Selasa, 25 Januari 2022

Mengapa Harus Berkata Benar?


Dr. Joseph Stowell
By Dr. Joseph Stowell.
Berterus terang mengatakan kebenaran adalah hal yang tidak mudah dilakukan. Budaya kita sekarang ini telah beralih kepada etika kepuasan diri sendiri, yang mana banyak kesalahan-kesalahan yang tidak hanya ditoleransi tetapi juga dianjurkan sebagai hal yang benar. Sebagai akibatnya, banyak dari kita yang merasa nyaman jika kita berbohong atau tidak berterus terang kepada orang lain.
Seorang penjual barang misalnya, berbohong untuk kepentingan perusahaan pembuat barang tersebut asalkan barang produksinya bisa terjual laris. Membesar-besarkan berita yang tidak benar tentang orang lain supaya seorang karyawan bisa naik jabatan, maka karyawan tersebut biasanya beralasan bahwa perkataan tidak benarnya tentang orang lain adalah sebuah “persaingan antar karyawan”. Pemikiran seperti ini sebenarnya sudah mengalihkan ketidak-benaran dari suatu larangan menjadi sesuatu yang lazim. Ironinya, pelecehan terhadap nilai-nilai etika yang benar pada kenyataannya menimbulkan suatu konsekwensi-konsekwensi yang sangat merugikan banyak pihak.
Kebenaran memiliki banyak nilai-nilai penting. Kebenaran adalah dasar untuk sebuah kepercayaan, integritas, iman, keamanan dan stabilitas. Pada waktu kebenaran diganti dengan kebohongan, maka nilai-nilai tersebut menjadi hancur dan menghilang dari kehidupan orang tersebut.
Di sisi lain, kebohongan adalah teman baik dari ketidak-percayaan, kecurigaan, keraguan, kekacauan, pertikaian, dendam, kebencian dan kemarahan. Kapanpun kebohongan menggantikan kebenaran, teman baik kebohongan akan menyingkirkan kebenaran.
Erosi kebenaran melemahkan semua hubungan tatkala kebohongan disuntikkan. Keluarga menjadi korban, Pemerintah menjadi penjahat, media informasi dipandang skeptis, dan hubungan bisnis mengenakan kain kafan kecurigaan.
Tidak ada satu hubungan apapun bisa bertahan atau berhasil jika dasar dari hubungan tersebut adalah kebohongan.
KONSEKWENSI-KONSEKWENSI ROHANI
Alkitab menekankan pada seriusnya konsekwensi-konsekwensi rohani sebagai akibat dari bermain-main dengan ketidak-benaran. Larangan berbohong telah tertulis di sepuluh hukum Tuhan (Kel. 20:16). Tuhan sangat membenci lidah dusta (Amsal 6:17). Semua pendusta akan mendapatkan bagian mereka di dalam lautan api dan belerang (Why. 21:8). Jadi, mengapa kebenaran itu sangat penting bagi Tuhan?
Pertama, kebenaran menghubungkan kita dengan Tuhan. Pusat perhatian Tuhan akan kebenaran ada dalam sifat-Nya sendiri. Mazmur 31:5 mengatakan, “Tuhan adalah benar”. Titus 1:2 mengatakan “Tuhan yang tidak berdusta”. Dan masih banyak lagi ayat-ayat Alkitab lainnya yang menunjukkan bahwa kebenaran adalah karakter Tuhan. Oleh karena itu, komitmen tentang kebenaran sangat berhubungan erat dengan sifat-sifat Tuhan dan pengajarannya.
Kedua, kita diselamatkan (ditebus) supaya kita bisa hidup sesuai dengan gambaran/sifat-sifat-Nya. Tujuan kita hidup di dunia ini sebagai anak-anak Tuhan adalah untuk menjadi serupa dengan gambaran anakNya: Yesus Kristus (Roma 8:29).  Jika kita ikut serta dalam kebohongan, kita telah merusak tujuan mulia keselamatan kita dan kita telah menodai gambaran kemuliaan Tuhan dalam diri Kita.
Ketiga, mengatakan sesuatu yang benar sama dengan ketaatan kita pada kehendak Tuhan. Firman Tuhan memerintahkan kita untuk mengatakan kebenaran tanpa berbohong dengan alasan apapun juga dan dengan resiko apapun. Amsal 13:5 berkata, “Orang benar membenci dusta”. Kolose 3:9 mengatakan, “Janganlah kamu saling mendustai”. Perintah larangan berbohong atau berdusta ini adalah mutlak, tidak bisa ditawar.
Marilah kita melihat 4 katagori peyelewengan-penyelewengan kebenaran yang harus kita mengerti dan waspadai:
1. MEMPERDAYAI
Ini adalah kecenderungan untuk membuat keputusan yang salah atau mungkin berbagi-bagi kesimpulan dan pendapat kita yang salah kepada orang lain yang mendengarkannya. Terlalu cepatnya kita membuat suatu keputusan/kesimpulan/pendapat bisa menjadi perangkap untuk diri kita sendiri tanpa kita sadari. Korbannya adalah diri kita sendiri dan tanpa kita sadari kita telah menyebarkan berita palsu yang sama kepada orang lain apakah secara langsung atau tidak.
Kita tidak selalu bisa mencegah orang lain berpendapat/berkesimpulan salah tentang diri kita, akan tetapi kita bisa menjadi lebih sadar akan asumsi anda tentang orang lain.
Memperdayai adalah dosa dari menyebarkan pendapat-pendapat yang salah; apakah dengan maksud menipu atau ditipu olehnya. Dan sering kali kita melakukannya tanpa menyadarinya, bukankah ini sangat menyedihkan? Ini bisa menanamkan benih-benih ketidakpercayaan, keraguan, dan kebingungan dan secara tidak langsung tanpa bisa diperbaiki dapat menghancurkan reputasi seseorang.
Kita harus belajar untuk menahan diri dari godaan untuk terlalu cepat berpendapat tanpa mengumpulkan data-data yang cukup tentang subjek tersebut. Kecerobohan kita tanpa detail dan tanpa memiliki bukti yang cukup secara cepat bisa membawa kita pada fitnah.
Bagaimanakah kita membentengi diri kita dari godaan untuk salah menilai dan menyebarkan informasi yang palsu? Kita harus mulai dengan:
a. Buah Roh Kesabaran dapat menahan keputusan sampai bukti-bukti yang diperlukan sudah cukup (Galatia 5:22)
b. Kasih adalah jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah sampai fakta pembuktiannya ternyata berbeda (1 Korintus 13:6-7)
c. Iman yang mempercayakan situasi pada keadilan Tuhan, dimana Tuhan yang mahatahu berjanji untuk selalu bersikap adil kepada semua (1 Petrus 1:17).
d. Semangat kita untuk melindungi orang lain dengan menasehati orang-orang yang menuduh sembarangan untuk menahan emosinya sampai semua fakta terkumpul (1 Korintus 13:4)
e. Keterbukaan untuk langsung mencari (jika diperlukan) sumber dari semua yang tersangkut untuk memperjelas bukti (Matius 18:15).
2. PENIPUAN
Kita cenderung untuk menyamakan fakta dengan kebenaran, padahal kita tahu seringkali fakta bisa diatur atau direkayasa untuk menjadi “kebenaran”. Dahsyatnya suatu penipuan terjadi di Kejadian 3:1-6 dimana setan tidak hanya mengontrol pikiran Hawa, tetapi juga menyebabkan Adam jatuh ke dalam dosa, dan menjadikan semua manusia berdosa (Roma 5:12). Taktik Setan dimulai dengan pertanyaan: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” (Kejadian 3:1). Seketika itu Setan mengatakan suatu informasi yang memang benar. Tetapi kata-kata Setan berikutnya memaparkan sepertinya betapa otoriter dan sangat pelitnya Tuhan. Bagi Hawa, yang setelah dipengaruhi perkataan Setan, ia mulai merasa bahwa melayani Tuhan sepertinya adalah perbudakan dan menyimpulkaan bahwa Tuhan menghalanginya memiliki kepenuhan hidup yang lebih baik.
Sebenarnya Tuhan mengatakan: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kejadian 2:16-17). Kalau kita merenungi apa arti sebenarnya perkataan Tuhan ini, maka kita bisa merasakan kasih Tuhan yang begitu besar. Tuhan menyuruh menikmati semua hasil pohon yang ada di Eden, tetapi hanya satu pohon saja yang tidak boleh kita makan buahnya—jadi, Tuhan itu sebenarnya sangat pemberi dan penuh kasih.
Setan memutarbalikan kebenaran perkataan Tuhan sedemikian rupa sehingga Hawa lebih berpikir bahwa sebenarnya Tuhan tidak ingin mereka lebih baik. Setan membelokkan arti sebenarnya perkataan Tuhan untuk bisa mendapat perhatian Hawa dan tentunya, semua keturunannya: seluruh manusia yang pernah lahir di muka bumi ini. Dalam FirmanNya, Tuhan mengatakan hal seperti ini adalah tipu daya atau Kelicikan atau PENIPUAN (Kejadian 3:23 dan 2 Korintus 11:3). Setan menemukan bahwa ini adalah cara yang paling efektif untuk memperdaya semua manusia.
Penipuan telah menjadi alat atau cara yang banyak dipakai untuk memanipulasi, menyelamatkan kepentingan diri sendiri dan melindungi diri sendiri. Penipuan telah banyak menjadi “fakta” dalam kehidupan banyak orang di dunia ini misalnya:
a. Banyak jemaat gereja yang masih hidup dalam dosa dan berpura-pura saleh dalam gereja atau perkumpulan jemaat.
b. Perilaku pebisnis sesungguhnya banyak diungkapkan atau diterangkan dalam tulisan halus atau footnote yang biasanya dilewati atau tidak dibaca oleh pembeli pada waktu pembeli menandatangani kontrak.
c. Banyak pendeta yang dengan sengaja menanipulasi Firman Tuhan untuk kepentingan pribadi.
d. Para ahli atau pakar ilmu pengetahuan banyak menggunakan data statistik untuk menguatkan sisi lemah penemuan mereka.
Penipuan adalah kenyataan yang lazim diterima orang pada umumnya. Sesungguhnya penipuan adalah perusak kepercayaan antara hubungan sesama manusia. Amsal berkata: “Roti hasil tipuan sedap rasanya, tetapi kemudian mulutnya penuh dengan kerikil (Amsal 20:17)”.  Tipu daya ada di dalam hati orang yang merencanakan kejahatan (Amsal 12:20)”.
Memperdayai dan Penipuan merusak dan memutarbalikan kebenaran. Di lain sisi, kebohongan adalah memperkatakan fakta yang bukan sebenarnya.
3. DUSTA
Dusta adalah dasar dari semua strategi Setan untuk menarik perhatian manusia. Dalam Kejadian pasal 3, Setan bukan hanya menipu Hawa tentang kebaikan Tuhan, tetapi ia juga berdusta tentang Firman Tuhan. Setan berkata kepada Hawa, “Sekali-kali kamu tidak akan mati!” (Kejadian 3:4). Ini adalah perkataan yang jelas-jelas tidak benar. Tuhan mengatakan di Kejadian 2:17: “… pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati”. Berdusta adalah pusat dari segala usaha Setan dalam mempengaruhi manusia.
Tidaklah mengejutkan kalau memutarbalikkan kebenaran masih tetap menjadi metode utama Setan dalam sistem operasinya sampai hari ini. Setan telah menyelimuti budaya kita dengan dusta-dustanya terutama tentang berkurangnya kesadaran manusia tentang konsekwensi dari perbuatan dosa. Sistem Setan mengatakan bahwa materi dan kekayaan bisa membuat kita bahagia. Setan berdusta tentang hal-hal umum misalnya: Kalau Tuhan itu baik, mengapa Tuhan mengijinkan orang tuamu bercerai? Atau Mengapa begitu banyak penderitaan di dunia ini?
Dusta-dusta Setan sangat banyak, beberapa diantaranya:
a. Berbuatlah sebaik mungkin, maka engkau akan masuk ke surga.
b. Keberadaan manusia adalah hasil dari proses evolusi.
c. Keberhasilan diukur dengan materi.
d. Kebebasan mengizinkan kita untuk melakukan apapun yang kita mau.
Dusta adalah kekuatan dari sistem Setan. Ia tidak hanya berdusta, tetapi ia juga mengingini kita untuk menjadi seperti dia. Pada waktu kita berdusta dan mulai menyukainya, maka kita hidup seperti Setan dan jauh dari Tuhan.
Ketidakbenaran adalah bahasa umum dalam sistem dunia sekarang ini. Yakobus memperingati kita untuk tidak bersahabat dengan dunia karena bisa merusak hubungan kita dengan Tuhan. Barang siapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah. (Yakobus 4:4)
Dusta adalah bagian dari masa lalu kita sebelum kita bertobat dan percaya.  Dusta adalah buah dari kedagingan kita yang sudah seharusnya kita tinggalkan seiring dengan bertumbuhnya iman kerohanian kita. Kolose 3:9 berkata: “Janganlah kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambal khaliknya.”
Jadi mengapa kita masih suka berdusta? Karena Dusta adalah cara yang paling mudah dan cepat untuk mendapatkan keuntungan, keamanan dan kepentingan diri sendiri, sebagai contoh:
a. Kita berdusta untuk mendapat perhatian orang lain dan membuat mereka lebih menghargai kita.
b. Kita berdusta untuk menjadi lebih kaya materi atau bisa dipilih untuk menjadi seorang penguasa.
c. Kita berdusta untuk melindungi nama baik kita.
d. Kita berdusta untuk bebas dari hukuman karena kesalahan kita.
Kebanyakan dusta-dusta sangat berhubungan dengan kepuasan diri-sendiri. Dusta juga telah menjadi cara yang umum untuk membuat orang tersenyum dalam setiap hubungan sosial.
Terus terang saja, memang terkadang susah untuk mempraktekan kejujuran. Bagaimana jika anda dihadapi untuk berpendapat tentang seorang bayi yang baru lahir, kemerah-merahan dan keriput di rumah bersalin? Bagaimana jika anda ditanya soal model dasi atau baju atau topi yang baru? Dalam kasus-kasus seperti ini terkadang kita menggunakan sedikit dusta (ketidak-benaran). Tetapi kita perlu ingat bahwa sedikit atau banyak, dusta tetaplah dusta.
Firman Tuhan juga tidak mengatakan bahwa kita harus meng-expresikan kebenaran secara blak-blakan. Firman Tuhan memerintahkan kita untuk mengatakan kebenaran dalam kasih (Efesus 4:15). Kebenaran harus disampaikan dengan rendah hati, lemah-lembut, pengertian, dan rasa hormat. Tidaklah benar untuk memuliakan Tuhan dengan membicarakan kebenaran di mana di sisi lain terjadi perpecahan atau ketidakpercayaan pendengar kita yang bisa menyebabkan mereka menjauhkan diri dari kebenaran hanya karena kita tidak sensitif terhadap kebutuhan iman mereka. Artinya jangan sampai kita menjadi batu sandungan bagi mereka yang belum bertobat dan percaya hanya karena ketidaksabaran kita untuk ber-empathy dengan keaadaan mereka.
Kita harus selalu berdoa untuk berhikmat sebelum berbicara dan seharusnyalah kita melatih diri kita untuk selalu bijaksana mengetahui situasi yang sebenarnya pada waktu kita mengatakan kebenaran Firman Tuhan (Yakobus 1:5).
Sebagai contoh dari pertanyaan tentang bayi yang baru lahir, kita bisa berkata bahwa semua bayi adalah sangat berharga di mata Tuhan (walaupun kenyataannya kita tidak suka bayi atau rupa bayi itu sendiri). Jawaban tentang baju, topi atau dasi baru bisa saja kita utamakan warna, design atau style-nya, tetapi jangan berkomentar tentang orang yang memakainya.
Amsal 15:23 berkata: “Seseorang bersukacita karena jawaban yang diberikannya, dan alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya”. Kolose 4:6 berkata: “Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawaban kepada setiap orang.”
4. SAKSI PALSU
Satu lagi dosa yang berlawanan dengan kebenaran adalah mengucapkan kesaksian palsu. Kebanyakan saksi-saksi palsu dimunculkan dalam sebuah perkara hanya untuk melemahkan lawan dan untuk keuntungan diri sendiri. Dalam usahanya untuk merebut sebuah kebun Raja Ahab: Iezebel memakai dua saksi palsu untuk berbohong mengenai Naboth: pemilik kebun tersebut. Sebagai akibatnya, seorang yang tidak bersalah akhirnya harus ditimpuki batu sampai mati. Akhirnya, Raja Ahab melalui kesaksian palsu dari Jezebel berhasil mendapatkan kebun taman tersebut ( 1Raja-raja 21:1-16).
Pada proses penyaliban Yesus, Ahli taurat membawa 2 saksi palsu untuk bersaksi terhadap Tuhan Yesus (Matius 26:60-61). Dosa perkataan-perkataan dusta dari para saksi palsu sangat ditentang Tuhan. Sesungguhnya, inilah yang menjadi dasar mengapa Allah menuliskan larangan bersaksi dusta dalam sepuluh perintah Tuhan (Keluaran 20:16).
Dosa saksi dusta ini  sangat melukai seseorang, terkadang menyebabkan luka dalam yang tak terobati, bisa juga menghancurkan reputasi dan keluarga korban. Dosa ini berasal dari lidah kita. Porsi lidah yang kecil dibandingkan dengan ukuran tubuh ternyata bisa membunuh Naboth dan bisa pula menyalibkan Kristus. Jangan terkejut jika Amsal 19:5 berkata: “Seorang saksi palsu tidak akan luput dari hukuman, dan barangsiapa yang menyemburkan kebohongan tidak akan terhindar.
HIDUPLAH DALAM KEBENARAN (Firman Tuhan)
Kebohongan, Penipuan, Dusta dan Kesaksian yang palsu adalah semua cara yang digunakan Setan dan malaikat-malaikat pengikutnya untuk menghalangi kemulaian  Tuhan dalam hidup kita. Dengan cara-cara inilah Setan menyesatkan dan menarik kita untuk masuk dalam jebakannya yang penuh dengan ketidakbenaran atau kepalsuan.
Ketidakbenaran atau kepalsuan adalah dosa yang sangat sering dipakai oleh Setan. Apakah itu menyembunyikan perselingkuhan atau menyetujui kebohongan, atau berakal bulus untuk melakukan penipuan yang tujuannya adalah kepentingan pribadi atau mengatakan suatu kesaksian palsu yang bersifat sangat egois. Menyepelekan kebenaran sama dengan mendukung, dan melestarikan dosa tanpa memikirkan konsekwensinya. Bisakah anda memikirkan satu dosa saja yang tidak berawal dari penyelewengan nilai-nilai kebenaran Firman Tuhan? Tentu saja tidak, karena penyelewengan atau pemalsuan nilai-nilai kebenaran adalah dasar dan sistem dari Setan dan pengikutnya.
Oliver Wendell pernah berkata: “Dosa memang mempunyai banyak cara, tetapi dusta adalah sebuah kantong besar yang berisi semua macam dosa.” Tinggalkanlah KEPALSUAN dan hiduplah dalam KEBENARAN FIRMAN TUHAN maka anda akan mengetahui dengan jelas dan pasti rencana Tuhan yang indah dalam hidup anda.
Judul Asli: Why Tell the Truth? Diterjemahkan Oleh Hendra Wijaya, MBA.
Josep Stowell adalah president of Moody Bible Institute, salah satu pembicara terkemuka dan penulis buku-buku rohani terlaris yang banyak memenangkan penghargaan. Ia juga melayani di RBC (Radio Bible Class) Ministries di Grand Rapids, Amerika serikat.

Mengapa Ada Kejahatan Di Dunia Ini ?





By Dr. Norman Geisler

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan oleh mereka yang menolak adanya Tuhan (atheis) adalah: “Jika Tuhan itu memang ada, mengapa dunia ini penuh dengan kejahatan? Bukankah Tuhan yang baik akan menghalangi terjadinya kejahatan, jika memang Tuhan ada? Ironinya, pertanyaan yang sama juga diajukan oleh “orang-orang Kristen.” Mengapa Tuhan mengijinkan kejahatan, penderitaan, kerusuhan, kekacauan, dan persoalan? Bukankah seharusnya Tuhan yang mahabaik, mahakudus, dan mahakasih melakukan sesuatu utk mencegah kejahatan, paling tidak bagi anak-anak Tuhan. Anda sering mendengar pertanyaan-pertanyaan di atas?

Apa Kejahatan Itu?


Apakah kejahatan itu? Acap kali kita mengidentikkan kejahatan dengan tindakan-tindakan jahat (pembunuhan, pencurian, fitnah, penipuan, pornograpi, atau penyakit mematikan, dll). Tetapi apa yang membuat semua itu jahat? Beberapa orang berkata bahwa kejahatan adalah zat yang menguasai benda tertentu dan membuat benda itu menjadi buruk (seperti virus yang menginfeksi hewan) atau bahwa kejahatan adalah kekuatan lawan di dunia.



Kejahatan adalah kehilangan sesuatu. Jika kebaikan yang seharusnya ada di sana hilang dari sesuatu, itu adalah kejahatan. Jika sesorang kehilangan kemampuan untuk melihat, itu adalah kejahatan. Kejahatan adalah hilangnya sesuatu yang seharusnya ada di sana.

Dari Mana Kejahatan Itu Berasal?

Salah satu hal yang membuat mansuia sempurna secara moral adalah kebebasan. Kita memiliki pilihan yang nyata tentang apa yang kita lakukan. Allah menciptakan kita sedemikian, Ia juga mengizinkan adanya kemungkinan munculnya kejahatan. Bebas berarti kita harus memiliki bukan hanya kesempatan untuk memilih yang baik, melainkan juga kemampuan untuk memilih yang jahat. Ketidaksempurnaan muncul melalui penyalahgunaan kesempurnaan moral kita sebagai makhluk yang bebas.

Demikian juga dengan Iblis, malaikat yang dikutuk Allah. Allah membuat Iblis sebagai makhluk yang paling indah di antara semua ciptaan dengan kesempurnaan kehendak bebas. Dengan kehendak bebas yang Tuhan berikan kepadanya, Iblis membrontak terhadap Allah, dan itu menjadi dosa yang pertama dan pola untuk semua dosa berikutnya.

Mendefenisikan Kehendak Bebas

Kehendak bebas adalah kemampuan untuk memutuskan di antara beberapa alternative atau pilihan bebas di antara dua atau lebih keinginan. Kehendak bebas berarti kemampuan untuk membuat keputusan tanpa dipaksa di antara dua atau lebih pilihan. Kehendak bebas bukan terletak pada pilihan yang tidak terbatas, melainkan pada pilihan yang tidak terkekang di antara pilihan apa pun yang tersedia. Selama pilihan itu berasal dari orang itu dan bukan kekuatan dari luar, keputusan itu dibuat dengan kehendak bebas.

Mengapa Kejahatan Tidak Bisa Dihentikan?

Mengapa Allah tidak melakukan sesuatu terhadap kejahatan? Jika Ia bisa dan akan melakukan sesuatu, mengapa kita masih mengalami kejahatan? Mengapa kejahatan tetap ada? Dan bahkan tampaknya kejahatan tidak akan berkurang!

Pertama, kejahatan tidak bisa dihancurkan tanpa menghancurkan kebebasan. Makhluk yang bebas adalah penyebab kejahatan, dan kekebasan diberikan kepada kita supaya kita bisa mengasihi. Sebab itu menghancurkan kejahatan sesungguhnya adalah kejahatan. Jadi, kejahatan bisa dikalahkan, bukan dihancurkan. Kedua, hanya karena kejahatan tidak dihancurkan saat ini tidak berarti bahwa kejahatan tidak akan pernah dihancurkan.

Apakah Tujuan Kejahatan? Mengapa Tuhan mengijinkan adanya kejahatan di dunia ini?

Pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran orang yang menderita adalah “MENGAPA”? Mengapa saya diperlakukan tidak adil? Mengapa gereja saya dibakar, Mengapa umat Tuhan dianiaya? Mengapa? Sayangnya, kita tidak selalu bisa memberikan jawaban yang memuaskan bagi jiwa orang yang terluka dan membuat penderitaan mereka masuk akal. Tetapi bagi orang-orang yang menggunakan ini sebagai dalih untuk menyangkal keberadaan atau kebaikan Allah, kita bisa memberikan jawaban. Argumen mereka adalah seperti ini:
Tidak ada tujuan yang baik bagi kebanyakan penderitaan
Allah yang mahabaik pasti punya rencana yang indah untuk segala sesuatu
Jadi, pasti tidak bisa ada Allah yang mahabaik.

Kita bisa menangani problem ini dengan dua cara. Pertama, kita perlu membuat perbedaan. Ada perbedaan antara pengetahuan kita tentang tujuan kejahatan dan Allah yang memiliki rencana untuk itu. Sekalipun kita tidak mengetahui semua rencana Allah, ia mungkin masih memiliki alasan yang baik dengan mengizinkan terjadinya kejahatan dalam hidup kita. Jadi kita tidak bisa menyimpulkan bahwa tidak ada rencana yang baik untuk sesuatu hanya karena kita tidak tahu apa rencana itu.

Selain itu, kita tahu beberapa rencana Allah atas kejahatan. Misalnya, kita tahu bahwa Allah kadang-kadang menggunakan kejahatan untuk memperingatkan kita akan kejahatan yang lebih besar. Penderitaan kecil untuk pertama kali itu diizinkan untuk menghindari bahaya yang lebih besar pada waktu kemudian. Meskipun tampaknya seperti harga yang mahal yang harus dibayar, beberapa kejahatan membantu mendatangkan kebaikan yang lebih besar.

Alkitab memberikan beberapa contoh tentang hal ini dalam diri orang-orang seperti Yusuf, Ayub dan Simson. Mereka masing- masing menjalani penderitaan yang nyata. Bagaimana bangsa Israel bertahan hidup menghadapi bencana kelaparan dan mengungsi supaya bisa berkembang jika Yusuf tidak dijual sebagai budak oleh saudara-saudaranya dan dipenjarakan dengan tidak adil? Apakah Ayub mampu mencapai pertumbuhan rohani yang pesat jika ia tidak terlebih dahulu menderita?

Yusuf memberitahukan saudara-saudaranya “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah mereka-rekakannya untuk kebaikan” (Kej 50:20). Akhirnya, mengizinkan terjadinya kejahatan sesungguhnya membantu mengalahkan kejahatan.

Apakah Harus Ada Begitu Banyak Kejahatan?

Tentu saja tidak perlu ada kejahatan yang begitu besar untuk menggenapi rencana Allah, Tidak bisakah ada sesu Tidakkah akan lebih baik jika orang yang masuk ke neraka berkurang satu? Karena kedua pertanyaan ini memiliki jawaban yang sama, mari kita membahasnya dengan kasus yang ekstrim.
Kebaikan terbesar adalah menyelamatkan semua manusia
Bahkan satu orang yang masuk ke neraka akan mengurangi kebaikan yang terbesar.
Sebab itu, Allah tidak mungkin mengirimkan manusia ke neraka.

Untuk menjawab keberatan ini, kita kembali pada topik kehendak bebas. Memang benar bahwa Allah menghendaki semua orang untuk diselamatkan, tetapi itu berarti bahwa mereka harus memilih untuk mengasihi Dia dan percaya kepadaNya.

Nah, Allah tidak bisa memaksa seorang pun untuk mengasihi Dia. Kasih yang dipaksakan bertentangan dengan sifatnya. Kasih itu harus bebas. Itu adalah pilihan bebas. Jadi meskipun Allah menghendaki, beberapa orang memilih untuk tidak mengasihi Dia. Semua orang yang masuk neraka mengalami itu karena pilihan bebas mereka sendiri.

Tidakkah Allah Bisa Membuat Dunia Tanpa Kejahatan?

Keberatan terakhir yang perlu kita bahas adalah bahwa Allah seharusnya bisa membuat pekerjaan yang lebih baik ketika merancang dunia pada mulanya. Ia seharusnya bisa menciptakan dunia yang tidak mengandung kejahatan. Inilah argumennya:


  1. Allah mengetahui segala sesuatu
  2. Jadi Allah tahu kejahatan akan terjadi ketika Ia menciptakan dunia.
  3. Allah memiliki kemungkinan non-kejahatan lainnya. Allah bisas saja:
  4.  
  5.  
  6.  
  7.  
  8.  
  9.   Tidak menciptakan apa-apaMenciptakan dunia tanpa makhluk yang bebas.Menciptakan makhluk yang bebas tidak akan berbuat dosa.Menciptakan makhluk yang bebas yang akan berbuat dosa tetapi semua akan diselamatkan pada akhirnya. 
  10. Sebab itu, Allah bisa menciptakan dunia yang tidak melibatkan kejahatan maupun neraka.



Tampaknya seperti argument lagu yang merdu, karena Allah memiliki semua opsi itu. Pertanyaannya adalah, “Apakah semua pilihan itu sungguh-sunnguh lebih baik dari pada dunia yang kita miliki? Mari kita memeriksa satu persatu.

Allah Bisa Tidak Menciptakan Apa-Apa

Ini menyiratkan bahwa lebih baik tidak apa-apa dari pada kejahatan muncul. Tetapi itu mengabaikan fakta bahwa pada mulanya benda-benda diciptakan dalam keadaan baik dan bagi mereka sekadar ada itu sudah baik. Kebaikan itu tidak akan ada jika Allah tidak mencipta.

Allah Bisa Menciptakan Dunia Tanpa Makhluk Yang Bebas

Allah seharusnya bisa memenuhi bumi dengan segala binatang atau robot yang hanya melakukan kehendakNya. Tetapi pilihan ini menghadapi problem yang sama seperti yang petama: pilihan non moral. Artinya dunia non moral tidak bisa menjadi dunia yang baik secara moral. Sekali lagi, kita tidak bisa membandingkan apa yang non baik dengan yang jelek atau yang lebih ringan dari pada pemerkosaaan atau pembunuhan? Itu akan membuat dunia mejadi lebih baik. Dan tentu saja, teori penderitaan yang ringan bisa diperluas sampai tidak ada kejahatan sama sekali. Ini bahkan bisa diperluas sampai kasus yang ekstrim: bagaimana dengan neraka?

Allah Seharusnya Bisa Menciptakan Makluk Yang Bebas Yang Tidak Akan Berdosa

Secara logis ada kemungkinan untuk memiliki kehendak bebas dan tidak berdosa. Adam melakukan hal itu sebelum ia jatuh dalam dosa. Yesus melakukan hal itu sepanjang hidupNya. (Ibrani 4:15). Alkitab mengatakan bahwa suatu hari nanti akan ada dunia di surga dimana setiap orang memiliki kehendak bebas tetapi tidak ada dosa lagi. (Wahyu 21:8, 27). Bagaimana Allah bisa menjamin bahwa mereka tidak pernah berdosa? Salah satu caranya adalah dengan menghalangi kebebasan mereka.

Di luar ini semua, dunia yang bebas tanpa kejahatan sesungguhnya secara moral lebih buruk daripada dunia saat ini. Dalam dunia ini, orang ditantang untuk melakukan hal yang baik dan mulia dan untuk mengatasi kecenderungan untuk berbuat jahat. Itu tidak akan terjadi dalam dunia tanpa kejahatan.

Allah Seharusnya Bisa Menciptakan Makhluk Yang Bebas Yang Akan Berdosa Tetapi Semua Akan Diselamatkan Pada Akhirnya.

Pilihan ini membuat kesalahan yang sama seperti sebelumnya dengan menyimpulkan bahwa Allah bisa memanipulasi kebebasan manusia untuk memilih kebaikan. Pandangan semacam itu menyiratkan bahwa Allah akan menyelamatkan orang-orang tidak perduli apa yang harus ia kerjakan. Tetapi kita harus mengingat bahwa ia tidak bisa memaksa mereka untuk mengasihi Dia. Kasih yang dipaksakan adalah pemerkosaaan dan Allah bukanlah pemerkosa ilahi. Ia tidak akan melakukan apa pun untuk memaksa keputusan mereka. Allah tidak akan menyelamatkan manusia dengan cara apa pun. Ia menghormati kebebasan mereka dan setuju dengan pilihan mereka.

Jadi Mengapa Allah Memilih Dunia Ini?

Apakah ini adalah dunia yang terbaik yang bisa diciptakan Allah? Ini mungkin bukan merupakan yang terbaik dari semua dunia yang mungkin ada, tetapi ini merupakan cara yang terbaik bagi dunia yang terbaik. Jika Allah harus mempertahankan kebebasan dan mengalahkan kejahatan, ini merupakan cara terbaik untuk melakukan hal itu. Kebebasana tetap dipertahankan dalam arti setiap orang membuat pilihan bebasnya sendiri untuk menentukan nasibnya.

Kejahatan diatasi dalam arti, sekali seseorang menolak Allah dipisahkan dari yang lain, keputusan semuanya dijadikan permanen. Orang yang memilih Allah akan diteguhkan di dalamnya, dan dosa akan berhenti. Orang yang menolak Allah akan disingkirkandan tidak bisa merusak dunia yang sempurna yang akan datang.

Tujuan akhir dunia yang sempurna dengan makhluk yang bebas akan tercapai, tetapi cara untuk sampai di sana menuntut agar orang yang menyalahgunakan kebebasan mereka disingkirkan. Allah telah menjamin kita bahwa sebanyak mungkin orang akan diselamatkan yaitu semua orang yang akan percaya (Yakobus 6:37) dan Allah telah menyediakan keselamatan bagi semua orang dalam kristus (1 Yoh. 2:2). Ia menunggu dengan sabar, dan menghendaki semua orang untuk diselamatkan (2 Pet. 3:9) tetapi, seperti Yesus menangisi Yerusalem, berkali-kali aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya dibawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau (Matius 23:37). Seperti dicatat seorang ateis Jean Paul Sartre dalam dramanya No Exit, gerbang neraka dikunci dari dalam oleh kehendak bebas manusia.

By Dr. Norman Geisler

Apologet Kristen terkemuka dan penulis buku terlaris di dunia

Kuasa Dibalik Perkataan Kita






1. Perkataan kita berkuasa karena kita segambar dan serupa dengan Allah

Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang (amsal 16:24)


Perkataan kita memiliki kuasa yang nyata. Allah bahkan berbicara untuk menjadikan semuanya dengan berkata-kata ( berfirman ) di dalam kuasa firman-Nya. Kita adalah bagian gambar dan rupa-Nya karena itulah kita memiliki kuasa dalam perkataan kita. Sebab melalui perkataan kita dapat melakukan melebihi sekedar menyampaikan informasi saja. Manusia adalah satu-satunya ciptaan di planet ini yang memiliki kemampuan berkomunikasi dengan kata-kata. Kondisi ini unik dan merupakan kekuatan yang luar biasa yang dihadiahkan Allah bagi manusia. Perkataan memiliki kuasa untuk menghancurkan atau membangun kembali ( Amsal 12:6 )

2. Perkataan kita memiliki kuasa karena ada dampak

Amsal 12 :18 “Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan.”

Perkataan dapat menolong kita untuk mencapai tujuan kita atau justru membawa kita pada kehancuran yang mengerikan.

Amsal 15:4 Lidah lembut adalah pohon kehidupan, tetapi lidah curang melukai hati.”

Setiap apa yang kita katakan memiliki konsekuensi. Kita dapat membawa sebuah inspirasi dan kebahagiaan kepada yang lainnya melalui ucapan kita atau kesedihan dan luka hati kepada yang lain karena perkataan kita. Oleh sebab itu, kita harus lebih berhati-hati tentang apa yang hendak kita katakan. Jika kita berkata dalam kata-kata yang terburu-buru/ceroboh maka tidak ada nilai yang memcerminkan hal baik yang akan keluar melainkan hasilnya adalah efek yang negative. Seringkali kita berkata salah mengenai suatu hal karena kita tidak memikirkan sejenak apa yang hendak kita ucapkan.

3. Perkataan kita memiliki kuasa karena dapat mengubah keadaan

Amsal 17:27 “Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin”.

Jika kita tidak berkata-kata dengan hati-hati seorang kepada yang lain, akan mengakibatkan kita tidak akan berkomunikasi dengan mereka ke depannya. Untuk menambah nilai komunikasi dalam percakapan kita kita dapat menambah sedikit hal-hal ringan seperti humor dan tawa. Amsal 17:22 “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.”

Adalah paling penting untuk memilih subject dari percakapan kita menurut apa yang hendak kita bicarakan seperti waktu dan tempat yang berbeda dalam percakapan. Kata-kata adalah hal penting karena kita akan mempertanggungjawabkannya dihadapan Tuhan. ( Matius 12:36-37 ) inilah satu hal memngapa kita harus berpikir dua kali sebelum mengatakan apapun.!

Paulus menulis untuk tidak mengatakan hal-hal yang tidak sehat yang keluar dari mulut kita tetapi untuk menolong dalam membangun satu dengan lainnya sesuai dengan kebutuhan juga sesuai apa yang mereka dengar ( Efesus 4:29) Paulus juga memperingatkan pentingnya kita saling memberkati dengan ucapan kita.

Tuhan Yesus mengingatkan kita bahwa perkataan kita adalah luapan dari hati ( Mat 12:34-35). Perkataan kita harusnya menghormati Tuhan., dan mencerminkan hubungan kita dengan-Nya. Dalam Yakobus 3, dengan jelas dituliskan bawah lidah kita bagaikan api , kata-kata jahat dan penuh dengan bisa racun (Yak 3:6)

Dalam kita, ada kata-kata yang merusak dan itu bisa dipakai oleh iblis untuk menjatuhkan kita dan orang lain di sekeliling kita. Olrh sebab itu sangat penting sekali untuk tetap berhati-hati dalam mengatakan sesuatu dan adalah langkah yang baik sebelemu mengatakan sesuatu menjadi pendengar yang baik terlebih dahulu.

Marilah kita memilih kata-kata kita dengan bijak sebab apa yang telah kita ucapkan tidak akan dapat ditarik kembali.

Roma (8:12-14 Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging. Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.

Petrus mengatakan kepada kita untuk selalu mempersiapkan diri dalam memberi jawaban mengenai pengharapan yang kita miliki namun dengan sopan dan lemah lembut.

Pembaca yang terkasih, tidak banyak waktu bagi manusia untuk hidup di planet ini. Kerusakan ini disebabkan karena dosa dan penghakiman Tuhan sebab apa yang telah Ia katakan mengenai manusia yang jatuh ke dalam dosa tidak dapat ditarik kembali.

Namun, kehidupan kekal di surga menanti kita yang berada di dalam Tuhan dan kehidupan kekal di Neraka bagi mereka yang menolak-Nya. Itulah sebabnya, jika engkau memohon pengampunan kepada Kristus supaya dosamu diampuni dan menyerahkan kepada-Nya akan segala keadaanmu maka engkau akan hidup bersama dengan-Nya.