainya tidak akan membawa orang kepada kebenaran. Kebenaran diperoleh dari penelaahan Alkitab, bahkan bukan sekedar penelaahan melainkan harus sebuah usaha penel aahan yang sangat serius. 

      Ada usaha menggali Alkitab sedalam-dalamnya hingga ke dalam bahasa aslinya. Setelah berhasil membuat kesimpulan yang benar dari hasil penyelidikan yang serius, itu diyakini dan diajarkan. Keyakinan bahwa kesimpulannya benar bahkan paling benar pasti dimiliki oleh penyelidik Alkitab yang serius. Karena ia telah menyelidiki Alkitab sedemikian rupa dan mendapatkan kesimpulan yang diyakininya benar, maka segala kesimpulan lain yang berbeda apalagi bertentangan, akan dinyatakan salah bahkan sesat. Sikap demikian adalah efek dari sebuah keyakinan bahwa yang sedang dipercayainya adalah benar. 

     Keyakin-an bahwa yang dipercayainya benar tentu didasarkan pada usaha penyelidikan yang sedemikian mendalam yang telah dilakukannya. Pemimpin gereja demikian tidak akan rela menarik orang dengan cara lain selain dengan kebenaran. Gereja demikian pasti akan memberitakan Injil yang benar, dan berusaha mengajar-kan berbagai doktrin lain yang benar. Karena kebenaran dijunjung tinggi, maka yang dilakukan dalam mengko-munikasikannya pasti akan memilih acara seminar daripada KKR mujizat. Menarik orang kepada kebenaran dengan menarik orang untuk dikeruk duitnya itu berbeda. 

    Yesus Kristus adalah kebenaran, dan kebenaran tidak selalu menyenangkan. Banyak kali kebenaran bisa menyaki tkan bahkan sangat menyakitkan. 

Sifat Orang Ke Gereja 

       Banyak orang pergi ke gereja secara membabi buta. Mereka bahkan tidak jelas mau menicari apa di gereja. Ada yang ke gereja untuk mencari kesembuhan jasmani. Jelas sekali bahwa Yesus Kristus menyem-buhkan orang sakit adalah untuk membuktikan bahwa Ia adalah Allah yang memberi kehidupan. Dan sesuai dengan Alkitab karunia melakukan mujizat hanya diberikan kepada Rasul (II Kor.12:12). Karena banyak orang sakit yang frustasi dan kekurangan dana terbaca oleh pemimpin gereja, mereka meman-faatkan kesempatan dalam kesempitan orang, sambil memani-pulasi ayat-ayat Alkitab untuk menarik orang. 

    Tentu tepat sekali kalau Tuhan kemudian mengenyahkan mereka dan berkata bahwa mereka pembuat kejahatan (Mat.7:21-22). Seorang pengkhotbah yang selalu mengkhotbahkan kesuksesan dan kesembuhan, istrinya harus secara sembunyi-sembunyi berobat ke Singapore. Jemaatnya berpikir bahwa keluarga pengkhotbah tidak pernah sakit padahal tidak berobat di Indone-sia melainkan di Singapore. Ada juga yang ke gereja untuk mencari berkat materi. Karena banyak pengusaha yang mencium prospek bisnis rohani, ramai-ramai meninggalkan berbagai profesi dan memanfaatkan nama Tuhan untuk mengeruk materi. 

    Mereka mengklaim bisa mengutuk kebangkrutan dan bisa mendatang-kan berkat yang berlimpahan. Banyak orang yang kecapaian mencari uang, dan yang kekuatiran akan kebangkrut-an, datang untuk mencoba kemujaraban omongan pengkhotbah yang penuh percaya diri itu. Sangat mudah untuk memprediksi dan mengamati bahwa mereka bukannya mendapatkan sesuatu melainkan akan kehilangan banyak. Alkitab dengan sangat jelas me-nyuruh pemalas belajar dengan semut (Ams.6:6), dan orang yang tidak bekerja tidak boleh makan (II T es.3:10). 

Sifat Pengikut Yang Melek 

    Pembaca yang berhikmat, kalau motivasi awal seseorang pergi ke gereja bukan mencari kebenaran, maka sudah pasti ia tidak akan pergi ke gereja yang mengajarkan kebenaran. Ia tidak akan mencari gereja yang mengajarkan kebenaran, melainkan gereja yang menggembar-gemborkan kesembuhan jasmani dan yang berjanji akan memberikan berkat materi. Orang Kristen yang datang ke gereja bukan karena kebenaran, walau berpuluh-puluh tahun ia tetap tidak mengerti kebenaran. 

     Karena dari awal ia tidak mencari kebenaran sehingga ia tidak bertemu gereja yang mengajarkan kebenaran. Matanya bersinar-sinar ketika mendengarkan kesaksian yang disampaikan oleh pemimpin mereka untuk lebih merangsang orang datang. Sebaliknya matanya mengan-tuk ketika mendengarkan penguraian kebenaran. Ia akan lebih memilih menghadiri acara kesaksian daripada seminar doktrinal. Demikian juga dengan orang-orang yang belajar di sekolah theologi. 

   Bagi yang sungguh-sungguh mau belajar tentang kebenaran, agar nanti setelah tamat bisa mengajarkan kebenaran, akan memilih sekolah theologi yang betul-betul mengajarkan kebenaran. Tetapi bagi yang hanya mau mendapatkan pekerjaan melalui ijazah yang diakreditasi, ia akan mencari sekolah yang akreditasi, sekalipun tidak ada mutu sama sekali, bahkan belajar hanya sekadarnya. Tidak sedikit di antara pemimpin yang membeli ijazah, bahkan membeli titel dokt or. Padahal seseorang yang menyandang titel doktor namun tidak mengerti bahasa Ibrani dan Yunani sebenarnya malah akan memperma-lukan dirinya sendiri. 

    Hamba Tuhan yang tidak mencari kebenaran melain-kan hanya mencari ijazah, atau titel, tidak akan mendapatkan kebenaran, karena ia memang tidak mencarinya. Tetapi walaupun tidak banyak, pasti ada orang yang mencari kebenaran. Pasti ada mahasiswa theologi yang benar-benar lahir baru yang sungguh-sungguh ingin melayani Tuhan. Dan ada orang Kristen tulus yang pergi ke gereja untuk mencari kebenaran rohani. Orang-orang demikian akan dituntun Tuhan untuk mendapatkan kebenaran. 
   
     Sekitar pertengahan tahun 2013, seorang ibu yang telah berumur 82 tahun, datang ke kantor saya sambil memegang buku saya yang berjudul Nubuatan, Bahasan Lidah, Karunia Mujizat & Usir Setan, Masih Adakah? Beliau datang dari Kendari dalam rangka mengunjungi anaknya yang di Jakarta. Sambil memegang buku tersebut beliau berkata, “dari dulu saya tahu bahwa mereka yang bernubuat, bertemu Tuhan, dan melakukan mujizat itu tidak benar. Namun saya tidak tahu penjelasan ketidakbenaran mereka. Dan setelah saya membaca buku ini, kini saya sudah mengerti alasan bahwa mereka salah.” Ada seorang bapak yang seluruh keluarganya pergi ke gereja Katholik dan tinggal di Kemayoran. Bapak ini sudah pensiunan dan sangat hobi mendengarkan cerita wayang. Ketika bapak ini memutar tuner radionya untuk mencari siaran cerita wayang, ia tersangkut di AM 828 Radio Berita Klasik (RBK). 
  
      Firman Tuhan yang gamblang dan tegas menyentaknya. Ia meminta istri dan anak-anak untuk ikut mendengar pembahasan Alkitab Through the Bible dari Matius hingga Wahyu. Anak lakinya ikut tertarik tetapi istri dan putrinya sama sekali tidak. Ketika memberi diri dibaptis di Graphe, kesaksian beliau adalah, “saya sudah menghadiri gereja Katholik puluhan tahun. Setiap kali ketika saya akan dibaptiskan, saya mengajukan syarat kepada Pastor, kalau dia bisa menja-wab pertanyaan saya, maka saya mau dibaptis, tetapi kalau tidak maka saya tidak jadi dibaptis. 

       Dan setiap kali akan dibaptis, Pastor tidak bisa menjawab, sehingga puluhan tahun saya tidak jadi dibaptis.” Pembaca yang terkasih, pada zaman sekarang tidak ada orang yang langsung menjadi pengikut Tuhan Yesus tanpa melalui orang lain. Kita akan dapatkan kenyataan bahwa kita betul-betul ikut Tuhan Yesus adalah jikalau orang yang kita ikuti ternyata betul-betul ikut Tuhan Yesus. Dan hendaknya kita tidak menjadi pengikut yang membabi buta. Ibarat menumpang mobil, kita tahu bahwa supirlah yang memegang setir mobil, tetapi kita harus tahu jalan, atau setidaknya kita harus selalu memperhatikan peta jalan (Alkitab) yang di tangan kita. 

     Boleh saja kita duduk di dalam mobil tetapi jangan lalu tertidur lelap, melainkan selalu melek bahkan selalu mengamati jalan-jalan yang dilalui. Kalau sudah menyimpang dari kebenaran, tidak ada pilihan maka kita harus memberi tahu supir bahwa jalannya sudah salah, dan kalau si supir ngotot, tidak ada pilihan lain kita harus turun dan mencari mobil (gereja) lain. Saya banyak kali menjumpai feno-mena yang aneh. Ada orang yang telah menyadari kesalahan gerejanya, tetapi karena hutang budi, karena perteman-an, karena berbagai hal, ia betah tetap tinggal di dalam “mobil” yang dia tahu sudah menyimpang dari peta jalan yang benar. Pengikut demikian adalah pengikut yang membabi buta. 

     Dia tidak tahu resiko dari akhir perjalanannya. Mungkin ia belum pernah baca Amsal 14 ayat 12 yang berbunyi, “ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” Kesimpulan kita Pembaca yang penuh hikmat, untuk menjadi pengikut yang melek, pertama diperlukan adanya gereja yang benar-benar mengajarkan kebe-naran. Jika tidak ada gereja yang mengajarkan kebenaran, pencari kebenaran akan mengalami kesulitan. Oleh sebab itu gereja yang benar harus berjuang keras untuk memproduksi gereja-gereja yang benar agar memu-dahkan para pencari kebenaran. Selain adanya gereja yang benar, tentu pengikut yang melek adalah pengikut yang sungguh-sungguh mencari kebenaran dan yang berani membayar harga kebenaran. 

     Dalam perumpamaan Tuhan tentang ladang yang ada harta terpendam di dalam-nya, Tuhan berkata bahwa yang menemukannya menjual seluruh hartanya dan membeli ladang itu. Artinya jika pembaca mendapatkan gereja yang benar alkitabiah, layak bagi pembaca untuk menjual seluruh harta dan pindah ke lokasi gereja tersebut. Sedangkan dalam perumpamaan ten-tang mutiara yang indah Tuhan kata-kan penemunya menjual seluruh hartanya dan membeli mutiara itu, dan tentu dibawa pulang. Artinya jika seseorang menemukan kebenaran maka ia harus berani bayar harga untuk membawa kebenaran itu pulang yaitu mendirikan gereja yang benar di tempatnya. Hanya ada dua pilihan, pindah ke lokasi gereja yang benar atau pindahkan gereja yang benar ke tempat Anda. Jadilah pengikut Tuhan atau pengikut Gembala atau dosen secara melek, jangan membabi buta. oleh Dr. Suhento Liauw, PEDANG ROH Edisi 79 April-Juni 2014.


Apabila saudara ada pertanyaan bertanyalah. Ada Peribahasa mengatakan 
"Malu Bertanya Sesat di Jalan" 
Janganlah kita malu-malu menanyakan sesuatu kepada orang yang bijaksana.

Kekeliruan mengenai Roh jahat

      Para pendeta kharismatik tentu saja tidak pernah membaca Alkitab dengan benar dan berpendapat bahwa roh-roh jahat ada di depan mata. Mereka berpendapat bahwa banyak sekali orang, baik orang tidak percaya maupun Kristen, secara berat atau ringan dirasuki oleh roh-roh jahat tanpa menyadari sama sekali. Aneh jika harus mengatakan, bahwa mayoritas besar gembala-gembala injili tradisional di Barat jarang sekali berjumpa dengan kasus kerasukan roh jahat seperti yang digambarkan dalam Perjanjian Baru (kejadian menyeramkan ini lebih sering ditemukan di Timur). Namun para pendeta kharismatik merasa setiap hari mereka bergumul dengan korban kerasukan roh jahat! Barangkali roh-roh jahat cukup bodoh untuk diseret ke hadapan para pengusir setan (exorcists) seperti serangga yang tertarik pada lampu, atau barangkali orang-orang tersebut yang ingin melihat roh-roh jahat dimana-mana.

      Repotnya para pendeta kharismatik menjadi pengusir setan (kalo saya bilang tidak beda dengan yang tivi2 skarang ini sperti Dunia lain,tukul jalan2 dll) itu telah mengembangkan sebuah mental konfrontatif yang berbeda dengan sikap gelap Roma terhadap roh-roh jahat. Orang-orang yang disebut pengusir setan itu lebih suka langsung terlibat di dalam peperangan fisik, merasakannya, melihat dan mendengar kuasa-kuasa kegelapan serta menyerangnya dengan otoritas kata-kata yang dramatis daripada memahami peperangan rohani seperti yang diajarkan Alkitab, dimana iblis diperangi dengan perlengkapan senjata doa, pengajaran, kesaksian, hidup yang kudus, ketaatan pada Alkitab dan iman kepada pengharapan. Ini sungguh berbeda dengan gambaran peperangan rohani yang diberikan oleh Paulus di dalam kitab Efesus 6 : 10-20. Perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging - kata Paulus - namun para pendeta kharismatik kelihatannya menginginkan musuh yang dapat mereka sentuh. Mereka tidak puas hanya terlibat di dalam melawan kekuatan besar pencobaan dan pengaruh iblis, tetapi mereka ingin kontak langsung dengan kehadirannya dalam bentuk roh-roh jahat yang merasuki orang.

     Paulus tidak menyuruh kita menghubungkan permasalahan emosional dan jasmaniah yang tak terhitung itu dengan kehadiran roh jahat secara literal yang tinggal di dalam keberadaan kita, atau membalas dengan melakukan serangan verbal langsung kepada musuh ini. Paulus memberitahukan bahwa perjuangan kita adalah melawan kuasa-kuasa yang tidak kelihatan dan umumnya tidak bisa diketahui - kuasa-kuasa jahat rohani dari dunia luar (yakni di dalam ruang angkasa). Ia memberitahukan bahwa kita harus menggunakan ketopong dan perlengkapan senjata Allah, karena hal ini akan membentengi dan melindungi kita dari komunikasi langsung atau hubungan rohani yang intim dengan penguasa-penguasa kegelapan, sementara kita bisa menghadapi pengaruh iblis dan juga bisa melakukan peperangan penginjilan terhadapnya.

    Beberapa pernyataan paling ganjil yang ada di dunia, dapat ditemukan di dalam kata-kata mengenai kerasukan roh jahat yang di ucapkan oleh para pendeta kharismatik yang telah tunduk kepada pola berpikir salah. Disitu dipenuhi asap tebal berisi konsep-konsep berbahaya yang bergantung di antara tahyul Romawi abad pertengahan dan pemikiran-pemikiran agama-agama berhala Timur. Seorang kharismatik dari dunia barat John Wimber mewakili pandangan dari banyak kharismatik,ketika ia menyatakan: 'Kita dipanggil untuk membebaskan lahan bagi Yesus Kristus, mengembalikan lahan dari roh-roh pendusta.

     Jika kita berhasil dalam peperangan ini, maka korban-korban kuasa Setan akan terbebas... Kita harus menghadapi sang musuh; kita harus bertempur. Seperti Yesus sendiri, kita mempunyai tugas: mengumumkan kerajaan Allah dan mendemonstrasikannya dengan menyembuhkan orang sakit dan mengusir roh-roh jahat'. mengumandangkan perkataan tersebut, yang mengatakan bahwa Yesus sendiri memberikan otoritas dan kuasaNya atas roh-roh jahat kepada murid-murid, sehingga mereka (dan kita juga) dapat menerapkan otoritas Allah yang mengatasi kuasa-kuasa kegelapan.

     Dasar pernyataan ini sekali lagi adalah amanat kepada duabelas murid (dan juga tujuhpuluh murid), ketika mereka diutus ke seluruh kota Israel untuk mengumumkan kedatangan kerajaan Kristus. Kita telah mengkaji misi unik tersebut yang keliru dianggap sebagai pola kerja jemaat yang berkesinambungan.1 Janji Tuhan bahwa tanda-tanda khusus akan menyertai rasul-rasul yang percaya (Markus 16) juga dikutip secara keliru sebagai pembenaran pelayanan pengusiran setan (exorcism) oleh orang Kharismatik Namun, tidak adanya bukti ayat yang masuk akal menjadi lebih nyata memaksakan untuk kembali kepada perkataan Tuhan di dalam Matius 18: 18 - Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.

      Setiap orang yang membaca Matius 18 dapat memahami bahwa ini hanyalah penafsiran Alkitab yang 'hit and run' ('tabrak lari'), karena perkataan yang dikutip tersebut sama sekali tidak ada hubungan dengan melepaskan orang dari roh-roh jahat. Perkataan tersebut adalah mengenai disiplin jemaat dan bagaimana kita harus bersikap terhadap orang-orang Kristen yang jatuh ke dalam dosa.

     Dengan membumbui prosa-prosa mereka ke dalam ayat-ayat tersebut, para pendeta kharismatik berusaha mengamankan kredibilitas pengusiran roh-roh jahat. Kita harus ingat bahwa mereka memperoleh pemikiran tersebut terutama bukan karena hasil dari mempelajari Alkitab, tetapi karena menanggapi pikiran, refleksi dan mimpi mereka sendiri seolah-olah hal tersebut merupakan komunikasi yang diinspirasikan Tuhan.

Dapatkah Roh-roh Jahat Menyebabkan Penyakit?

     Dalam pandangan para pendeta kharismatik, apakah sebenarnya yang dapat dilakukan oleh roh-roh jahat? Katanya roh-roh jahat berada di belakang berbagai penyakit jasmaniah dan mental, dan bahwa mereka masuk ke dalam diri manusia (dalam berbagai tahapan), sehingga dapat mengendalikan segala atau beberapa aspek kehidupan manusia. Para pendeta kharismatik terus saling berbeda pendapat mengenai hal-hal detail, tetapi mereka sama-sama meyakini bentuk tertentu mengenai kemungkinan (hal yang lumrah) bahwa roh jahat juga bisa tinggal di dalam orang-orang Kristen. Mereka berusaha membuktikan bahwa roh-roh jahat bisa menjadi penyebab banyak penyakit dengan menggunakan lima perikop Alkitab. Kutipan tersebut dianggap menunjukkan bahwa roh-roh jahat dapat menyebabkan kebisuan, kebutaan, penyakit ayan, demam dan kelumpuhan, tetapi seperti biasa, perikop-perikop yang dikutip itu jelas sekali disalahgunakan. Tiga perikop tersebut adalah mengenai orang yang dirasuki roh jahat dan kondisi jasmaninya menunjukkan tanda luar yang menyedihkan.

      Salah satu perikop tersebut adalah tentang penyembuhan ibu mertua Petrus dan sama sekali tidak menyebutkan roh-roh jahat! Para pendeta kharismatik menafsirkan ada roh jahat dalam perikop ini hanya karena Yesus 'menghardik' demam itu. (Di tempat yang lain Ia menghardik angin dan gelombang laut, jadi agaknya para pendeta kharismatik percaya angin dan gelombang laut juga dapat dirasuki roh-roh jahat). Satu-satunya perikop kutipan kharismatik yang masuk akal untuk menunjukkan bahwa roh jahat dapat menyebabkan suatu penyakit tanpa 'merasuki' orang tersebut adalah Lukas 13: 10-17, dimana kita diberitahu tentang seorang wanita yang lumpuh selama delapan belas tahun karena roh yang membuat lemah. Memang, cukup bukti bahwa wanita malang ini dirasuk roh jahat, karena kemudian Yesus menggambarkan wanita itu sebagai orang yang - yang diikat Iblis. Ia adalah tawanan yang terikat, yang penderitaan berat fisiknya merupakan manifestasi dan refleksi nyata dari keterikatan berat pada tawanan roh jahat. Injil membedakan penyakit karena sebab 'alami' dan penyakit karena kerasukan roh jahat, dan tidak ada dasar alkitabiah yang mendukung dugaan bahwa roh-roh jahat bebas untuk menimbulkan penyakit di luar konteks kasus yang sepenuhnya kerasukan roh jahat.

      Satu-satunya kasus di dalam Alkitab mengenai seorang yang menderita penyakit yang disebabkan Setan tanpa disertai kerasukan roh jahat adalah Ayub. Namun agar bisa membuat Ayub sakit, Setan harus mendapat izin dari Allah. Ini memastikan bahwa kuasa yang mengakibatkan penyakit bukan berasal dari Setan dan roh-roh jahatnya (di luar konsekwensi kerasukan roh jahat). Karena itu, ketika para penyembuh kharismatik secara dogmatis mengatakan bahwa penyakit-penyakit tertentu berasal dari roh jahat, maka berarti mereka telah bertindak di luar pengajaran Alkitab mengenai hal yang dapat dilakukan roh jahat, atau tidak mengikuti teladan Tuhan Yesus dan rasul-rasulNya. Sejak kapan Yesus dan para rasul pernah memperlakukan penyakit seseorang yang tidak dirasuki roh jahat dengan cara seolah-olah ada roh jahat yang harus dikeluarkan dari organ tubuh tertentu, atau dari persendian, maupun anggota badan? Gagasan-gagasan demikian banyak terdapat di dalam kepercayaan berhala, namun tidak di dalam Alkitab. Menurut Alkitab, penyakit orang yang tidak kerasukan bukanlah karena adanya roh-roh jahat di dalam tubuh, karena itu kegiatan menyembuhkan penyakit dengan mengusir roh-roh jahat benar-benar merupakan hal yang nonsense.

Bagaimana Kita Tahu Orang Kerasukan Roh Jahat?

      Jika roh-roh jahat tidak bisa seenaknya tinggal di dalam bagian-bagian tubuh untuk menyebabkan penyakit jasmaniah, bagaimana dengan pribadi yang sepenuhnya kerasukan roh jahat? Benarkah tindakan para pendeta kharismatik yang merasa melihat segala sesuatu ada pengaruh roh jahat itu? Dalam hal ini semua pendeta kharismatik kelihatannya sungguh tidak memperhatikan posisi theologis dasar yang dipertahankan oleh kebanyakan pengajar Kristen selama beberapa generasi - yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada saat kedatanganNya di dunia, menutup kuasa Setan dan pasukannya untuk memasuki dan merasuki jiwa-jiwa yang tidak mengundangnya. Salah satu tanda besar kedatanganNya sebagai Mesias, yang menandakan permulaan masa Injil, adalah pembatasan yang amat besar, dalam hal ini terhadap kuasa-kuasa kegelapan.

     Evangelikal tradisional mempertahankan bahwa sejak saat itu, kerasukan roh jahat hanya bisa terjadi, jika terdapat undangan yang sangat kuat atau menyerah kepada campur tangan roh jahat, seperti menyerah kepada suatu roh yang sudah tidak asing atau berinteraksi dengan okultisme. Pemberhalaan, sihir, satanisme atau gaya hidup yang sepenuhnya ditujukan untuk mengejar kejahatan merupakan faktor-faktor yang menurut Alkitab dapat membuat orang rawan invasi roh jahat, namun roh-roh jahat telah dilarang merasuki jiwa-jiwa dengan seenaknya.* Namun pada posisi sebaliknya, semua pendeta kharismatik meneruskan asumsi bahwa kelanjutan kerasukan roh jahat masa kini sama persis dengan yang terjadi pada masa Kristus. Namun, karena kasus-kasus kerasukan roh jahat yang nyata dalam prakteknya sulit ditemukan, mereka harus berbohong, memindahkan tiang gawang dengan mengubah total gambaran mengenai kerasukan roh jahat.

     Di dalam Alkitab, orang yang dirasuki roh jahat dengan berbagai cara dicengkeram oleh amukan yang dahsyat atau penyakit sawan (ayan), berteriak-teriak dengan suara yang bukan suaranya, mengeluarkan kekuatan fisik yang luar biasa, berubah menjadi gila, memperlihatkan hal-hal yang gaib, dan kadang-kadang menjadi tuli, bisu, buta atau lumpuh yang disebabkan oleh kuasa yang timbul dari kondisi mereka. Mereka mengenal Kristus dan hamba-hambaNya dan kerapkali menjerit terhadap mereka.

    Ciri-ciri kerasukan demikian menyeramkan dan nyata sehingga keluarga dari orang yang kerasukan tidak ragu bahwa anggota keluarganya itu sungguh-sungguh kerasukan. Sebaliknya orang 'kerasukan'nya biasanya menderita penyakit yang sangat berbeda dengan yang tercatat di dalam Alkitab, sehingga ia bisa mengatakan - 'Kebanyakan orang yang kerasukan tidak menyadarinya'. Ia terjadi bagai sebuah kejutan - bahkan mengagetkan - bagi keluarga dan sahabat-sahabat yang mendengarnya! Gambaran para pendeta kharismatik mengenai penyakit biasa sama sekali berbeda dengan kerasukan roh jahat di dalam Alkitab!

      Barangkali untuk menghindari keadaan yang memalukan ini, para kharismatik memutuskan untuk sama sekali tidak menggunakan istilah 'kerasukan roh jahat' (demon possession), tetapi memilih istilah yang lebih umum - yakni 'kerasukan' (demonised). Istilah pungutan baru yang menggigit ini bagaimanapun lebih memperluas dan mengaburkan konsep perbuatan roh jahat dibandingkan yang ditemukan di dalam Alkitab. Tanpa perlu menjelaskan kenapa para penderitanya tidak menunjukkan gejala-gejala penyakit seperti yang dicatat Alkitab, para penyembuh kharismatik kini dapat menunjukkan kepada orang yang tergerak hatinya dan menyatakan mereka 'kerasukan' oleh sejumlah roh jahat.

    Bagaimana kita bisa mengatakan orang 'kerasukan'? Dengan ayat-ayat manakah para pendeta kharismatik memberi petunjuk untuk membuat diagnosis? Jawabannya adalah - tidak ada. Daftar sakit penyakit bukan diambil dari Alkitab, namun dari khayalannya sendiri. Ia mengatakan bahwa orang dapat kerasukan jika menjadi pecandu obat-obatan atau alkohol, atau jika terikat dorongan napsu, dosa seksual, kebohongan, mencuri, membunuh atau makan tidak teratur (barangkali berkisar antara masalah rakus sampai masalah tidak ada napsu makan).

    Demikian juga, seseorang dapat kerasukan jika ia berada dalam cengkeraman depresi, gelisah, emosi, membenci diri-sendiri, tidak mau memaafkan orang, atau dendam. Indikasi-indikasi lain yang dianggap sebagai demonisasi (kerasukan) adalah termasuk penyakit kronis (terutama jika penyakit itu ada di dalam keluarga!), dan sejarah keluarga yang berantakan misalnya pecandu alkohol atau child abuse (penyiksaan terhadap anak-anak). Katanya pengalaman-pengalaman buruk seperti diperkosa, ditinggalkan orang tua atau mengalami kecelakaan kendaraan juga bisa membuka 'kesempatan' bagi roh-roh jahat untuk masuk ke dalam kehidupan orang Kristen maupun orang non-Kristen.

   Kita yakin tidak setiap orang yang mengalami permasalahan-permasalahan tersebut harus dikatakan kerasukan, namun banyak yang memang. Jika demikian, bagaimana kita bisa mengetahui mana yang ya dan mana yang tidak? Seperti yang selalu dilakukan pendeta kharismatik malah kita dijauhkan dari Alkitab, yang kelihatannya sama sekali tidak berguna untuk menjawab hal-hal demikian, dan iman kita dituntun kepada orang yang merupakan orang-orang Kristen super yang berkarunia mujizat, yang diperlengkapi untuk melakukan tugas-tugas diagnosis tersebut.

    Dibutuhkan laki-laki dan wanita yang memiliki karunia ketajaman (dapat melihat hal-hal yang tersembunyi dan belum terjadi) dan siapa saja yang menginginkan pengetahuan mengenai keadaan penderita. Hanya mereka yang bisa merasakan apakah seorang penderita itu kerasukan atau tidak. Menghadapi pertentangan ini, perikop Alkitab seperti Matius 4: 24 dan 8: 16 menunjukkan bahwa kerasukan roh jahat yang sesungguhnya sama sekali tidak seperti penyakit-penyakit 'umum' (baik mengenai tubuh maupun pikiran), sehingga mudah sekali untuk diketahui dan dibedakan.

Bisakah Roh Jahat Merasuki Orang Percaya?

      Para pendeta kharismatik mengajarkan bahwa banyak sisi kehidupan orang Kristen lahir baru bisa dikendalikan roh jahat, namun ia dipaksa keras untuk membuktikan pandangannya, sehingga dia bahkan mengklasifikasi Raja Saul sebagai seorang yang percaya. 'Gejala-gejala penyakit' yang disebutkannya - ledakan kemarahan yang tiba-tiba, membunuh, takut, sihir dan bunuh diri - semuanya nyata merupakan tanda-tanda seorang percaya yang kerasukan roh jahat! Tentu saja di dalam Perjanjian Lama Saul merupakan contoh utama ketidakpercayaan dan ketidaktaatan kepada Tuhan; di dalam hatinya jelas tidak terdapat pekerjaan kasih karunia. Karena terdesak untuk mendapatkan contoh orang-orang Kristen kerasukan di dalam Alkitab, bahkan Yudaspun dipaksakannya sebagai orang yang percaya (para pendeta kharismatik lupa bahwa Yudas digambarkan sebagai anak yang akan binasa). Celakanya lagi Petrus diberi label sebagai orang yang 'kerasukan' sementara hanya karena Tuhan mengatakan - Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum...

    Ketika pendeta kharismatik menyatakan bahwa orang Kristen beresiko 'berbalik kepada Setan' (kerasukan) jika mereka terus tidak mengaku dosa, dengan memberi contoh mengenai Ananias dan Safira untuk membuktikan pendapatnya, sementara dua contoh ini jelas merupakan kekalahan terhadap pencobaan yang sangat kuat dari Setan, tak satu katapun di dalam Kisah Para Rasul yang mengatakan bahwa mereka kerasukan. Dalam kejadian tersebut secara pribadi mereka bertanggungjawab penuh atas dosa mereka, karena tidak pernah mereka lepas kendali dalam pengertian bahwa roh jahat mengendalikan kehidupan mereka. Disamping itu, pendapat mengenai mereka kerasukan mengimplikasikan bahwa Petrus menggunakan cara yang salah sama sekali dalam menghardik keras mereka. Ia seharusnya melakukan apa yang akan dilakukan oleh para kharismatik dan memerintahkan roh (-roh) jahat itu untuk pergi. Seharusnya Petrus menggunakan 'otoritas kerajaan'nya (istilah yang digunakan oleh para pendeta kharismatik tersebut) sebagai kepatuhan kepada perintah yang dinyatakan dalam Markus 16. Betapa akan berbedanya Kisah Para Rasul jika para rasul bertindak seperti pengajaran kaum kharismatik ekstrim masa kini.

    Banyak pendeta kharismatik berkhayal ketika mengatakan bahwa orang Kristen tanpa sadar bisa kerasukan karena roh-roh jahat yang diwariskan dari orang tua tidak pernah diusir keluar. Sekalipun ia tidak bisa membelokkan ayat-ayat Alkitab untuk disesuaikan dengan pemikiran ini dan terpaksa mencari dukungan dari praktek gereja Romawi abad ketiga yang membawa semua penganut barunya ke dalam ritual eksorsisme untuk mengeluarkan roh-roh jahat.

    Beberapa pendeta kharismatik takut dengan pemikiran bahwa orang Kristen bisa kerasukan, namun apapun istilah yang mereka gunakan, pada akhirnya mereka semua mengajarkan bahwa roh-roh jahat dapat menyerbu jiwa atau tubuh orang yang percaya dalam bentuk tertentu. Misalnya, mengatakan bahwa orang Kristen tidak dapat dirasuki, tetapi dapat ditekan. 

    Namun ia hanya memainkan kata-kata, karena ia mengajarkan bahwa setan-setan 'penekan' harus diperintahkan untuk keluar dan melepaskan cengkeramannya.Rumusnya adalah bahwa mereka harus diperintahkan keluar - 'dan tekanan dipatahkan di dalam nama Yesus dan oleh kuasa darahNya'.

   Para kharismatik tidak memberikan petunjuk yang lebih tentang bagaimana orang-orang percaya dapat mengetahui apakah mereka ditekan oleh roh jahat. Yang dapat ia katakan adalah bahwa 'rasanya seolah-olah anda ada di dalam kurungan dan ingin dibebaskan; atau suatu awan gelap turun ke atas diri anda dan anda merasa sulit sekali memuji Tuhan atau berdoa'. Pengalaman demikian belum tentu disebabkan oleh roh-roh jahat, bagaimana kita dapat memastikan kapan ya, atau kapan bukan? Masalah diagnosis besar muncul sekali, namun tidak dapat memecahkannya. Sedihnya, kita dibiarkan sepenuhnya berserah kepada imajinasi subyektif kita - atau berserah kepada orang-orang yang dianggap mempunyai karunia ketajaman tertentu. Imajinasi menjadi tuhan!

   Para pendeta kharismatik tersebut jelas tidak bisa memberikan tuntunan yang alkitabiah untuk mendiagnosis kerasukan roh jahat atau penekanan terhadap orang-orang percaya, karena Alkitab sama sekali tidak menyebut tentang roh-roh jahat yang menekan orang-orang percaya. Alkitab juga tidak mengatakan bahwa roh-roh jahat harus ditengking 'dengan kuasa darah',. Sebenarnya formula primitif eksorsisme ini merupakan suatu hal yang menghasilkan ceritera vampir, hanya saja vampir lari karena takut melihat sinar yang direfleksikan dari sebuah salib perak, roh jahat diusir oleh orang Kristen yang menyerukan kalimat berisi rujukan kepada nama dan darah Yesus.

    Biarawan-biarawan Romawi pada masa kegelapan menjadi makmur karena mengubah darah Kristus menjadi suatu rumus magis, dan banyak pengusir setan masa kini sedang mempraktekkan pelayanan mencolok yang sedang berkembang dengan cara serupa. Darah domba bukan digunakan sebagai mantera atau jampi-jampi untuk mengusir roh-roh jahat. Wahyu 12: 11 memberitahu kita bahwa orang-orang kudus mengalahkan iblis karena darah Domba melindunginya, bukan karena mereka meneriakkannya seperti sebuah mantera magis. Mereka juga dimenangkan oleh karena perkataan kesaksian mereka dan kesetiaan menyangkal diri sampai pada akhirnya.

    Dalam kasus orang Kristen kharismaik yang percaya bahwa mereka kerasukan atau tertekan, kebanyakan pendeta kharismatik mengatakan bahwa eksorsisme-pribadi (self-exorcism; pengusiran setan secara pribadi) dapat dilaksanakan tanpa bantuan dari orang lain, namun konsekuensi tragis pemikiran tersebut terhadap kehidupan orang-orang percaya mudah sekali ditebak. Bayangkan pengaruh kemerosotan moral atas orang-orang yang sakit atau tertekan ketika mereka mendengar bahwa permasalahan mereka adalah disebabkan roh-roh jahat.

    Dan bagaimana jika mereka berusaha memerintahkan roh jahat keluar dari kehidupannya, kemudian tidak mengalami pemulihan atau kelepasan? Bayangkan penderitaan dan kemungkinan juga kengerian karena harus membayangkan bahwa masih ada roh jahat yang mencengkeram kuat terhadap mereka! Atau bagaimana dengan orang-orang percaya, yang dengan sesat menghindari kenyataan, melarikan diri dari tanggungjawab pribadi atas dosa-dosa mereka dengan menyalahkan dosa-dosa tersebut adalah karena tekanan roh jahat?

      Bagaimana dengan kenyamanan dan penghiburan yang terenggut dari orang-orang percaya yang mengalami masalah karena janji perlindungan Allah diluluh-lantakkan oleh teori yang mengatakan bahwa roh jahat dari neraka dapat langsung menyerang ke dalam kepribadian mereka, meskipun tubuh mereka adalah bait bagi Roh Kudus? Jelas, orang Kristen memang terlibat dalam peperangan besar menghadapi tipu-muslihat dan pencobaan iblis, tetapi di dalam Perjanjian Baru tidak menyebutkan bahwa pencobaan dapat ditolak melalui memerintahkan roh-roh jahat melepaskan cengkeraman dan meninggalkan pikiran atau tubuh orang Kristen. Setan dikalahkan dengan menyangkal keberhasilan di dalam pencobaan. Atau jika ia menyusun serangan dengan bisikan depresif, ia dapat ditolak jika orang percaya berusaha memegang teguh kepada penghiburan dan janji Firman Tuhan.

      Ketika Yakobus mengatakan, Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu! (Yak.4: 7 penerjemah), ia memberitahukan kita bahwa hal ini dapat dilakukan dengan mendekat kepada Allah, membersihkan tangan kita, memurnikan hati kita, sedih dan menyesali dosa-dosa kita, dan merendahkan diri kita di hadapan Allah, sehingga Ia bisa meninggikan kita. Yakobus tidak mengatakan apa-apa tentang mengusir roh (-roh) jahat dengan darah Yesus, dan penulis Perjanjian Baru yang lainpun tidak mengatakannya. Bagaimana penjelasan kaum kharismatik tentang keadaan yang mengatakan bahwa Tuhan kelihatannya membiarkan jemaatNya menunggu selama 2.000 tahun sampai 'rasul-rasul' modern menambahkan supplemen ke dalam pengajaran Alkitab?

     Sama sekali tidak mungkin roh jahat bersama-sama Roh Kudus tinggal di dalam tubuh atau jiwa seorang yang sungguh-sungguh telah percaya. Kata Paulus, Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, -- dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? (1 Kor. 6: 19). Sekali kita bertobat, Roh Kudus akan tinggal di dalam kita dan tidak akan meninggalkan kita, karena kita memiliki janji Juruselamat tersebut: Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran ... sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu (Yoh. 14: 16-17).

   Para pendeta kharismatik kerapkali merujuk kepada perkataan Paulus di dalam 2 Tim. 2: 26 mengenai orang yang terperangkap oleh iblis. Orang-orang tersebut diyakini sebagai orang-orang percaya yang entah bagaimana menjadi kerasukan roh jahat, namun orang yang membaca perikop itu akan melihat bahwa bukan demikian maksudnya. Paulus mengatakan bahwa utusan-utusan Allah harus cakap mengajar - dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya (2 Tim. 2: 25-26).

    Harus diklarifikasi bahwa orang-orang yang dimaksudkan disini adalah orang-orang keras kepala yang menolak Injil yang perlu diselamatkan. Juga jelas kelihatan bahwa mereka sama sekali bukan kerasukan roh jahat, tetapi hanya karena menerima tawaran Setan dengan menanggapi segala godaannya seperti yang banyak dilakukan oleh orang-orang duniawi. Ada perbedaan yang sangat besar antara dikalahkan oleh pencobaan dan kerasukan roh jahat! Kerasukan roh jahat atas orang yang sungguh-sungguh percaya di dalam Kristus merupakan suatu kemustahilan theologis, dan ini juga termasuk jenis kerasukan yang dinamakan 'tekanan' oleh yang lainnya.

Apakah Masa Kini Kita Harus Menengking Roh-roh Jahat?

     Kita akan menghabiskan banyak waktu untuk mengomentari berbagai kontradiksi pokok di antara para para pendeta kharismatik yang terkemuka, tetapi cukup kita ambil salah satu contoh saja - yakni prosedur mengusir roh jahat. Beberapa pendeta kharismatik memaksakan bahwa pengusir roh jahat pertama-tama harus mengetahui nama-nama roh jahat yang merasuki orang (contoh - 'Aku belum pernah menyebutkan sesuatu itu roh jahat sampai aku sungguh-sungguh berbicara dengan roh jahat itu ... Aku mengatakan: Di dalam nama Yesus, aku memerintahkan engkau, roh, sebutkan namamu.') Namun, penyembuh dan pengusir roh jahat internasional terkemuka lainnya mengatakan bahwa hal ini menggelikan dan tidak perlu, dan menegaskan bahwa selama seseorang sungguh-sungguh memegang otoritas atas roh-roh jahat, maka ia harus bisa langsung memerintahkan mereka keluar. Segala doa yang panjang dan investigasi terhadap nama-nama roh jahat tidak ada gunanya.

      Kebenaran yang nyata adalah bahwa semua pengajar tersebut sama sekali keliru dengan pemikiran mereka, karena Allah telah melarang interaksi verbal antara umatNya dan roh-roh jahat untuk selama-lamanya. Di luar pelayanan tanda eksorsisme yang dilakukan oleh Kristus dan para rasul sebagai wakil-wakil langsungNya (yang ditujukan untuk membuktikan kuasa illahiNya dan untuk meyakinkan kita bahwa Ia memiliki kuasa atas roh-roh jahat), tidak ada kontak langsung antara orang percaya dengan roh-roh jahat yang diperbolehkan atau ditentukan di dalam Perjanjian Baru.

     Ulangan 18: 10-12 merupakan salah satu larangan absolut tentang keterlibatan atau transaksi dengan roh-roh jahat dalam bentuk apapun. Allah mengatakan: Di antaramu janganlah didapati seorangpun yang ... menjadi petenung, ... peramal, ... penelaah, ... penyihir, ... pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati. Sebab setiap orang yang melakukan hal-hal ini adalah kekejian bagi Tuhan ...

     Kita harus sungguh-sungguh memahami mengapa pendekatan terhadap roh jahat merupakan kekejian yang berat. Ini bukan hanya sekedar masalah berpaling dari Tuhan dan mempercayai seseorang atau sesuatu di luar Tuhan, namun hal ini terutama karena setiap usaha langsung untuk berhubungan (termasuk berbicara) dengan roh jahat merupakan hal yang menjijikkan Tuhan. Prinsip di balik larangan ini adalah bahwa komunikasi langsung antara manusia dengan roh-roh jahat merupakan tindakan yang sangat hina dan menyakitkan di hadapan Tuhan, apapun alasan atau motivasinya. Kata Ibrani untuk menjijikkan berarti memuakkan atau memualkan. Roh-roh jahat adalah menjijikkan, roh-roh jahat penuh dengan kebencian, kebohongan, kelicikan dan bahaya maut. Kita mutlak tidak boleh mencampuri, ingin tahu, bertanya atau interaksi dengan mereka dengan cara dan keadaan apapun, meski dengan tujuan yang 'baik' sekalipun.

    Untuk membantu kita memahami masalah tersebut, misalnya kita bayangkan reaksi orang tua yang membawa anak kecil yang baru belajar jalan ke luar kota, tiba-tiba melihat anak itu ingin menyelidiki sebuah saluran pembuangan kotoran yang bau busuk. Dalam hal ini, saluran itulah yang secara alami menimbulkan kejijikan dan kekuatiran orang tua itu, bukan motivasi si anak. Satu roh jahat dari jurang yang dalam sekali mencerminkan sebuah kuasa iblis yang jutaan kali lebih menjijikkan dan berbahaya dibandingkan dengan sejumlah saluran pembuangan. Di hadapan Tuhan komunikasi langsung apapun antara anak-anakNya dengan roh-roh kegelapan adalah sebuah kekejian. Kaum kharismatik sesat yang ingin menemukan roh-roh jahat untuk menanyai mereka, menunjukkan betapa dangkalnya pemahaman mereka atas keburukan yang tak terduga dan kelicikan dari roh-roh jahat tersebut.

   Salah satu pelanggar yang disebutkan dalam Ulangan 18: 10-12 disebut orang yang bertanya kepada arwah (medium dalam terjemahan NIV, NASB). Dalam istilah Ibrani kata ini mencakup setiap tingkat komunikasi dengan roh, mulai dari tingkatan menanyakan nama roh sampai memimpin upacara untuk berhubungan dengan roh orang mati. Pelanggar lainnya disebut peramal (wizard dalam terjemahan AV). Istilah ini merujuk kepada 'orang yang mengetahui' atau seorang paranormal. Meski begitu tetap saja para penyembuh kharismatik berusaha keras untuk 'merasakan' pengetahuan yang kasat mata mengenai orang atau kejadian-kejadian. Apa yang mereka sebut dengan 'kata-kata hikmat dan pengetahuan' (menyelewengkan istilah alkitabiah) sama sekali tidak ada bedanya dengan pengaruh paranormal peramal-peramal purba!

   Bahkan lebih parah lagi, para pengerja kharismatik modern sering berusaha menggali 'pengetahuan' dari dalam identitas dan maksud roh-roh jahat yang mereka kira berada di balik penderitaan orang. Beberapa pengerja kharismatik tersebut tidak diragukan lagi adalah tukang bohong murahan yang membuat-buat apa yang mereka namakan sebagai pengetahuan. Tetapi yang lain yang sudah sangat percaya dengan sistem theologis mereka, memaksakan indera mereka untuk terbuka dan sensitif dengan alam roh yang kasat mata, tidak menyadari bahwa Allah mengutuk segala jenis perbuatan spiritisme.

    Tak terhitung banyaknya pengusir setan Kristen yang cemar dan dangkal, yang menyombongkan diri di dunia Kekristenan dengan menarik orang-orang yang lemah pikirannya dengan pengetahuan dan kuasa dari roh-roh jahat. Mereka ada yang menjadi showmen (penghibur-penghibur panggung) pembohong. Ada juga yang sungguh-sungguh pengerja yang terperangkap di dalam kekacauan imajinasi dan histeria. (Jika orang demikian benar-benar bertemu dengan kasus asli kerasukan roh jahat, mereka akan sangat terkejut!) Namun tak pelak lagi ada di antara para pengusir roh jahat itu yang telah berusaha menembus alam roh dalam taraf tertentu, dan mereka telah menjadi 'orang-orang pintar' atau spiritists - yang menjijikkan di mata Tuhan, karena mereka telah menyentuh hal-hal yang dilarang. Sama sekali mustahil bagi seorang spiritist untuk berada di sisi Allah, karena spiritisme dalam segala bentuknya sungguh-sungguh amat menjijikkan Allah.

    Dari sudut pandang yang lain, apa kata orang jika mereka mengira bahwa mereka dapat terlibat langsung dengan roh-roh jahat dan dapat bertahan dengan tidak tercemar? Mereka mengungkapkan betapa sedikitnya pemahaman mereka atas luasnya dosa dan kuasa roh-roh jahat yang mengerikan itu. Mereka mengatakan bahwa mereka menilai masalah tersebut tidak lebih berbahaya daripada kejahatan manusia, karena orang-orang yang disebut pengusir roh jahat itu barangkali telah menyusut sekedar melakukan perampokan bersenjata dengan sembunyi-sembunyi atau pencuri malam hari. Perhatikan mulut besar dan ketenangan yang menjadi ciri eksorsisme kharismatik! Mengapa roh-roh jahat sama sekali tidak dianggap! Satu atau dua lusin dapat diusir dalam sepuluh menit, dan selanjutnya mereka dapat berkhotbah seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

    Apa kata para pengusir roh jahat kharismatik itu kepada Allah ketika menghadapi alam roh sesat dengan - seperti yang terjadi - tangan kosong mereka? Mereka sedang mengatakan kepada Allah bahwa mereka tidak membutuhkan Anak Allah dan malaikat-malaikat kudus yang mewakili mereka di dalam arena perjuangan rohani yang kasat mata. Mereka tidak perlu seorang Wakil illahi, seorang Pelindung yang berkuasa, sebuah Tameng dan Pembela untuk melindungi mereka dari kuasa-kuasa kegelapan dan dari serangan langsung iblis dan kumpulannya. Mereka bebas keluar menghadapi musuh, melewati batas-batas garis pertempuran dan mengintai ke dalam jajaran tingkat pimpinannya. Para pengusir roh jahat itu telah menulis ulang doktrin-doktrin dasar Alkitab, yang menyatakan kepada Allah bahwa mereka tidak lagi butuh Yesus Kristus' untuk menghadapi peperangan rohani. Betapa kuatnya mereka! Alangkah hebatnya!

    Hanya Tuhan Yesus yang dapat menghardik dan mengusir roh jahat, dan kita sekali-kali tidak boleh mengurangi keimamatanNya! Orang-orang percaya tidak boleh terpengaruh dengan pikiran-pikiran, bahwa mereka bisa memiliki kuasa dan otoritas untuk mengenal, menegur dan memerintah roh-roh jahat. Jika kita menghadapi sebuah kasus yang jelas merupakan kerasukan roh jahat yang cocok dengan tanda-tanda mengerikan yang diberikan di dalam catatan Alkitab, maka kita terpaksa menggunakan pelayanan doa dan, jika ada kesempatan, kita harus mendesak orang yang kerasukan-roh itu untuk datang kepada Kristus, satu-satunya Perantara antara Allah dan manusia, untuk keselamatan dan kelepasan. Kita juga tidak bisa menyelesaikan masalah tersebut dengan kemampuan kita; kita harus selalu mengantarkan orang kepada Kristus.

    Masalah inilah yang diajarkan - ini adalah proses mengantar orang kepada Kristus untuk segala kebutuhan rohani mereka, karena kita sama sekali tidak mampu memenuhinya. Gereja orang Kharismatik bukan saja telah mengadopsi pemikiran kultus berhala, tetapi juga keimamatan Romawi yang mengkhayalkan bahwa manusia fana memiliki curahan kuasa Kristus untuk menghadapi iblis kegelapan. Kebenaran yang parah adalah bahwa para pendukung dan eksponen eksorsisme merupakan orang-orang yang beresiko paling tinggi dipengaruhi roh jahat, dan hal ini tak pelak lagi merupakan alasan utama mengapa Allah melarang percobaan-percobaan lancang terhadap masalah ini. Sekelompok orang kharismatik seperti benny hinn,Pariadji dll terus menentang perintah Allah dengan berusaha interaksi dengan roh-roh jahat.

    Sementara itu mereka mengesampingkan pikiran rasional dan menyerahkan diri ke dalam pengaruh pemikiran dan khayalan yang sembarangan, dan berharap agar hal tersebut memberikan kata-kata hikmat dan pengetahuan. Orang-orang inilah yang cepat atau lambat akan berhubungan dengan roh-roh yang sesungguhnya atau roh-roh yang sudah dikenal (familiar spirit), dan yang, oleh karena eksperimen teknik-teknik okultisme dan manipulasi roh, maka secara keji mereka dibukakan kuasa roh jahat.

    Orang ingin tahu berapa banyak orang kharismatik ekstrim tersebut yang merupakan orang yang, walaupun tertipu keselamatannya, dengan arogan pindah ke pelayanan eksorsisme hanya untuk dieksploitasi oleh roh yang sudah dikenal (familiar spirit). Tidakkah ini ada nilainya, karena beberapa pengetahuan gaib mereka mengenai sasaran? Apakah hal ini bukannya menjelaskan bagaimana tanda-tanda dan mujizat mereka (seperti tanda dan mujizat nabi-nabi palsu dan pendeta-pendeta kultus berhala masa kini) kadang-kadang kelihatannya sungguh nyata dan tak dapat dijelaskan?

    Setan dan roh-roh jahatnya memiliki sejumlah kuasa tertentu atas alam semesta dan dapat meniru kesembuhan jasmaniah, memunculkan hal-hal yang gaib, levitasi (mengambang dan melayang di air atau di udara), telekinesis (menggerakkan sesuatu dari jauh), dan tanda-tanda dan mujizat tertentu lainnya (2 Tes. 2: 9). Tidak mungkinkah di antara para penyembuh kharismatik itu sendiri yang kerasukan?

Beberapa 'ayat bukti' kharismatik tidak Alkitabiah

    Berikut adalah contoh perikop-perikop Alkitab yang disalahgunakan oleh para pendeta kharismatik untuk membuktikan bahwa pelayanan masa kini harus mengandung lanjutan eksorsisme yang terus menerus. Para pembaca blog ini dipersilakan untuk memperhatikan penyalahgunaan ayat-ayat yang menyolok tersebut.

1 Timotius 4:1 = Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan. Perkataan tersebut tidak mengacu kepada kerasukan roh jahat, maupun tentang mengusir roh-roh jahat. Kalimat itu menggambarkan orang-orang yang sangat berakal budi, namun suka memberontak yang mengajarkan doktrin-doktrin yang ( barangkali tidak disadarinya ) dibuat-buat dan mengesankan pikiran para cendekiawan fasik yang berasal dari roh-roh jahat.

1 Petrus 5: 8-9 = Sadarlah dan berjaga - jagalah ! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. Perikop ini adalah mengenai melawan berbagai cobaan Setan. Perikop ini memberitahu kita bahwa kita melakukan hal ini dengan memelihara kewajiban rohani kita, dan tidak mengatakan apa-apa tentang mengusir setan.

Yohanes 20: 21 = Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu. Dasar pikiran yang diterapkan pada ayat ini adalah : seperti juga Yesus diutus oleh Bapa untuk mencapai berbagai tujuan - termasuk mengusir roh jahat - maka kita sekarang diutus untuk meneruskan semua aspek pelayananNya. Namun, dasar pikiran ini sungguh dangkal dan keliru, karena Juruselamat melakukan banyak hal yang tidak dapat kita lakukan, dan kita tidak boleh berusaha menirunya. Misalnya, Ia datang untuk menunjukkan keillahianNya dan untuk mati di Kalvari; ini adalah hal yang tidak mungkin kita lakukan. Perkataan Tuhan di dalam Yohanes 20 bertujuan untuk meneguhkan bahwa kita mempunyai amanat illahi yang harus dikerjakan. Amanat tersebut sama sekali bukan implikasi bahwa setiap pelayanan dan tindakan Tuhan harus kita tandingi. Salam kasih.

“Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu?” 
(Galatia 4:16) 

Maranatha